Hidar Amaruddin, dosen FIP Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta.
Anak-anak hanya meniru kita. Itu saja. Dan bagian itu yang paling susah kita terima.
Yogyakarta, pertengahan semester. Saya sedang duduk di sudut ruang guru ketika seorang wali kelas masuk dengan wajah yang tampak sudah menyerah bahkan sebelum ia bicara. Guru wali kelas itu baru saja meninggalkan kelas empat.
Ada anak yang menirukan cara bicara temannya yang gagap, dan anak-anak lain tertawa. Anak yang ditiru hanya diam, tangannya menggenggam ujung seragam erat-erat.
Besoknya kursi tempat anak gagap itu kosong tanpa penjelasan. Wali kelas mencatatnya absen tanpa keterangan, lalu melanjutkan pelajaran karena tiga puluh anak lain masih menunggu. Satu kursi kosong tidak cukup berat untuk memperlambat siapa pun.
Saya tidak bisa berhenti memikirkan tangannya. Anak itu tidak menangis. Tangannya menggenggam kain seragam seperti orang yang sedang mencari sesuatu untuk dipegang, dan tidak menemukannya.
Anak-anak bukanlah penemu. Cara merendahkan orang lain mereka dapatkan dari suatu tempat. Percakapan yang sebenarnya tidak ditujukan kepada mereka. Tawa yang pecah di waktu yang tidak seharusnya. Obrolan yang bocor lewat celah-celah pintu, di meja makan, di mobil, di sela-sela telepon yang seharusnya menjadi ruang privat.
Anak pura-pura tidak mendengar, padahal mereka mendengar semuanya, menyimpannya di tempat yang tidak kita duga, lalu suatu hari mengeluarkannya dalam situasi yang tidak kita antisipasi.
Seorang ibu pernah bercerita kepada saya bahwa anaknya tiba-tiba suka menyebut teman sekelasnya “aneh”. Sang ibu heran dari mana kata itu datang. Dua minggu sebelumnya, di depan anak yang sama, sang ibu berbisik kepada suaminya soal tetangga baru yang “kelakuannya aneh”.
Barangkali anak itu tidak mengutip ibunya. Kata itu sudah tersedia di rumahnya sendiri. Pernah diucapkan dengan nada ringan. Seolah-olah tidak ada konsekuensinya.
Guru pun kadang tanpa sadar melakukan hal serupa. Memberi nama pada sesuatu yang seharusnya tidak diberi nama di hadapan banyak mata.
“Yang nakal duduk di sini.”
“Kamu memang selalu begitu.”
Dua kalimat itu memang singkat, tetapi seluruh siswa di kelas menyimpannya sebagai sesuatu “yang lain”. Sebagai pelajaran tentang apa yang boleh dilakukan kepada orang yang sudah diberi label. Hierarki sosial di dalam kelas sering dimulai dari sana, dari mulut orang yang seharusnya menjaga ruang itu tetap aman.
Saya bersama sekelompok anak kelas lima pernah menonton sebuah video yang menampilkan seorang kreator mengejek cara bicara seseorang dengan logat yang berbeda. Tawa mereka lepas.
Salah satu dari mereka mungkin tanpa sadar, menoleh ke teman di sebelahnya yang kebetulan punya logat serupa. Hanya sedetik. Tapi cukup untuk membuat teman itu mengecilkan badannya di kursi.
Mereka meniru kita. Itu saja. Dan bagian itu yang paling susah kita terima.
Kursi anak yang gagap itu kosong tiga hari. Ketika kembali, anak itu duduk di pojok belakang. Tempat yang sering terlewatkan. Lebih senyap dari biasanya.
Semua orang membiarkannya. Semua berlalu begitu saja. Mungkin karena tidak ada yang tahu harus memulai dari titik mana.(*)
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.


