BACAAJA, SEMARANG – Partai Solidaritas Indonesia (PSI) lagi gak baik-baik saja. Di Kota Semarang, puluhan pengurus tingkat DPC kompak mundur dari jabatan mereka.
Gak cuma satu-dua, tapi ada 13 DPC PSI Semarang yang pengurusnya ramai-ramai mengundurkan diri.
Gelombang mundur ini dipicu kekecewaan terhadap keputusan pusat yang dinilai tiba-tiba dan minim komunikasi. Para pengurus merasa kerja-kerja di bawah tak dihargai.
Pengamat politik dari Universitas Diponegoro, Nur Hidayat Sardini menanggapi masa depan PSI di tengah masalah internal yang sedang terjadi.
Bacaaja: Eks Waketum Nasdem Ahmad Ali Jadi Ketua Harian DPP Partai Gajah
Bacaaja: Katanya Mau Jadi Rakyat Biasa, Jokowi: Saya Siap Keliling Kecamatan Menangkan PSI
Dia memberi catatan yang cukup menohok. Nur Sardini menyebut PSI berpotensi tidak laku di daerah-daerah dengan warga yang kritis. Semakin tinggi tingkat pendidikan, katanya, kecenderungan kritis juga makin besar.
“Yang jelas PSI tidak akan laku di daerah yang orangnya kritis,” ujarnya usai mengisi sebuah acara di Kota Semarang, Senin (23/2/2206).
Namun ia juga jujur. Pernyataan itu, kata dia, bukan klaim berbasis riset angka yang kaku. Lebih ke pembacaan sosial-politik. Orang yang pendidikannya tinggi cenderung punya harapan lebih besar, dan saat harapan itu tak terpenuhi, kekecewaan juga ikut naik.
Menurutnya, apa yang terjadi di Semarang bukan sekadar soal konflik internal, tapi berkaitan langsung dengan masa depan PSI.
Ia menyebut, sejak awal PSI memang sangat bergantung pada figur Joko Widodo. Relasi itu, kata dia, makin terlihat ketika anak Jokowi bisa naik menjadi ketua umum dalam waktu yang sangat singkat.
“Itu sesuatu yang sangat jarang dalam sejarah pemilu kita,” kata Nur Hidayat.
Menurutnya, posisi PSI ke depan sangat ditentukan oleh seberapa kuat pengaruh Jokowi masih bekerja. Bukan cuma soal sumber daya materi, tapi juga pengaruh politik dan kemampuan memengaruhi publik.
Selama faktor itu masih ada, PSI dinilai tetap bisa eksis. Tapi urusan menang pemilu, ceritanya beda lagi. Banyak variabel lain yang ikut bermain, terutama persepsi dan dukungan publik. (bae)


