BACAAJA, YOGYAKARTA – Dari dapur sederhana di desa, ide segar justru muncul tanpa banyak ribet. Limbah kulit bawang merah yang biasanya cuma numpuk di tempat sampah, kini berubah jadi sesuatu yang lebih berguna. Bukan sekadar eksperimen kampus, tapi langsung nyentuh kebutuhan warga sehari-hari.
Cerita ini datang dari Desa Menden, Kecamatan Kebonarum, Klaten, tempat mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta menjalankan program Pembelajaran Luar Kampus (PLK). Mereka nggak cuma datang buat formalitas, tapi benar-benar bawa solusi yang bisa langsung dipakai warga.
Lewat tangan kreatif para mahasiswa, limbah dapur berupa kulit bawang merah diolah jadi pupuk organik cair atau POC. Ide ini lahir dari kondisi nyata di lapangan, di mana limbah rumah tangga sering dianggap nggak punya nilai dan langsung dibuang begitu saja.
Padahal, di balik kulit bawang itu, ada potensi yang jarang disadari. Dengan pendekatan yang sederhana tapi berbasis ilmu, mahasiswa mencoba mengubah pola pikir warga tentang sampah. Bukan lagi sesuatu yang harus disingkirkan, tapi bisa jadi sumber manfaat baru.
Salah satu mahasiswa yang terlibat, Adita Ananta Putri dari Program Studi Kimia FMIPA UNY, menjelaskan kalau kulit bawang merah ternyata punya kandungan yang bagus buat tanaman. “Kulit bawang merah mengandung zat yang bisa merangsang pertumbuhan akar dan bikin tanaman lebih subur,” ujarnya.
Menurutnya, penggunaan pupuk dari bahan alami seperti ini juga bisa jadi alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia. Selain lebih ramah lingkungan, biaya yang dikeluarkan warga juga bisa lebih hemat.
Proses pembuatannya pun nggak ribet. Warga hanya perlu menyiapkan kulit bawang merah, air cucian beras pertama, dan gula jawa. Semua bahan itu kemudian dicampur dan difermentasi dalam wadah tertutup selama kurang lebih satu minggu.
Setelah proses fermentasi selesai, larutan akan menghasilkan aroma khas yang menandakan pupuk sudah siap digunakan. Hasilnya bisa langsung diaplikasikan ke tanaman, baik sayuran maupun tanaman hias yang ada di sekitar rumah.
Ketua tim PLK Desa Menden, Fauzan Nurul Huda, menyebut program ini bukan cuma soal bikin produk. Lebih dari itu, ada misi edukasi yang ingin dibangun di tengah masyarakat.
“Kami ingin masyarakat lebih peduli sama pengelolaan limbah rumah tangga. Dengan cara sederhana ini, sampah bisa punya nilai dan bahkan membantu kebutuhan pertanian,” jelasnya.
Respons warga pun terbilang positif. Saat sosialisasi digelar di balai desa, antusiasme langsung terasa. Banyak warga yang penasaran dan ikut mencoba proses pembuatannya secara langsung.
Salah satu warga, Sri Yuliani, mengaku baru tahu kalau kulit bawang ternyata bisa dimanfaatkan. “Biasanya cuma dibuang, ternyata bisa jadi pupuk. Ini mau saya coba di rumah,” katanya dengan semangat.
Program ini juga melibatkan sepuluh mahasiswa dari berbagai latar belakang keilmuan. Kolaborasi ini jadi kekuatan tersendiri karena masing-masing membawa sudut pandang yang berbeda dalam menyelesaikan masalah di lapangan.
Mulai dari Alia Lailatul Udhiyah hingga Bayu Rizqianto Febri Saputra, semuanya ikut berperan dalam memastikan program berjalan lancar. Kerja tim ini jadi bukti kalau kolaborasi lintas disiplin bisa menghasilkan solusi yang lebih matang.
Lebih jauh, inovasi ini juga sejalan dengan konsep pembangunan berkelanjutan. Pengolahan limbah organik jadi pupuk membantu mengurangi sampah sekaligus menjaga keseimbangan lingkungan.
Langkah kecil seperti ini ternyata punya dampak besar. Selain mendukung pengurangan limbah, penggunaan pupuk organik juga membantu menjaga kesuburan tanah dalam jangka panjang.
Di sisi lain, warga juga mulai terbiasa dengan pola hidup yang lebih ramah lingkungan. Dari yang awalnya buang begitu saja, sekarang mulai memilah dan memanfaatkan limbah dapur.
Kegiatan sosialisasi yang digelar pada Minggu (3/5/2026) di Balai Desa Menden dihadiri lebih dari 50 warga. Suasananya santai tapi penuh rasa ingin tahu, karena materi yang dibawakan langsung bisa dipraktikkan.
Program ini jadi contoh nyata kalau ilmu dari kampus nggak harus berhenti di ruang kelas. Ketika dibawa ke masyarakat, justru bisa berkembang dan memberi dampak yang lebih luas.
Ke depan, mahasiswa berharap inovasi ini bisa diterapkan di desa lain. Konsepnya sederhana, bahan mudah didapat, dan manfaatnya jelas terasa.
Dengan pendekatan seperti ini, program PLK bukan cuma jadi kewajiban akademik, tapi berubah jadi gerakan kecil yang punya arti besar. Dari kulit bawang, lahir harapan baru untuk lingkungan yang lebih sehat dan berkelanjutan. (*)

