BACAAJA, COMO — Cesc Fabregas bebas mengekpresikan semua ide-idenya di dalam dan luar lapanga. Mantan pemain Barcelona itu sangat berterima kasih kepada keluarga Hartono, bos Djarum, selaku pemilik klub sepak bola Como 1907.
Kalau biasanya pelatih cuma fokus di pinggir lapangan, beda cerita sama Cesc Fabregas. Di Como 1907, dia bukan cuma pelatih, tapi juga arsitek di balik proyek besar klub.
Mulai dari taktik, transfer pemain, sampai desain fasilitas latihan. Semua ada campur tangan Fabregas secara langsung.
Bacaaja: Italia Satu Kelas dengan Indonesia, Tidak Lolos Piala Dunia 2026
Bacaaja: Keren Nih! BRI Resmi Jadi Sponsor Barcelona sampe 2027, Fans Indonesia Akses Eksklusif
Dan itu bukan kebetulan. Eks gelandang Arsenal dan Chelsea ini memang dikasih kepercayaan penuh buat ngebangun Como sesuai visinya.
Singkatnya, keluarga pemilik Djarum ngebebasin Fabergas membangun ‘kerajaan’ seperti kemauannya di Como, yang saat ini jadi klub kuda hitam Liga Italia Serie A.
Salah satu hal yang mungkin dianggap sepele, tapi penting bagi Fabregas, adalah ikut turun langsung ngedesain gym di pusat latihan Como 1907.
Nggak asal bikin, dia bahkan kolaborasi sama arsitek pilihan, biar hasilnya sesuai standar yang dia mau. Inspirasinya datang dari mantan manajernya dulu sewaktu di Arsenal, Arsene Wenger.
Konsepnya sederhana tapi kena: gym harus punya view langsung ke lapangan. Tujuannya? Biar pemain yang lagi cedera tetap ngerasa dekat sama tim.
“Gym itu saya desain sendiri, termasuk kaca di depannya. Saya belajar dari Wenger,” kata Fabregas.
Nggak berhenti di situ, bangunan lama di Como juga dia rombak total. Mulai dari fasilitas makan sampai lapangan latihan—semuanya di-upgrade sesuai versinya.
Sampai bebas ngubah ukuran lapangan
Fabregas juga bikin keputusan yang cukup berani di Italia: memperlebar ukuran lapangan stadion. Kenapa? Karena dia pengen Como main dominan, pegang bola, dan tampil menyerang.
“Kalau mau kuasai bola, lapangan harus lebih lebar,” ujarnya.
Keputusan ini sempat dikritik, karena sebagian orang Italia lebih suka gaya bertahan dengan lapangan yang lebih sempit. Tapi Fabregas santai. Buat dia, itu cuma beda cara pandang soal sepak bola.
Salah satu alasan kenapa Fabregas betah di Como: kebebasan penuh dari pemilik klub, yakni Keluarga Hartono.
Semua keputusan penting, termasuk transfer pemain, harus lewat dia. Data dan scouting tetap dipakai, tapi feeling dan keyakinan Fabregas jadi penentu akhir.
“Saya sangat beruntung punya presiden yang percaya penuh,” katanya.
Perjalanan Como juga nggak biasa. Menurut Fabregas, mereka bahkan memulai dari “minus 10”, bukan nol.
Tapi sekarang? Klub ini mulai naik level dan pelan-pelan jadi penantang serius di Serie A. Buat Fabregas, Como itu kayak kampus kehidupan.
“Saya merasa seperti di universitas. Harus ambil banyak keputusan, dan itu bikin saya belajar cepat,” ujarnya.
Dari pemain top dunia, sekarang jadi pelatih yang bangun klub dari nol, atau bahkan minus. Dan sejauh ini, Fabregas nggak cuma ngelatih. Dia lagi bangun kerajaan kecilnya sendiri di Como. (*)

