BACAAJA, SEMARANG – Momen ketika bayi tiba-tiba kejang memang bisa bikin jantung serasa jatuh. Tubuh kecil yang biasanya tenang mendadak kaku, bergetar, bahkan matanya terlihat berbeda. Banyak orangtua langsung panik, bingung harus ngapain dulu, dan itu wajar banget.
Kondisi seperti ini sering muncul tanpa aba-aba. Dalam hitungan detik, suasana bisa berubah tegang. Padahal, di saat seperti itulah ketenangan orangtua jadi kunci utama supaya penanganan awal bisa dilakukan dengan benar.
Kejang pada bayi sendiri punya banyak penyebab. Mulai dari demam tinggi, infeksi, sampai gangguan tertentu dalam tubuh. Yang sering terjadi adalah kejang demam, terutama saat suhu tubuh bayi naik drastis di atas 38 derajat.
Meski terlihat menakutkan, sebagian besar kejang pada bayi bisa berhenti dengan sendirinya. Tapi jangan salah, beberapa menit pertama itu krusial banget. Cara orangtua merespons bisa sangat berpengaruh pada keselamatan si kecil.
Makanya, penting buat tahu tanda-tanda awal kejang. Dengan begitu, orangtua bisa langsung sigap tanpa harus menebak-nebak situasi yang sedang terjadi.
Biasanya bayi yang kejang akan menunjukkan respons yang nggak biasa. Saat diajak bicara atau disentuh, reaksinya bisa minim bahkan tidak merespons sama sekali.
Selain itu, tangan bayi sering terlihat mengepal, tubuhnya kaku, dan punggung bisa melengkung. Kondisi ini sering bikin orangtua makin panik karena terlihat tidak seperti biasanya.
Kulit bayi juga bisa terasa panas, kemerahan, dan berkeringat. Kalau kejang dipicu demam, suhu tubuh biasanya memang sedang tinggi-tingginya.
Ada juga tanda lain seperti kedutan di wajah, mata yang menyipit atau berputar ke atas, hingga air liur yang keluar tanpa disadari. Dalam beberapa kasus, bayi bahkan bisa muntah atau kehilangan kontrol buang air.
Begitu melihat tanda-tanda itu, langkah pertama yang harus dilakukan adalah tetap tenang. Kedengarannya klise, tapi ini penting supaya tindakan yang diambil tidak malah membahayakan.
Segera singkirkan benda-benda di sekitar bayi yang bisa melukai. Pastikan area di sekitarnya aman dan bebas dari benda keras atau tajam.
Letakkan bantalan lembut seperti bantal kecil atau handuk gulung di sekitar tubuh bayi. Ini untuk mencegah benturan saat tubuhnya bergerak tanpa kontrol.
Yang sering keliru, banyak orang mencoba menahan tubuh bayi agar tidak bergerak. Padahal, ini justru tidak dianjurkan. Biarkan kejang berlangsung, selama bayi berada di posisi aman.
Hal lain yang harus dihindari adalah memasukkan benda apa pun ke dalam mulut bayi. Ini termasuk sendok atau makanan, karena bisa berisiko menyumbat jalan napas.
Orangtua juga bisa mencoba menenangkan dengan suara lembut. Meski bayi mungkin tidak merespons, suara yang familiar bisa membantu menciptakan suasana lebih stabil.
Setelah kejang berhenti, barulah lakukan langkah lanjutan. Lepaskan pakaian yang terlalu tebal dan bantu menurunkan suhu tubuh bayi secara perlahan jika sebelumnya demam.
Posisikan bayi miring atau dalam posisi pemulihan supaya jalan napas tetap terbuka. Ini penting terutama jika bayi terlihat lemas atau belum sepenuhnya sadar.
Kalau kejang berlangsung lama atau tidak kunjung berhenti, jangan tunda untuk membawa bayi ke fasilitas kesehatan. Penanganan medis tetap diperlukan untuk memastikan kondisi aman.
Satu hal yang sering dilupakan, catat durasi kejang yang terjadi. Informasi ini sangat membantu dokter dalam menentukan langkah pemeriksaan selanjutnya.
Dari sisi penyebab, kejang bisa dipicu infeksi virus maupun bakteri. Beberapa kondisi seperti radang otak atau meningitis juga bisa memicu kejang pada bayi.
Selain itu, gangguan seperti hidrosefalus atau bahkan kondisi neurologis seperti cerebral palsy juga dapat berkaitan dengan kejang. Meski begitu, tidak semua kejang berarti kondisi berat, jadi tetap perlu pemeriksaan lebih lanjut.
Pada akhirnya, memahami langkah pertolongan pertama bisa bikin orangtua lebih siap menghadapi situasi darurat ini. Bukan sekadar mengurangi panik, tapi juga memberi perlindungan terbaik untuk si kecil di momen yang paling genting. (*)

