Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
Reading: Belajar dari Venezuela: Melawan Politik Energi Asimetris
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Belajar dari Venezuela: Melawan Politik Energi Asimetris

Redaktur Opini
Last updated: Januari 15, 2026 8:55 am
By Redaktur Opini
4 Min Read
Share
SHARE

Mokh Sobirin adalah peneliti Indonesian Initiative for Sustainable Mining – IISM.

Kita harus memastikan bahwa mineral di bumi kita adalah instrumen untuk kemakmuran nasional pada masa depan, bukan sekadar pelumas bagi kemajuan industri di Beijing, Washington, atau Brussels.

 

Hukum sebab-akibat sepertinya menjadi hukum yang berlaku untuk semua disiplin ilmu, tak terkecuali politik internasional. Namun, dalam geopolitik modern, sebuah peristiwa tidak selalu lahir dari masa lalu. Terkadang, ia justru merupakan konsekuensi dari “imajinasi” tentang apa yang akan terjadi di masa depan.

Climate change dengan segala implikasinya menjadi satu skenario masa depan yang ingin dihindari. Maka dari itu, hari ini banyak negara sedang berbondong-bondong “mengunci” jalur masa depannya melalui transisi energi hijau. Namun, tidak semua negara memiliki pilihan terbaik, terutama dari sisi ketersedian sumber daya.

Masalahnya, imajinasi tentang masa depan yang bersih itu justru memicu kekacauan di masa kini. Ketegangan global meningkat bukan lagi sekadar karena ideologi, melainkan karena ambisi mengamankan mineral kritis sebagai jantung dari teknologi hijau masa depan.

Ketegangan ini melahirkan apa yang saya sebut sebagai politik energi asimetris. Kondisi ini tercipta ketika negara-negara kuat memproyeksikan kepentingan nasional mereka ke atas kedaulatan negara lain. Mereka tidak lagi melihat negara pemilik sumber daya sebagai mitra, melainkan sebagai “halangan” yang harus dikelola, atau jika perlu ditundukkan.

Venezuela adalah potret kelam dari asimetri ini. Sebagai pemilik cadangan minyak masif, Venezuela justru mengalami kekacauan domestik yang tak lepas dari campur tangan kekuatan luar.

Upaya negara tersebut melindungi cadangan energinya dibaca sebagai ancaman bagi stabilitas pasokan energi global. Di sinilah letak asimetrisnya: hak sebuah bangsa atas buminya sendiri berbenturan dengan ambisi negara kuat untuk menguasainya.

Bagaimana dengan Indonesia? Sebagai “pemain kunci” dalam rantai pasok nikel dan mineral transisi energi lainnya, Indonesia kini masuk dalam radar target pengelolaan oleh kekuatan global dengan berbagai skema yang terlihat elegan tapi mengikat.

Setidaknya ada tiga front yang sedang mengepung kita. Tiongkok telah masuk jauh ke dalam sumsum industri hilirisasi kita melalui skema Belt and Road Initiative (BRI). Ketergantungan modal dan teknologi menciptakan kerentanan baru.

Sementara itu, Amerika Serikat mulai menekan melalui instrumen perdagangan, menawarkan barter akses pasar atau penurunan tarif komoditas lain asalkan mendapatkan kepastian pasokan mineral kritis yang sesuai dengan standar mereka.

Di sisi lain, Uni Eropa memoles diri sebagai pasar potensial, tetapi di saat yang sama menerapkan standar lingkungan dan regulasi yang ketat, seperti The European Union Deforestation Regulation atau EUDR, yang berpotensi menjadi hambatan bagi kedaulatan pengelolaan sumber daya kita sendiri.

Situasi ini menempatkan Indonesia pada posisi asimetris yang nyata: kita memiliki “harta”-nya, tetapi mereka yang memegang kendali atas teknologi, standar, dan harga pasar.

Dalam pusaran ini, politik luar negeri “Bebas-Aktif” Indonesia tidak boleh lagi hanya dimaknai secara pasif melalui jalur diplomasi perdamaian yang normatif. Kita tidak bisa hanya sekadar “mendayung di antara dua karang” jika karang-karang tersebut bergerak untuk menghimpit kita.

Sudah saatnya kita mengakselerasi diplomasi menjadi sebuah usaha diplomasi energi yang strategis. Politik non-blok harus bertransformasi menjadi agenda menuju kedaulatan mineral strategis.

Artinya, diplomasi kita harus diarahkan untuk membangun aliansi dengan sesama negara produsen, misalnya menginisiasi pembentukan “OPEC Mineral”. Hal itu perlu dilakukan agar kita memiliki posisi tawar untuk menjadi price maker, bukan sekadar price taker.

Kita harus memastikan bahwa mineral di bumi kita adalah instrumen untuk kemakmuran nasional pada masa depan, bukan sekadar pelumas bagi kemajuan industri di Beijing, Washington, atau Brussels.

Jika kita gagal bersikap aktif hari ini, imajinasi masa depan yang kita impikan hanya akan menjadi pengulangan sejarah kolonialisme dalam kemasan baru.(*)

 

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

You Might Also Like

Mardiono vs Agus Suparmanto, Drama Faksi PPP yang Tak Pernah Usai

Pada Sebuah Cakram Padat Leonard Cohen

Rindu Masa Kecil Padahal Dulu Ingin Cepat Dewasa

Sekolah Enam Hari, Solusi atau Nostalgia?

Bagaimana Mengumpat Menyelamatkan Kita dari Kegilaan

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Ilustrasi banyak tab kebuka di otak dan banyak ganjalan di kepala. Banyak Ganjalan dan Kebanyakan ‘Tab Kebuka’ di Otak, Bikin Kamu Cepek Tanpa Disadari
Next Article 327 Desa di Jateng Pilih Jalan Antikorupsi

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Kepala Disbudpar Kota Semarang

Lebaran Monyet di Gua Kreo: Kera Berpesta di Sesaji Rewanda, Wisatawan Ikutan Seru-seruan

Niacinamide Bukan Selalu Jawaban, Ini Tiga Kondisi Stop Dulu

Banjir Brebes Gak Cuma Soal Hujan, Menteri PU: Beresi Muara Dulu

PSIS vs Persipal, Laga Hidup Mati di Jatidiri

Cabai Nempel di Lidah, Cerita Lama Jadi Kebiasaan Baru

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Opini

Pajak dan Kisah Suami-Istri

Februari 16, 2026
Menteri Purbaya, ya? Mungkinkah dia cuma jadi bayang-bayang Luhut Binsar Panjaitan, ikut-ikutan tanpa suara sendiri? Atau malah jagoannya Luhut yang siap jadi pemain cadangan di panggung besar?. Gambar ilustrasi: Tim Kreatif/dok. 
Opini

Dari Bayangan Luhut ke Menteri Keuangan: Purbaya Si Anak Buah Kini Jadi Bos

September 10, 2025
Opini

Kekalahan Perempuan di Balik Pertambangan Nikel dan Batu Bara

Desember 29, 2025
Opini

Regulasi Tar-Nikotin: Adaptasi Bijak untuk Ekosistem Tembakau Nusantara

Februari 26, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Belajar dari Venezuela: Melawan Politik Energi Asimetris
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?