BACAAJA, SEMARANG — Saat harga buku baru makin bikin mikir dua kali, sebuah toko kecil di Semarang justru memilih jalan sebaliknya.
Tanpa ribet, tanpa gimmick. Namanya Toko Books Bos, beralamat di Jl. Dorang No.7, Dadapsari, Semarang Utara.
Di sini, rak-rak buku dipenuhi bacaan impor dari Inggris dan Amerika Serikat. Tapi jangan bayangin harga dolar. Buku-buku ini dijual dengan harga yang masih masuk akal, bahkan ramah dompet.
Bacaaja: 10 Spot Buku Paling Asik di Jogja, dari Kafe Kekinian sampai Perpustakaan Megah
Bacaaja: Buku ‘Catatan dari Wadas; Penyelesaian Sengketa Agraria Bendungan Bener’, Merekam Konflik Pemerintah vs Rakyat
Buku-bukunya memang bukan terbitan baru. Mayoritas adalah buku second, tapi masih layak baca. Justru dari situ celahnya.
Saat buku baru sekarang susah ditemukan di bawah Rp100 ribu, di Books Bos pembaca masih bisa membawa pulang buku dengan harga sekitar Rp45 ribu.
Rahma (48), pegawai yang sudah bekerja di Toko Books Bos sejak 2002, bilang mahalnya buku baru jadi alasan utama kenapa buku impor bekas tetap dicari.
“Selisih harganya jauh. Banyak yang akhirnya milih buku second daripada harus beli buku baru yang mahal,” ujarnya.
Keputusan mengimpor buku bekas pun bukan ikut-ikutan tren. Saat pertama kali dijalankan, jalur ini terbilang nekat. Belum banyak toko yang berani mengimpor buku second, risikonya besar, peminatnya juga belum tentu ada.
Tapi justru karena jarang, peluangnya terbuka.
Dari pembaca umum sampai perpustakaan sekolah
Pelan-pelan, buku-buku impor ini menemukan pasarnya sendiri. Bukan cuma pembaca umum, tapi juga sekolah-sekolah.
Sejak sekitar 2016, Toko Books Bos mulai menyuplai buku ke perpustakaan sekolah nasional untuk memenuhi kebutuhan literasi. Buku-buku bacaan berbahasa Inggris jadi alternatif yang dicari, terutama karena harganya lebih masuk akal.
Pengunjung toko datang dari berbagai usia. Mahasiswa jadi salah satu pelanggan paling sering, biasanya cari novel, referensi kuliah, atau bacaan santai. Anak-anak juga rutin mampir, terutama berburu buku cerita.
Jenis buku ini pula yang paling sering diisi ulang stoknya, karena perputarannya stabil.
Menariknya, buku-buku “berat” juga tetap dicari. Mulai dari tafsir, hermeneutika, sampai filsafat.
Hanya saja, stoknya terbatas dan datang tidak rutin, biasanya enam bulan sekali. Begitu datang, buku-buku ini sering langsung habis.
Bertahan dengan cara sederhana
Toko Books Bos buka setiap hari pukul 09.00–16.00 WIB. Menjelang sore, suasana biasanya mulai sepi. Di jam-jam lengang itu, Rahma dan rekan-rekannya merawat buku — membersihkan, memilah, dan menyelamatkan buku yang mulai rusak.
Namanya juga buku bekas. Rayap, debu, dan usia jadi tantangan yang nggak bisa dihindari.
Toko ini berdampingan dengan usaha percetakan yang sudah lebih dulu berdiri. Keduanya tumbuh bareng, menyatu dalam perjalanan panjang Books Bos yang masih bertahan sampai hari ini.
Di tengah gempuran dunia digital dan perubahan cara orang membaca, Toko Books Bos memilih bertahan dengan caranya sendiri. Buku-buku lama, harga terjangkau, dan pembaca setia jadi modal utama.
Tanpa banyak suara, toko kecil ini terus membuka pintu — supaya membaca tetap bisa diakses siapa saja. (dul)


