BACAAJA, JAKARTA – Lonjakan kasus campak di Indonesia lagi jadi sorotan serius. Dalam beberapa waktu terakhir, jumlah penderita terus meningkat dan bahkan sudah masuk kategori Kejadian Luar Biasa di sejumlah daerah.
Data terbaru dari World Health Organization yang dirilis melalui Centers for Disease Control and Prevention menunjukkan posisi Indonesia cukup mengkhawatirkan. Dengan total 10.744 kasus, Indonesia kini menempati urutan kedua kasus campak tertinggi di dunia.
Angka tersebut hanya kalah dari Yaman dan bahkan melampaui India. Fakta ini membuat banyak pihak mulai waspada, terutama karena campak dikenal sebagai penyakit yang sangat mudah menular.
Di dalam negeri, Kementerian Kesehatan mencatat sepanjang 2025 ada lebih dari 63 ribu kasus suspek campak. Dari jumlah itu, lebih dari 11 ribu kasus sudah terkonfirmasi secara laboratorium, dengan puluhan korban meninggal dunia.
Memasuki awal 2026, tren tersebut belum menunjukkan penurunan signifikan. Hingga minggu ke-7 saja, sudah tercatat ribuan kasus suspek baru dan ratusan di antaranya terkonfirmasi positif.
Tak hanya itu, laporan juga menunjukkan adanya 21 kejadian luar biasa campak yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Ini menandakan penyebaran penyakit masih cukup luas.
Campak sendiri bukan penyakit baru, tapi dampaknya tetap serius. Penyakit ini disebabkan oleh virus yang menyerang saluran pernapasan sebelum menyebar ke seluruh tubuh.
Gejala awal biasanya dimulai dengan demam tinggi, batuk, pilek, dan mata merah. Kondisi ini sering dianggap sepele, padahal bisa menjadi tanda awal infeksi yang lebih serius.
Dalam beberapa hari, muncul ruam khas yang biasanya dimulai dari area wajah lalu menyebar ke seluruh tubuh. Pada fase ini, kondisi penderita bisa semakin memburuk jika tidak ditangani dengan baik.
Dokter anak Meta Herdiana Hanindita menjelaskan bahwa campak memiliki beberapa tahap gejala, mulai dari fase awal hingga masa pemulihan.
Pada tahap awal atau prodromal, gejala seperti demam tinggi dan batuk mulai muncul. Di fase ini juga bisa ditemukan tanda khas berupa bintik putih di dalam mulut yang disebut koplik spots.
Memasuki fase berikutnya, ruam mulai muncul dan menyebar ke berbagai bagian tubuh. Demam biasanya mencapai puncaknya di tahap ini, membuat kondisi anak jadi lebih lemah.
Setelah beberapa hari, tubuh mulai masuk fase pemulihan. Ruam perlahan memudar dan berubah warna sebelum akhirnya hilang sepenuhnya.
Meski terlihat seperti penyakit biasa, campak bisa memicu komplikasi serius. Beberapa di antaranya bahkan berisiko fatal jika tidak ditangani dengan tepat.
Komplikasi yang sering terjadi meliputi infeksi paru, radang otak, hingga dehidrasi berat. Dalam kasus tertentu, campak juga bisa menyebabkan kebutaan.
Kelompok yang paling rentan adalah anak-anak di bawah usia lima tahun dan orang dengan daya tahan tubuh lemah. Ibu hamil juga termasuk kelompok berisiko tinggi.
Yang membuat campak berbahaya adalah tingkat penularannya yang sangat tinggi. Virus bisa menyebar lewat udara dan bertahan cukup lama di lingkungan sekitar.
Satu orang yang terinfeksi bahkan bisa menularkan penyakit ini ke banyak orang lain dalam waktu singkat. Itulah sebabnya wabah campak bisa cepat meluas.
Sayangnya, hingga saat ini belum ada obat khusus untuk menyembuhkan campak. Penanganan lebih difokuskan pada meredakan gejala dan mencegah komplikasi.
Namun ada satu cara yang terbukti efektif untuk mencegah penyebaran, yaitu vaksinasi. Vaksin campak mampu memberikan perlindungan yang kuat jika diberikan sesuai jadwal.
Dengan meningkatnya kasus saat ini, kesadaran masyarakat untuk vaksinasi dan menjaga kesehatan jadi kunci utama. Jangan sampai lengah, karena campak bukan sekadar penyakit biasa. (*)


