BACAAJA, SEMARANG – Ramadhan datang tiap tahun, tapi pertanyaannya selalu sama: puasanya cuma nahan lapar, atau sekalian ngerem lisan? Banyak yang kuat nggak makan seharian, tapi obrolan soal orang lain masih jalan terus.
Padahal puasa bukan cuma urusan perut. Ia latihan total, dari fisik sampai akhlak. Kalau lisannya masih doyan ngegunjing, ada yang perlu dibenahi.
Ustadz Adi Hidayat atau yang akrab disapa UAH, pernah mengingatkan soal ini. Menurutnya, ghibah termasuk perbuatan yang bisa bikin pahala puasa terkikis, bahkan habis tak bersisa.
“Nabi itu pernah bersabda, ada orang yang puasa, tapi dia tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan haus. Kenapa? Karena akhlaknya rusak, lisannya tidak dijaga, tangannya berbuat yang tidak baik,” ujar UAH dalam sebuah kajian.
Artinya jelas, secara fikih mungkin puasanya sah. Tapi secara nilai dan pahala, bisa jadi kosong.
Ghibah sendiri artinya membicarakan keburukan orang lain di belakangnya, meski yang dibahas itu benar adanya. Kalau ternyata nggak benar, itu sudah masuk fitnah, dosanya lebih berat lagi.
Seringnya, ghibah ini muncul santai saja. Ngobrol ringan setelah buka, komentar di grup WhatsApp, atau scroll media sosial sambil nyinyir.
UAH menyebut ini sebagai bagian dari hal-hal yang merusak pahala puasa. Bukan membatalkan secara teknis, tapi menggerogoti dari dalam.
“Ini bahaya nih, puasa itu bukan cuma menahan lapar dan haus, tapi juga menjaga akhlak. Jangan sampai kita puasanya batal secara maknawi,” katanya dalam tayangan di kanal YouTube @suasvideos.
Dalam Al-Qur’an, gambaran tentang ghibah itu keras banget. Diibaratkan seperti memakan daging saudara sendiri yang sudah mati. Perumpamaan ini menunjukkan betapa kejinya perbuatan tersebut.
Kalau dipikir-pikir, ngeri juga. Kita capek nahan haus, tapi pahala malah bocor gara-gara omongan.
Makanya, menjaga lisan itu bagian dari ibadah. Bahkan bisa jadi lebih berat daripada menahan lapar.
Puasa itu latihan mengendalikan hawa nafsu. Termasuk nafsu untuk komentar, nyinyir, atau ikut-ikutan bahas aib orang.
Rasulullah juga mengajarkan, kalau ada orang mengajak ribut saat kita puasa, cukup bilang, “Aku sedang berpuasa.” Itu bukan cuma kalimat, tapi pengingat diri.
Artinya, orang yang benar-benar puasa akan memilih menahan diri daripada meladeni emosi.
Ramadhan harusnya jadi momen upgrade diri. Bukan cuma pindah jam makan, tapi juga naik level dalam akhlak.
Kalau masih susah nahan ghibah, coba evaluasi lingkungannya. Kadang bukan kita yang mulai, tapi kita ikut nimbrung.
Diam sering kali lebih selamat. Nggak semua hal harus dikomentari.
Isi waktu dengan baca Al-Qur’an, dzikir, atau hal bermanfaat lain bisa jadi cara aman biar nggak kebablasan ngomongin orang.
Ingat juga, setiap kata yang keluar itu ada catatannya. Nggak ada yang benar-benar hilang.
Sayang banget kalau sudah seharian nahan lapar, tapi pulangnya cuma bawa haus.
Jadi, sebelum komentar soal orang lain, tanya dulu ke diri sendiri: ini nambah pahala atau malah ngurangin? Ramadhan cuma sebentar, jangan sampai lewat begitu saja tanpa perubahan berarti.(*)


