BACAAJA, SEMARANG – Alih fungsi lahan di kawasan Bukit Semarang Baru (BSB) City sangat masif. Terlepas dari legal atau tidaknya pembangunan di situ, yang jelas bikin daerah resapan makin sedikit.
Dulu, banjir di Kota Semarang hanya terjadi di daerah pesisir. Tapi sekarang, banjir juga terjadi di wilayah atas.
Terbaru, Kawasan Industri Candi (KIC) yang kebanjiran. Padahal sejak dulu wilayah pabrik-pabrik ini bebas banjir. Secara geografis, KIC berada di bawah kawasan BSB City.
Bacaaja: Banjir Parah Terjang Kawasan Industri Candi Semarang: Mobil Terendam, Motor Terseret Arus
Bacaaja: LBH: Semarang Sering Banjir karena Alih Fungsi Lahan Kelewatan
Direktur LBH Semarang, Syamsuddin Arief menyinggung kawasan yang dulu dikenal hijau dan menyerap air, sekarang berubah jadi hamparan atap, beton, dan aspal. Air hujan pun tak punya banyak pilihan selain turun ke kota.
“Rata-rata masalah di hulu adalah alih fungsi lahan,” kata Arief beberapa waktu lalu.
Contoh paling nyata, kata Aruef, ada di kawasan BSB City. Dulu wilayah ini berupa hutan karet. Memang hutan produksi, tapi tetap berfungsi sebagai kawasan resapan.
“Sekarang sudah berubah jadi kawasan industri dan permukiman,” katanya.
Perubahan itu terlihat jelas kalau membandingkan citra satelit dari tahun ke tahun. Sekitar 10 tahun lalu, area BSB masih didominasi warna hijau. Tutupan lahan relatif utuh, jalur air masih punya ruang bernapas. Kini, dari atas layar, yang terlihat justru blok-blok perumahan, kawasan industri, dan jalan yang memotong lahan.
Di dalam kompleks BSB City sendiri, berdiri kawasan industri yang dikenal sebagai BSB Industrial Park dengan luas sekitar 112–115 hektare. Kawasan ini dikembangkan oleh PT Karyadeka Alam Lestari.
Tak berhenti di industri, BSB City juga dirancang sebagai kota mandiri seluas kurang lebih 1.000 hektare. Puluhan klaster perumahan dibangun, termasuk Citraland BSB City yang dikembangkan Ciputra Group.
Di atas kertas, konsepnya rapi dan modern. Di lapangan, air hujan tak peduli konsep. Saat ruang resapan berubah jadi bangunan, air akan mencari jalan paling rendah. Dan ujungnya, Semarang bawah kembali jadi langganan.
Masalahnya, menurut Arief, makin pelik. Bukan cuma soal alih fungsi lahan. Pemerintah juga dinilai abai pada perawatan sungai. “Masalah kedua adalah tidak ada revitalisasi daerah aliran sungai,” katanya. (bae)


