BACAAJA, SEMARANG – Ramadan datang, vibe ibadah langsung beda. Masjid rame, takjil bertebaran, timeline penuh quotes religi. Banyak yang biasanya bolong-bolong, tiba-tiba full puasa sebulan. Tapi di sisi lain, ada juga yang puasanya rajin banget, sholatnya malah sering kelewat.
Fenomena ini bukan hal aneh. Ada yang ngerasa puasa lebih “kerasa” nuansa kebersamaannya. Sahur bareng, buka bareng, suasananya dapet. Sementara sholat, karena sifatnya lebih personal dan rutin lima waktu, justru sering kalah sama rasa malas, sibuk, atau ketiduran habis sahur.
Padahal dalam Islam, sholat itu ibadah utama. Dalam hadis riwayat Ibn Majah disebutkan, amalan pertama yang dihisab di hari kiamat adalah sholat. Bahkan ada juga riwayat yang menegaskan, meninggalkan sholat bisa menyeret seseorang pada kekafiran.
Artinya, posisi sholat itu bukan pelengkap. Dia fondasi.
Lalu gimana kalau ada yang puasa tapi nggak sholat? Sah nggak puasanya?
Penjelasan ulama, salah satunya yang ditulis oleh Hasan bin Ahmad al-Kaf dalam kitab Taqriratus Sadidah fi Masail Mufidah, membedakan dua kondisi.
Pertama, orang yang nggak sholat karena mengingkari kewajibannya. Misalnya dia yakin sholat itu nggak wajib. Dalam kondisi ini, dia dianggap keluar dari Islam. Kalau sudah begitu, otomatis semua ibadahnya, termasuk puasa, jadi nggak sah.
Kedua, orang yang nggak sholat bukan karena menolak kewajiban, tapi karena malas atau lalai sampai waktunya habis. Nah, dalam kasus ini dia masih dihitung muslim. Puasanya tetap sah secara hukum fikih, tapi pahalanya bisa berkurang drastis, bahkan hilang.
Dalam kitab itu juga dijelaskan, ada pembatal puasa yang bikin puasanya nggak sah dan harus ganti di hari lain. Ada juga yang cuma menghapus pahala tanpa membatalkan secara hukum. Meninggalkan sholat masuk kategori kedua: puasanya jalan, tapi nilainya bisa kosong.
Ibaratnya, puasa tanpa sholat itu kayak badan tanpa ruh. Kelihatan hidup, tapi nggak utuh.
Kadang orang mikir, “Puasa kan lebih berat, nahan lapar seharian.” Padahal sholat cuma butuh beberapa menit tiap waktu. Justru kalau sudah kuat nahan lapar dan haus, harusnya disiplin sholat juga bisa pelan-pelan dibiasakan.
Ramadan mestinya jadi momen upgrade, bukan pilih-pilih ibadah sesuai selera. Kalau puasanya sudah konsisten, kenapa nggak sekalian jaga sholat? Biar ibadahnya nggak cuma sah di atas kertas, tapi juga penuh makna di sisi Allah. (*)


