BACAAJA, SURAKARTA- Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi memastikan persediaan pangan di wilayahnya tetap aman meski sejumlah daerah dilanda banjir. Menurutnya, ketahanan pangan Jateng masih kuat karena produksi yang terus surplus, bahkan ikut menopang kebutuhan nasional.
“Kondisi pangan kita surplus, jadi swasembada pangan kita kuat,” ujarnya usai menghadiri acara di Surakarta, Selasa (7/4/2026). Meski begitu, pemerintah tetap pasang skenario antisipasi.
Kalau ada sawah yang terdampak banjir, petani gak dibiarkan nanggung sendiri. Solusinya? Perlindungan lewat asuransi. “Kalau ada sawah terdampak, kita cover lewat asuransi Jamkrida,” tambahnya.
Baca juga: Sawah Ngebut, Lumbung Aman: Jateng 2025 Tembus Target
Data dari Dinas Pertanian dan Peternakan Jateng juga menguatkan klaim ini. Per Maret 2026, neraca beras Jateng masih surplus sekitar 702 ribu ton, angka yang cukup bikin napas lega. Gak cuma beras, komoditas lain seperti daging dan telur juga masih surplus di awal tahun ini. Artinya, kebutuhan masyarakat masih relatif aman.
Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Jateng, Defransisco Dasilva Tavares bilang, tren produksi sejauh ini masih positif. Produksi padi sudah hampir 40 persen dari target tahunan, jagung sekitar 26 persen, dan komoditas lain juga mulai jalan.
Tahap Awal
Di sektor hortikultura, bawang merah dan cabai juga terus diproduksi, meski masih dalam tahap awal capaian target. Sementara di sektor peternakan, produksi telur, daging, dan susu juga menunjukkan progres yang cukup stabil.
Tapi ada satu catatan penting: bukan cuma produksi, distribusi juga harus dijaga. “Yang penting berikutnya distribusi dan stabilitas harga,” kata Frans.
Baca juga: Bulog Jamin Stok Beras di Jateng Aman Hingga Juni 2026
Buat ngejar target, Pemprov Jateng juga sudah menyiapkan berbagai program, mulai dari bantuan benih, alat pertanian modern, sampai perbaikan irigasi. Gak ketinggalan, perlindungan petani juga diperkuat lewat asuransi usaha tani dan subsidi pembiayaan.
Jadi, strategi yang dipakai gak cuma fokus panen banyak, tapi juga memastikan sistem pertanian tetap berkelanjutan.
Di tengah sawah yang kadang kebanjiran dan cuaca yang makin gak bisa ditebak, satu hal masih dijaga: dapur tetap hidup. Karena pada akhirnya, yang bikin panik bukan cuma banjir, tapi kalau nasi di rumah ikut hilang. (tebe)


