BACAAJA, JAKARTA – Wacana soal “Perang Dunia III” kembali mengemuka. Bukan dalam bentuk perang terbuka seperti era Perang Dunia II, melainkan konflik yang lebih senyap, tersebar, dan multi-dimensi.
Pandangan ini salah satunya disuarakan oleh Dmitry Trenin, peneliti di Institut Ekonomi Dunia dan Hubungan Internasional Rusia sekaligus anggota Dewan Urusan Internasional Rusia (RIAC). Ia menyebut, dunia saat ini sejatinya sudah memasuki fase perang global, hanya saja tidak semua pihak menyadarinya.
“Perang dunia telah dimulai. Hanya saja, tidak semua orang menyadarinya,” ujarnya dalam analisis yang dikutip dari media Rusia.
Bacaaja: Iran Siap Akhiri Perang, Teheran Ajukan Dua Poin Peting sebagai Syarat
Bacaaja: Di Ambang Perang Dunia III, Alarm Atau Manuver Politik? 27 Pemimpin Eropa Rapat Darurat
Menurut Trenin, pola konflik global saat ini telah berubah drastis. Jika dulu identik dengan pertempuran militer langsung, kini perang berlangsung lewat berbagai jalur: ekonomi, informasi, hingga destabilisasi politik dalam negeri.
Ia memetakan awal fase konflik ini secara berbeda untuk tiap negara:
- Rusia sejak 2014
- China sejak 2017
- Iran sejak 2023
Konflik, kata dia, kini mencakup sabotase ekonomi, agitasi sosial, hingga perang narasi yang menyasar opini publik global.
Trenin juga menyinggung keterlibatan negara-negara Barat dalam konflik yang lebih luas. Ia menilai negara anggota NATO seperti Inggris dan Prancis ikut terlibat secara tidak langsung melalui dukungan ke Ukraina.
Dalam pandangannya, Ukraina bukan aktor utama, melainkan bagian dari strategi yang lebih besar.
Barat takut ada kekuatan baru bangkit
Lebih jauh, Trenin menilai konflik ini dipicu oleh kekhawatiran Barat terhadap kebangkitan kekuatan baru seperti Rusia dan China. Ia menyebut pertarungan ini bukan sekadar geopolitik, tapi sudah menyentuh level ideologi dan eksistensi.
“Ini bukan sekadar pertarungan geopolitik, ini perang eksistensial,” tegasnya.
Dalam analisanya, Trenin bahkan mendorong Rusia untuk meninggalkan sikap defensif. Ia menyerukan mobilisasi nasional di berbagai sektor, mulai dari teknologi, ekonomi, hingga demografi.
Tak hanya itu, ia juga membuka kemungkinan langkah ekstrem jika konflik terus meningkat, termasuk opsi serangan preemptif.
Yang jadi sorotan, Trenin menegaskan bahwa perang modern tak lagi punya garis depan yang jelas. Medannya luas: dari militer hingga ruang digital.
Kemenangan, menurutnya, bukan soal merebut wilayah, tapi menggagalkan strategi lawan. Pernyataan ini sekaligus mempertegas satu hal: konflik global hari ini tidak selalu terlihat seperti perang, tapi dampaknya bisa sama, bahkan lebih luas. (*)

