Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Bisakah Kita Memulai Revolusi dari Secangkir Kopi?
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Bisakah Kita Memulai Revolusi dari Secangkir Kopi?

Redaktur Opini
Last updated: April 6, 2026 8:34 am
By Redaktur Opini
5 Min Read
Share
SHARE

Ahmad Alfani Hasan, mahasiswa UIN Walisongo Semarang. Berasal dari Banyuwangi.

Coffee shop yang ada hari ini menunjukkan tren yang kian modis mengikuti meta fyp media sosial.

 

Dewasa ini ngopi bukan lagi sekedar aktivitas biasa. Ia sudah menjelma menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Pagi ngopi, sore ngopi, dan malam pun masih sempat ngopi. Tentunya yang membuat ngopi menjadi menarik bukan hanya soal menyeruput kopi panas saja, akan tetapi banyak alternatif aktivitas yang bisa kita lakukan ketika sedang ngopi.

Ada yang mungkin sekadar ngobrol santai soal kehidupan. Atau obrolan seputar politik yang hangat hari ini. Bisa juga nyambi belajar seperti kerkom atau sekadar me time dengan membaca atau berkutat dengan revisi skrip yang tak kunjung berakhir. Yang paling aneh adalah mereka yang datang ke tempat ngopi untuk sekadar memberi makan feed instagram dengan gelas cantik berisi latte art di tangan.

Kabar buruknya ialah kebanyakan warung kopi hari ini lebih memfasilitasi kebutuhan up date sosial daripada esensi dari ngopi itu sendiri. Secara ideal warung kopi adalah tempat sederhana untuk kita sejenak bisa melupakan dunia yang serba penuh aturan. Warung kopi menjadi tempat anak muda bebas merdeka tanpa peduli status sosial.

Kondisi mutakhir, hari ini coffee shop menjelma menjadi tempat yang kian “elitis”. Ruang obrolan berubah menjadi arena mempertontonkan status sosial. Penampilan dinilai, selera kopi menjadi lambang status yang menunjukkan taraf selera. Alih-alih wacana produktif yang dibicarakan, justru di kedai kopi elit pembicaraan yang hadir adalah seputar out fit skena dan beans yang sekarang lagi tren.

Coffee shop yang ada hari ini menunjukkan tren yang kian modis mengikuti meta fyp media sosial. Yang dijual adalah “status” simbolik lewat harga kopi selangit, tempat estetik, dan jangan lupakan barista skena yang mungkin akan tertawa saat kita memesan americano tambah gula. Lantas coffee shop atau warung kopi seperti apa yang ideal?

Nah, untuk memberikan potret warung kopi atau coffee shop yang ideal mari sejenak kita menjelajah ke Perancis pada abad ke-17, sebelum adanya revolusi. Pada zaman itu warung kopi adalah sekolah yang dikenal dengan istilah “penny university”. Tempat ini tak ubahnya seperti taman pendidikan golongan non-aristokrat atau masyarakat jelata. Dengan hanya memberikan satu peni kamu sudah dapat sejajar dengan akademisi, senator, bahkan bangsawan. Dengan satu peni kamu bisa mengakses banyak pengetahuan dari orang-orang hebat yang juga memesan kopi dengan harga yang sama. Universitas dadakan itu nantinya menjadi cikal bakal adanya “le salon” atau event ketika para intelektual dan akademisi berkumpul dan nantinya menjadi bibit ide revolusi Perancis.

Berkaca pada “penny university”, warung kopi justru menjadi alternatif tempat pendidikan untuk masyarakat yang tidak bisa mengakses pendidikan formal. Tempat wacana peradaban justru hadir lewat seruputan kopi sederhana. Bukan kopi dengan proses jelimet seperti fisixty atau ukiran lukisan seperti latte art. Di sana juga tidak ada aturan berpakaian atau harus memenuhi standar selera orang elite yang untuk ngopi aja perlu diskusi seputar beans, tapi lupa kalo rezim negara bikin regulasi seenak jidat.

Warung kopi itu harusnya menjadi ruang publik seperti yang Jürgen Habermas katakan dalam teori “public spheare”. Realitas diciptakan dari ruang dialog seperti di “penny university” tersebut. Hari ini masih ada warung kopi yang menyediakan rak bacaan bukun melimpah sekalipun tempatnya kecil-kecilan. Tapi entah mengapa lebih banyak anak muda yang suka ke coffee shop elit. Di tempat itu justru yang dijual hanya untuk kebutuhan kasih makan medsos dari  pada menyediakan kebutuhan otak yang perlu asupan ilmu pengetahuan.

Jadi mari kita kembali hidupkan wacana perkopian untuk jadi ruang alternatif bagi mereka yang membutuhkan proses pendidikan. Karena kita tahu pemerintah kita gagal dalam memberikan akses pendidikan kepada semua rakyatnya. Jadi tunggu apa lagi? Bukankah kita mau revolusi?(*)

 

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

 

 

You Might Also Like

Bencana Ekologis Dimulai Ketika Manusia Memandang Alam sebagai Benda Mati

Legitimasi Prabowo Mulai Terkikis?

Jangan Salahkan Gadget, Tetapi Bangun Kognisi Remaja agar Terbiasa Membaca

Memendam Amarah Ibarat Bom yang Bisa Meledak Kapan Saja

Dari Makan Bergizi Gratis ke Makan Beracun Gratis: Menu Baru dari Dapur Kekuasaan

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Polisi mendatangi TKP mobil Avanza terbakar setelah mengisi BBM di SPBU Silayur, Kota Semarang, Minggu (5/4/2026). Mobil Avanza Terbakar setelah Isi BBM di SPBU Silayur, Pasutri Panik Lari Tunggang Langgang
Next Article ASN Disuruh Naik Transportasi Umum, Tapi Fasilitasnya Belum Siap

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

SEGEL RUSUN--Satpol PP menyegel kamar di Rusun Kudu, Kota Semarang, Rabu (19/8/2026). (ist)

Puluhan Rusun Kudu Semarang Disegel, Satpol PP: Penghuni Gak Mau Bayar

Mobil polisi keluar dari area PN Semarang sesaat setelah pengungkapan kasus sabu di pengadilan, Selasa (18/8/2026) sore. (bae)

Polisi Sebut ‘Salam Tempel’ Sabu di PN Semarang Sudah Lama Direncanakan

ILUSTRASI KEBAKARAN: Petugas pemadam kebakaran Pemkab Jepara berupaya melakukan pemadaman api di pabrik bahan baku tas dan sepatu PT Chengqi Industrial Indonesia di Desa Pringtulis, Kecamatan Nalumsari, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah yang terbakar, Sabtu (17/1/2026). (Damkar Jepara)

Rp33,4 Miliar Hangus Jadi Abu, Estimasi Kerugian 447 Kasus Kebakaran di Jateng

POLISI - Ilustrasi anggota Polri (polisi).

Kelakuan! Dua Oknum Polisi Nyaris Dihajar Massa, Ketahuan Peras Warga Gresik dengan Dalih Judol

ILUSTRASI - Ilustrasi tim SAR gabungan mengevakuasi pendaki gunung di atas ketinggian. (ai)

Tragis! Remaja 16 Tahun Tewas Terjatuh ke Kawah Gunung Slamet

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Opini

Desa yang Diminta Mandiri, Tetapi Dikunci dari Luar

Agustus 11, 2026
Opini

Prabowo dan Sirkus Uang

Mei 20, 2026
Opini

Wajar Kami Marah, Kekerasan Seksual di Kampus Semakin Parah

Mei 22, 2026
Opini

Ketika Makna Feminisme Dibajak Warganet yang Malas Membaca

April 2, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Bisakah Kita Memulai Revolusi dari Secangkir Kopi?
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?