Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Pajak dan Kisah Suami-Istri
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Pajak dan Kisah Suami-Istri

Redaktur Opini
Last updated: Februari 16, 2026 11:58 am
By Redaktur Opini
3 Min Read
Share
SHARE

Sobar Harahap, pengamat media dan peneliti sosial politik. Tinggal di Semarang.

Apakah pemerintah salah menaikkan pajak? Tidak. Apakah rakyat keliru ketika marah? Tidak juga. Kedua perkara itu muncul karena tidak ada komunikasi yang baik, tidak ada penjelasan yang clear sejak awal.

 

Sepertinya kita akan kesusahan untuk mencari siapa yang bahagia atas kenaikan pajak kendaraan bermotor. Seberapa pun kenaikannya kita pasti marah atau minimal bersedih. Kita pun tidak peduli dengan tetek bengek istilah kenaikannya. Mau itu BBNKB, progresif, PPnBM, Opsen atau apa pun itu, prek kita tidak peduli. Yang kita tahu pajak kendaraan telah naik, titik!

Tentu istriku orang pertama yang ngomel soal kenaikan pajak. Dia ngomel bukan karena tidak kuat bayar, tapi kaget kenapa tidak ada penjelasan. Marahnya persis ketika kita, para suami langsung nongkrong bareng teman sepulang kerja tanpa kabar. Dan tiba-tiba saldo M-banking kita berkurang banyak. Dalam kondisi seperti itu, mustahil bukan kita berharap mendapat sapaan mesra apalagi pujian darinya?

“Saldonya kok bisa berkurang sebanyak ini?” Nah silakan membayangkan nada bicara (istri) masing-masing beserta ekspresinya. Kalau mendapat pertanyaan seperti itu, bagaimana jawaban yang tepat? Saran saya mending tidak usah dijawab. Apapun jawabanmu pasti keliru. Apalagi kalau kamu jawab jujur saldonya berkurang banyak karena untuk nongkrong. Waaaah saya jamin, habis kamu. Bisa-bisa semua kontak temen-temen nongkrongmu disuruh delete seketika. Saran saya, jangan dijawab tapi segera isi saldonya. Kalau perlu lebih banyak daei sebelumnya. Jangan dijawab, apalagi sampai jujur.

Biasa lah perempuan, mereka tidak akan puas dengan satu dua alasan. Bahkan kalau ada seribu keterangan, misalnya, mereka pasti akan sabar mendengar kemudian menyanggahnya satu persatu. Tapi sanggahannya akan menjadi-jadi jika tidak ada penjelasan yang pasti. Nah, penjelasan yang tidak pasti saja akan membuat mereka emosi, apalagi sampai tidak ada penjelasan. Waaah. Siap-siap saja makan hati setiap hari. Wkwkwk.

Apa yang terjadi tentang pajak kendaraan persis seperti itu. Apakah pemerintah salah menaikkan pajak? Tidak. Apakah rakyat keliru ketika marah? Tidak juga. Kedua perkara itu muncul karena tidak ada komunikasi yang baik, tidak ada penjelasan yang clear sejak awal.

Dua perkara itu sama-sama dilakukan secara diam-diam. Kenapa dilakukan diam-diam? Harapannya agar tidak ada gejolak. Lagi pula nongkrong maupun menaikkan pajak bukan sebuah kriminal. Dua-duanya adalah perbuatan yang tidak melanggar apalagi melawan undang-undang. Semua lelaki dan provinsi melakukan hal serupa, bukan cuma di salah satu daerah.

Jika sudah terlanjur seperti ini, apakah telat jika kita memberi penjelasan? Nah itu bergantung. Setiap lelaki punya caranya sendiri. Setiap suami punya jurus mengatasi kemarahan sang istri. Tapi dari pada terus-terusan diam, bilang saja sejujur-jujurnya. Tapi lihat timmingnya, tunggu amarahnya reda. Kemudian diajak ngobrol santai, dielus-elus dan pastikan saldonya harus ditambah.(*)

 

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

 

 

You Might Also Like

Reklamasi sebagai Kunci Resiliensi

Indah Bisa Saja Mendatangkan Musibah

Degradasi Organisasi Mahasiswa: Hidup Segan Mati Tak Mau!

Artificial Intelligence dan Manusia Literasi

Semasa Kecil di Sawah

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Banjir di jalan nasional Pantura Semarang - Demak, Senin (16/2/2026). Foto: ist. Jalur Semarang – Demak Banjir akibatkan Macet Pantura
Next Article Emas, Imajinasi Global, dan Realitas Nilai Tukar

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Indonesia ke Final FIFA ASEAN Cup 2026, Singapura Jadi Korban Pesta Gol Malaysia

UKIR SEJARAH - Mahasiswi Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang, Nurisa Dian Ashrifah, mengukir tinta emas dalam sejarah olahraga panahan Indonesia setelah meraih emas nomor compound individu putri pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026.

Mahasiswi Udinus Semarang Bikin Sejarah Panahan Indonesia, Raih Emas di Asian Games 2026

Lapas Purwodadi Pastikan Data Pemilih Warga Binaan Tetap Terdata

Kepulan asap membumbung tinggi di area TPA Jatibarang Semarang, Rabu (30/9/2026). (bae)

Hati-Hati! Asap TPA Jatibarang Mengandung Partikel Berbahaya

Sabut Kelapa Buatan Warga Binaan Lapas Semarang Tembus Yunani

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Opini

Karhutla dan Kekejaman Antroposen

Agustus 24, 2026
Opini

Seni Menjaga Diri di Tengah Zaman Edan

Agustus 6, 2026
Opini

Tidak Seharusnya Logat “Lo-Gue” Menjadi Superior dalam Pergaulan, Apalagi Ini di Semarang

Januari 29, 2026
Opini

Tobatlah Kalian yang Mengaku Seniman!

April 16, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Pajak dan Kisah Suami-Istri
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?