BACAAJA – Dunia investasi lagi gak baik-baik saja. Di dalam negeri, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) rontok berjilid-jilid belum lama ini.
Di laur sana, harga Bitcoin (BTC) juga ikutan longsor. Dalam lima hari terakhir, kripto paling populer di dunia itu anjlok sekitar 13 persen dan menyentuh level terendah sejak April tahun lalu.
Pada Rabu (5/2/2026), Bitcoin sempat turun ke kisaran 73.000 dollar AS per koin. Data CoinMarketCap bahkan menunjukkan angka sekitar 72.996 dollar AS, turun hampir 3,8 persen.
Bacaaja: IHSG Ambrol Purbaya Murka! Perintahkan BEI Beresin Saham Gorengan Sebelum Maret
Bacaaja: IHSG Rontok! Dua Hari Berturut Kena Trading Halt, Ekonomi Indonesia Bakal Ambruk?
Parahnya lagi, akhir pekan lalu BTC juga jatuh tajam dan kini mencatat empat bulan berturut-turut mengalami pelemahan.
Salah satu sentimen datang dari pernyataan Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, yang menegaskan pemerintah Amerika tidak punya kewenangan untuk membeli bitcoin atau aset kripto lain. Pernyataan ini langsung bikin pasar makin tertekan.
Nggak cuma itu, investor Michael Burry juga ikut ngasih warning. Ia menilai penurunan berkepanjangan berpotensi memicu kejatuhan nilai yang besar.
Menurutnya, Bitcoin masih dianggap aset spekulatif dan belum benar-benar jadi pelindung nilai seperti emas.
Efek domino pun terasa, Ether dan sejumlah token digital lain ikut melemah.
Firma riset 10X Research menyebut area 73.000 dollar AS sebagai support penting. Tapi melihat arus dana saat ini, sentimen pasar disebut sudah berubah cukup drastis.
Investor pun belum terlihat siap “buy the dip”. Tanpa pemicu positif yang jelas, banyak pelaku pasar memilih mengurangi risiko dan melepas posisi daripada berharap reli cepat.
Tekanan terasa sejak akhir tahun
Pasar kripto sebenarnya sudah terlihat rapuh sejak Oktober, saat aksi jual investor besar dan likuidasi paksa mengguncang industri.
Selain itu, rencana pergantian pimpinan Federal Reserve juga dinilai memberi sinyal kebijakan yang lebih ketat — sesuatu yang biasanya bikin aset berisiko ikut goyah.
Meski begitu, ada sedikit pandangan lebih optimistis. Kepala aset digital Fundstrat, Sean Farrell, menilai area pertengahan 70.000 dollar masih masuk akal sebagai zona penopang harga.
Koreksi ini bahkan bisa membuka peluang masuk secara bertahap, tapi tetap dengan kewaspadaan tinggi.
Intinya pasar kripto lagi super volatile. Buat yang ngikutin, wajib ekstra hati-hati karena arah pergerakannya masih belum jelas. (*)


