BACAAJA, JAKARTA – Kabar duka datang dari misi perdamaian internasional yang dijalankan Indonesia. Tiga prajurit TNI dilaporkan gugur dalam serangan di Lebanon, dan peristiwa ini langsung menggugah perhatian banyak pihak, termasuk kalangan ulama yang menyerukan doa bersama sebagai bentuk penghormatan.
Seruan itu datang dari Majelis Ulama Indonesia yang mengajak masyarakat untuk melaksanakan salat gaib. Imbauan ini disampaikan sebagai bentuk solidaritas dan doa bagi para prajurit yang gugur dalam tugas menjaga perdamaian dunia.
Wakil Ketua Umum MUI, Cholil Nafis, menyampaikan harapannya agar para prajurit yang gugur mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT. Ia juga mengajak masyarakat untuk bersama-sama mendoakan para almarhum.
“Saya mendoakan perjuangannya menjaga perdamaian mendapat anugerah syahid dan semua dosanya diampuni oleh Allah SWT. Mari kita doakan dan dilaksanakan salat gaib untuk almarhum,” ujarnya.
Tiga prajurit yang gugur tersebut adalah Prajurit Kepala Farizal Rhomadhon, Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar, dan Sertu Muhammad Nur Ichwan. Mereka merupakan bagian dari Satgas Kontingen Garuda yang bertugas dalam misi perdamaian dunia.
Para prajurit ini diketahui menjalankan tugas di bawah misi United Nations Interim Force in Lebanon atau UNIFIL, yang berada di bawah koordinasi Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Insiden yang menewaskan mereka disebut terjadi akibat serangan yang diarahkan ke wilayah tugas pasukan penjaga perdamaian. Peristiwa ini memicu kecaman dari berbagai pihak karena dinilai melanggar prinsip-prinsip kemanusiaan.
Cholil Nafis juga menyampaikan keprihatinan mendalam atas kejadian tersebut. Ia menilai serangan terhadap pasukan perdamaian tidak bisa dibenarkan dalam kondisi apa pun.
Selain mengajak doa bersama, MUI juga mendorong langkah yang lebih luas di tingkat internasional. Mereka meminta organisasi dunia Islam untuk ikut aktif merespons situasi ini.
Seruan tersebut ditujukan kepada Organisasi Kerja Sama Islam agar mengambil peran dalam menghentikan tindakan yang dianggap sebagai bentuk kezaliman dan penjajahan.
Tak hanya itu, MUI juga mendesak PBB agar lebih tegas dalam menjaga keadilan global. Menurut mereka, peran lembaga internasional sangat penting untuk memastikan konflik tidak semakin meluas.
Permintaan ini mencerminkan kekhawatiran bahwa konflik yang terus berlangsung bisa berdampak lebih luas jika tidak ditangani secara serius oleh komunitas internasional.
Di sisi lain, seruan salat gaib menjadi bentuk respons spiritual yang diharapkan bisa menyatukan doa dari masyarakat luas. Tradisi ini lazim dilakukan ketika jenazah tidak berada di lokasi yang sama dengan umat yang ingin mendoakan.
Salat gaib sendiri memiliki tata cara yang mirip dengan salat jenazah. Dilakukan dalam posisi berdiri, tanpa rukuk dan sujud, serta terdiri dari empat kali takbir.
Pada takbir pertama dibacakan surah Al-Fatihah, dilanjutkan sholawat pada takbir kedua. Kemudian doa untuk jenazah pada takbir ketiga, dan doa untuk keluarga yang ditinggalkan pada takbir keempat.
Rangkaian ibadah ini ditutup dengan salam, sebagai penutup doa yang dipanjatkan secara berjamaah maupun sendiri.
Seruan ini diharapkan bisa menjadi pengingat bahwa di balik tugas berat menjaga perdamaian, ada pengorbanan besar yang harus dibayar.
Para prajurit yang bertugas di luar negeri bukan hanya membawa nama negara, tapi juga mempertaruhkan nyawa demi stabilitas dunia.
Peristiwa ini sekaligus membuka mata bahwa konflik global masih menyisakan risiko nyata, bahkan bagi pasukan yang datang dengan misi damai.
Dengan doa dan solidaritas yang terus mengalir, diharapkan keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan, dan para prajurit yang gugur mendapat tempat terbaik di sisi-Nya.
Momentum ini juga menjadi ajakan untuk tidak hanya berduka, tetapi juga merenung tentang pentingnya perdamaian yang sejati di tengah dunia yang masih diliputi konflik. (*)


