BACAAJA, SEMARANG — Siapa sih yang nggak langsung kebawa perasaan begitu lagu “Yogyakarta” milik KLA Project mulai diputar? Buat banyak orang, lagu ini udah kayak anthem wajib para perindu Kota Gudeg—sekali dengar, auto nostalgia.
Tapi siapa sangka, di balik status legendarisnya, ada cerita yang lumayan mind-blowing.
Fakta pertama: lagu ini ditulis super cepat sama Leo Kristi. Bukan berhari-hari, bukan juga berminggu-minggu—katanya sih prosesnya cuma secepat orang masuk kamar mandi lalu keluar lagi. Yep, sespontan itu.
Bacaaja: Kamu Siap Ngabdi & Nguri-uri Budaya? Keraton Jogja Buka Rekrutmen Prajurit, Ini Syaratnya
Bacaaja: Slank Kembali Setelan Pabrik, Bikin Lagu Galak ‘Republik Fufufafa’
Ini bukti kalau inspirasi emang suka datang random. Lirik-lirik puitis yang sekarang melekat di kepala banyak orang ternyata lahir dari momen yang nggak direncanakan sama sekali.
Fakta kedua lebih plot twist lagi: versi awal lagu “Yogyakarta” ternyata nggak menyebut kata “Jogja” sama sekali.
Bayangin aja, judulnya Yogyakarta, tapi liriknya cuma muter di rasa rindu dan nostalgia tanpa nge-drop nama kotanya. Agak zonk nggak, sih?
Untungnya, ada yang ngasih kritik sederhana tapi ngena: “Kenapa lagunya Jogja tapi nggak ada Jogjanya?”
Masukan itu akhirnya bikin Leo nambahin bagian yang sekarang jadi salah satu line paling ikonik: “Nikmati bersama, suasana Jogja.”
Nggak berhenti di situ, detail tentang kehidupan kota juga ikut dimasukin, mulai dari ramainya kaki lima, orang duduk santai, sampai musisi jalanan. Dari yang tadinya cuma cerita rindu personal, lagunya berubah jadi gambaran hidup tentang atmosfer Yogyakarta.
Hasil akhirnya? Bukan cuma balada galau, tapi juga soundtrack yang terasa “Jogja banget.”
Sampai hari ini, “Yogyakarta” masih jadi salah satu karya KLA Project yang paling nempel di hati pendengar. Dan cerita di balik proses kreatifnya, dari ditulis kilat di kamar mandi sampai hampir kehilangan identitas kota—justru bikin lagu ini makin ikonik.
Jadi next time kamu denger lagu ini, inget aja: karya besar kadang lahir dari momen paling sederhana… dan hampir aja kita punya lagu “Yogyakarta” tanpa Jogja. (*)


