BACAAJA, TEMANGGUNG – Siapa sangka, dari tumpukan sampah di tempat pembuangan akhir, seorang pemilah sampah bisa duduk sebagai tamu kehormatan di pendopo kabupaten.
Momen itu dialami Ispadi (65) atau yang akrab disapa Mbah Surat, Ketua Persatuan Pemilah Sampah Non Organik (PPSNO) di TPA Sanggrahan.
Pada Selasa (17/3/2026), Mbah Surat hadir bersama puluhan pemilah sampah lainnya di Pendopo Pengayoman Temanggung untuk acara buka puasa bersama yang digelar Bupati Agus Setyawan (Agus Gondrong).
Bacaaja: Safari Tunas Toleransi: Senangnya 125 Bocah PAUD Temanggung saat Keliling Rumah Ibadah
Bacaaja: 2 Kali Dikasih Makanan Basi, SD Muhammadiyah 1 Temanggung Kapok: Tak Terima MBG Lagi
Buat Mbah Surat, momen ini terasa spesial banget. Pasalnya, kesehariannya jauh dari suasana pendopo. Sejak 2010, ia sudah akrab dengan gunungan sampah di TPA Sanggrahan.
Setiap hari, selepas salat Subuh, ia berangkat ke TPA buat memilah barang rongsokan. Target utamanya biasanya plastik, seperti ember-ember bekas yang masih punya nilai jual.
Meski kerjaannya berat dan kotor, Mbah Surat tetap konsisten menjalaninya. Dari hasil memulung, ia rata-rata bisa membawa pulang sekitar Rp25 ribu per hari. Menjelang siang, sekitar pukul 11.30 WIB, ia biasanya sudah pulang untuk beristirahat.
Bagi Mbah Surat, tantangan terbesar bukan cuma bau sampah, tapi juga cuaca.
“Dukanya kalau hujan. Sepatu bolong, baju basah kuyup. Yang penting kendel (berani),” ujarnya.
Di acara tersebut, Mbah Surat datang bersama sekitar 90 pemilah sampah lainnya. Mereka mendapat undangan khusus dari Bupati Temanggung untuk berbuka puasa bersama.
Dalam sambutannya, Agus menyebut para pemilah sampah sebagai pahlawan lingkungan yang membantu menjaga Temanggung dari ancaman sekitar 120 ton sampah setiap hari.
“Tamu kehormatan Pemkab Temanggung nggih bapak-ibu semuanya. Kadang orang tidak menghitung perjuangan jenengan, tapi sebenarnya perjuangan jenengan soal persampahan itu luar biasa. Saestu, matur nuwun sudah membantu masyarakat Temanggung,” ujar Agus. (*)


