BACAAJA, JAKARTA – Atmosfer menuju turnamen beregu paling bergengsi di dunia bulu tangkis mulai terasa, apalagi setelah PBSI resmi mengumumkan siapa yang bakal memimpin skuad Merah Putih di Thomas Cup dan Uber Cup 2026.
Untuk sektor putra, nama Fajar Alfian kembali dipercaya sebagai kapten. Keputusan ini bukan tanpa alasan, mengingat pengalaman dan peran pentingnya selama hampir satu dekade terakhir di tim nasional.
Fajar bukan sosok baru dalam urusan memimpin tim. Ia sebelumnya sudah pernah mengemban tugas serupa di Sudirman Cup 2023 dan Thomas Cup 2024, menunjukkan kapasitasnya bukan hanya sebagai pemain, tapi juga penggerak tim.
Menariknya, pada Sudirman Cup 2025, Fajar sempat memilih untuk tidak mengambil peran kapten dan memberi ruang kepada Jonatan Christie. Kini, kepercayaan itu kembali datang kepadanya.
Pengalaman Fajar di ajang Thomas Cup memang cukup panjang. Sejak debut pada edisi 2018 di Bangkok, ia selalu menjadi bagian penting dari perjalanan tim Indonesia.
Puncaknya tentu saat Indonesia sukses meraih gelar juara pada 2021 di Aarhus, Denmark, yang sekaligus mengakhiri penantian panjang.
Menariknya, edisi 2026 nanti juga akan digelar di Denmark, tepatnya di Horsens. Banyak yang berharap “tuah” Negeri Skandinavia bisa kembali berpihak kepada Indonesia.
Meski begitu, perjalanan tidak akan mudah. Dalam dua edisi terakhir, Indonesia memang selalu berhasil mencapai final, namun harus puas finis sebagai runner-up.
Status sebagai tim tersukses dengan 15 gelar tetap melekat kuat, unggul atas China yang mengoleksi 11 gelar, namun tekanan untuk kembali juara juga semakin besar.
Di sektor putri, keputusan yang diambil PBSI cukup menarik perhatian. Putri Kusuma Wardani dipercaya menjadi kapten tim Uber.
Penunjukan ini menjadi titik balik penting dalam perjalanan karier Putri, yang sebelumnya sempat tersisih dari skuad pada Uber Cup 2024.
Saat itu, performanya dinilai belum stabil, sehingga posisinya digantikan oleh pemain-pemain muda yang sedang naik daun.
Namun, Putri berhasil bangkit. Dalam waktu relatif singkat, performanya meningkat signifikan hingga kini menembus peringkat enam dunia.
Ia juga kini menyandang status sebagai tunggal putri nomor satu Indonesia, sebuah pencapaian yang tidak datang dengan mudah.
Peran pentingnya mulai terlihat saat Sudirman Cup 2025, ketika ia harus menggantikan Gregoria Mariska Tunjung yang absen karena sakit.
Dalam kondisi tersebut, Putri mampu tampil cukup solid dengan mencatat tiga kemenangan dari empat pertandingan.
Satu-satunya kekalahan datang saat menghadapi An Se-young, yang dikenal sebagai salah satu pemain terbaik dunia saat ini.
Di sisi lain, Putri juga berhasil menumbangkan nama besar seperti Pusarla Venkata Sindhu dan Pornpawee Chochuwong.
Hasil tersebut menjadi bukti bahwa dirinya layak dipercaya sebagai pemimpin tim, bukan hanya dari sisi teknik, tapi juga mental bertanding.
Harapan besar kini tertuju pada tim putri agar bisa mengulang bahkan melampaui pencapaian sebelumnya.
Pada edisi terakhir, tim Uber Indonesia berhasil membuat kejutan dengan melaju hingga final, sebuah hasil yang sempat di luar prediksi banyak pihak.
Dengan komposisi pemain yang ada, peluang untuk kembali bersaing di level atas tetap terbuka lebar.
Di sektor putra, nama-nama seperti Anthony Sinisuka Ginting dan Alwi Farhan juga menjadi bagian penting dari kekuatan tim.
Sementara di ganda, kombinasi pemain senior dan muda diharapkan bisa menciptakan keseimbangan yang solid.
Untuk tim putri, kedalaman skuad juga cukup menjanjikan dengan hadirnya pemain-pemain muda yang mulai menunjukkan perkembangan signifikan.
Perpaduan pengalaman dan semangat baru menjadi modal utama untuk menghadapi persaingan ketat di level dunia.
Kini, semua mata tertuju pada bagaimana para kapten ini mampu menghidupkan semangat tim di lapangan.
Karena di ajang beregu seperti ini, kekuatan bukan hanya soal individu, tapi juga soal kebersamaan dan mental kolektif.
Dan dengan kepemimpinan Fajar serta Putri, harapan Indonesia untuk kembali berjaya di panggung dunia terasa semakin nyata. (*)

