BACAAJA, SEMARANG – Adrian, mantan awak kapal perikanan migran, buka-bukaan soal kerasnya hidup di kapal asing. Ia menyebut kondisi di laut jauh dari kata manusiawi.
Adrian mulai bekerja di kapal berbendera Taiwan sejak 2019. Ia sempat pulang, pindah kapal, lalu kembali bekerja hingga akhirnya pulang paksa pada 2024.
Selama di kapal, urusan makan jadi masalah besar. Urusan makan-minum serupa pedihnya menghadapi siksaan.
Bacaaja: Tragedi Kapal Perang TNI AL Tembaki Nelayan Negara Sendiri di Sumsel, Apa yang Terjadi?
Bacaaja: Liburan Jadi Zonk! Kapal ke Karimunjawa Rusak, Bikin Wisatawan Naik Darah
Stok terbatas, kualitasnya buruk, bahkan sering sudah kedaluwarsa.
“Kami sering makan makanan yang sudah kedaluwarsa,” kata Adrian saat ditemui di Semarang, Senin (19/1/2026).
Air minum juga tak kalah parah. Airnya hasil sulingan laut dan ditampung di bak yang sudah berkarat.
Meski bau dan rasanya aneh, awak kapal tetap meminumnya. Soalnya tidak ada pilihan lain di tengah laut.
Akibat kondisi itu, banyak awak kapal jatuh sakit. Penyakitnya bermacam-macam dan berlangsung lama.
“Banyak yang sakit, termasuk teman saya,” ujar Adrian.
Parahnya, penanganan kesehatan dinilai asal-asalan. Awak kapal hanya diberi obat yang dibawa sejak awal berangkat.
“Semua penyakit dikasih obat yang sama, kapsul merek Cina,” katanya. Saat dicek, obat itu sudah kedaluwarsa.
Kisah Adrian bukan kasus tunggal. Serikat Buruh Migran Indonesia mencatat ratusan kasus serupa selama bertahun-tahun.
Kasusnya mulai dari kerja paksa, kekerasan, hingga dugaan perdagangan orang. Lemahnya pengawasan jadi celah utama. (bae)


