BACAAJA, SEMARANG– Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi lagi serius. Serius banget. Bahkan sampai ngomong tiga kali: “Sampah, sampah, sampah.” Bukan karena kehabisan kata, tapi karena menurutnya urusan ini udah nggak bisa ditunda. Di hadapan OPD, BUMD, dan BLUD di Kantor Gubernur Jateng, Selasa (10/2/2026), Luthfi negesin kalau isu sampah harus langsung dieksekusi. No debat.
Gerakan bersih-bersih yang dia gagas bakal dimulai dari lingkup paling kecil. Dari kantor sendiri, dari lingkungan sendiri. Konsepnya ada dua: yang rutin dan yang bertahap tapi makin gede skalanya. Yang rutin? Simpel. Misalnya dua kali seminggu bersih-bersih kantor. Jangan cuma meja kerja yang kinclong, tapi halaman dan sekitarnya juga.
Baca juga: Sampah di Jateng Mau Diolah Jadi Bahan Bakar Pabrik Semen, Gimik Atau Realita?
Nah, yang bertahap alias “naik level” ini yang bikin gerakannya bakal kerasa. Luthfi pengin ngajak semua pihak turun bareng, mulai dari Polda, Kejaksaan, Kodam, sampai instansi vertikal dan horizontal lainnya. Targetnya jelas: turun langsung ke titik-titik yang penuh sampah.
“Kita turun bersama cari sampah. Bisa seminggu sekali. Biar getarannya kerasa dan sekaligus mendidik masyarakat,” kurang lebih begitu pesannya. Gerakan ini juga jadi bentuk dukungan ke program pusat, Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah).
Zero Sampah
Presiden Prabowo bahkan udah pasang target zero sampah 2029. Jadi ini bukan sekadar bersih-bersih dadakan, tapi bagian dari roadmap besar. Di level daerah, beberapa wilayah Jateng juga nggak tinggal diam. Pekalongan Raya misalnya, lagi nyiapin tempat pengolahan sampah terpadu regional di Kabupaten Pekalongan. Tegal Raya (Kabupaten Tegal, Kota Tegal, Brebes) juga ikut gerak. Solo Raya dan Semarang Raya pun lagi cari formula terbaik buat pengolahan regional.
Targetnya bukan receh, pengolahan di atas 1.000 ton per hari. Buat daerah yang belum sanggup bikin fasilitas gede, bisa pakai model RDF yang kapasitasnya 100-200 ton per hari. Intinya: semua harus punya solusi, nggak ada alasan cuma numpuk di TPA. Luthfi bahkan nyebut urusan sampah ini sebagai proyek vital nasional. Artinya? Udah masuk kategori nggak bisa santai.
Baca juga: 14 Daerah di Jateng Kena Sanksi karena Tak Becus Urus Sampah di TPA
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Jateng, Widi Hartanto bilang, saat ini konsep gerakan tersebut lagi dimatangkan. Koordinasi dengan kabupaten/kota terus dikebut supaya momentumnya nggak lewat begitu aja. Karena pada akhirnya, ini bukan cuma soal bersih-bersih bareng pejabat atau foto pakai sarung tangan dan kantong plastik hitam.
Ini soal kebiasaan. Dan kalau nanti semua orang udah rajin bersih tiap minggu tapi masih buang sampah sembarangan di hari lain, ya mungkin yang perlu dibersihin bukan cuma lingkungannya, tapi mindset-nya juga. (tb)


