Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Andil Orang Dewasa Ketika Ada Seorang Anak Menyakiti Temannya
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Andil Orang Dewasa Ketika Ada Seorang Anak Menyakiti Temannya

Redaktur Opini
Last updated: April 8, 2026 9:45 am
By Redaktur Opini
4 Min Read
Share
SHARE

Hidar Amaruddin, dosen FIP Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta.

Anak-anak hanya meniru kita. Itu saja. Dan bagian itu yang paling susah kita terima.

 

Yogyakarta, pertengahan semester. Saya sedang duduk di sudut ruang guru ketika seorang wali kelas masuk dengan wajah yang tampak sudah menyerah bahkan sebelum ia bicara. Guru wali kelas itu baru saja meninggalkan kelas empat.

Ada anak yang menirukan cara bicara temannya yang gagap, dan anak-anak lain tertawa. Anak yang ditiru hanya diam, tangannya menggenggam ujung seragam erat-erat.

Besoknya kursi tempat anak gagap itu kosong tanpa penjelasan. Wali kelas mencatatnya absen tanpa keterangan, lalu melanjutkan pelajaran karena tiga puluh anak lain masih menunggu. Satu kursi kosong tidak cukup berat untuk memperlambat siapa pun.

Saya tidak bisa berhenti memikirkan tangannya. Anak itu tidak menangis. Tangannya menggenggam kain seragam seperti orang yang sedang mencari sesuatu untuk dipegang, dan tidak menemukannya.

Anak-anak bukanlah penemu. Cara merendahkan orang lain mereka dapatkan dari suatu tempat. Percakapan yang sebenarnya tidak ditujukan kepada mereka. Tawa yang pecah di waktu yang tidak seharusnya. Obrolan yang bocor lewat celah-celah pintu, di meja makan, di mobil, di sela-sela telepon yang seharusnya menjadi ruang privat.

Anak pura-pura tidak mendengar, padahal mereka mendengar semuanya, menyimpannya di tempat yang tidak kita duga, lalu suatu hari mengeluarkannya dalam situasi yang tidak kita antisipasi.

Seorang ibu pernah bercerita kepada saya bahwa anaknya tiba-tiba suka menyebut teman sekelasnya “aneh”. Sang ibu heran dari mana kata itu datang. Dua minggu sebelumnya, di depan anak yang sama, sang ibu berbisik kepada suaminya soal tetangga baru yang “kelakuannya aneh”.

Barangkali anak itu tidak mengutip ibunya. Kata itu sudah tersedia di rumahnya sendiri. Pernah diucapkan dengan nada ringan. Seolah-olah tidak ada konsekuensinya.

Guru pun kadang tanpa sadar melakukan hal serupa. Memberi nama pada sesuatu yang seharusnya tidak diberi nama di hadapan banyak mata.

“Yang nakal duduk di sini.”

“Kamu memang selalu begitu.”

Dua kalimat itu memang singkat, tetapi seluruh siswa di kelas menyimpannya sebagai sesuatu “yang lain”. Sebagai pelajaran tentang apa yang boleh dilakukan kepada orang yang sudah diberi label. Hierarki sosial di dalam kelas sering dimulai dari sana, dari mulut orang yang seharusnya menjaga ruang itu tetap aman.

Saya bersama sekelompok anak kelas lima pernah menonton sebuah video yang menampilkan seorang kreator mengejek cara bicara seseorang dengan logat yang berbeda. Tawa mereka lepas.

Salah satu dari mereka mungkin tanpa sadar, menoleh ke teman di sebelahnya yang kebetulan punya logat serupa. Hanya sedetik. Tapi cukup untuk membuat teman itu mengecilkan badannya di kursi.

Mereka meniru kita. Itu saja. Dan bagian itu yang paling susah kita terima.

Kursi anak yang gagap itu kosong tiga hari. Ketika kembali, anak itu duduk di pojok belakang. Tempat yang sering terlewatkan. Lebih senyap dari biasanya.

Semua orang membiarkannya. Semua berlalu begitu saja. Mungkin karena tidak ada yang tahu harus memulai dari titik mana.(*)

 

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

 

 

You Might Also Like

Regulasi Tar-Nikotin: Adaptasi Bijak untuk Ekosistem Tembakau Nusantara

Dari Reshuffle, Prabowo Mulai Lepas Bayang Jokowi, Siapa Masuk Siapa Tersingkir?

Melepaskan Belenggu Validasi di Media Sosial

Membaca Sisi Psikologis dan Relasi Manusia pada Kasus Reyhan dan Fara

Cara Terbaik Seorang Istri Memahami Suami yang Hobi Memancing

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Monyet Suka Pamer Gigi, Ternyata Punya Makna dan Arti
Next Article Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Pol Artanto. (ist) Polda Jateng Jamin Rekrutmen Polri 2026 Bersih Tanpa Titipan, Yakin?

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Redam Debu Sisa Kebakaran, Jalan Sekitar Jatibarang Disiram

SERU - Ilustrasi nonton bareng (nobar) partai final FIFA ASEAN Cup 2026 antara Indonesia melawan Thailand di halaman Kantor Gubernur Jawa Tengah, Senin (5/10/2026) malam

Gila! Parkir Motor Nobar di Gubernuran Digetok Rp10.000, Pemprov Jateng Angkat Bicara

MBG Prasmanan Diuji, Siswa Bisa Nambah Sesuai Selera

DIGIRING PETUGAS: Seorang dosen, Mei Sulistyoningsih (kerudung putih), digirimg petugas dari ruang tahanan PN Semarang ke mobil tahanan, Selasa (6/10/2026). (bae)

Dosen Semarang Diadili dalam Kasus Penipuan Lomba Tari Piala Gubernur

BIDIK KASUS - Ilustrasi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

KPK Bidik Dugaan Pungli di Lapas Cibinong

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Opini

Belajar Mengendalikan Nafsu dari Filsuf Epicurus

Desember 10, 2025
Opini

Perempuan, Cantik Aja Nggak Cukup!

Februari 13, 2026
Opini

Mencari “Pangku” di Kamus-Kamus Lama

November 26, 2025
Ilustrasi anak-anak korban keracunan massal mendapat perawatan medis di fasilitas pelayanan kesehatan.
Opini

Dari Makan Bergizi Gratis ke Makan Beracun Gratis: Menu Baru dari Dapur Kekuasaan

September 20, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Andil Orang Dewasa Ketika Ada Seorang Anak Menyakiti Temannya
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?