BACAAJA, SEMARANG- Suasana Masjid At-Taubah Lapas Kelas I Semarang tampak semarak, Selasa (6/1/2026). Kepala Lapas Kelas I Semarang, Ahmad Tohari hadir langsung dalam kegiatan perlombaan kerohanian yang digelar untuk menyambut Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah.
Lomba antar warga binaan ini menjadi bagian dari program pembinaan kepribadian, sekaligus cara Lapas menyemarakkan salah satu hari besar umat Islam dengan pendekatan yang lebih humanis dan bermakna.
Baca juga: Bebas dari Lapas, Napiter Perempuan Asal Malaysia Langsung Dideportasi dari Semarang
Dalam peringatan Isra Mi’raj tahun ini, bidang pembinaan Lapas menjadwalkan sejumlah lomba bernuansa religi. Mulai dari adzan dan iqamah, murottal Alquran, tausiah, hingga asmaul husna. Seluruhnya diikuti dengan antusias oleh para warga binaan.
Masjid At-Taubah pun jadi pusat kegiatan, bukan sekadar tempat ibadah, tapi juga ruang pembinaan mental dan spiritual yang hidup. Selama empat hari ke depan, rangkaian lomba ini akan berlangsung dan dinilai oleh dewan juri dari pegawai Lapas Kelas I Semarang yang kompeten di bidangnya.
Peristiwa Penting
Isra Mi’raj sendiri merupakan peristiwa penting dalam sejarah Islam, yakni perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa hingga Sidratul Muntaha. Dari peristiwa inilah umat Islam menerima perintah salat lima waktu, yang menjadi pondasi utama dalam kehidupan beragama.
Kepala Lapas Kelas I Semarang, Ahmad Tohari menegaskan, kegiatan keagamaan semacam ini memiliki peran strategis dalam proses pembinaan. “Masjid At-Taubah menjadi ruang pembinaan yang sangat penting bagi warga binaan. Melalui kegiatan keagamaan, kami berharap nilai keimanan, akhlak, dan kedisiplinan bisa terus tumbuh sebagai bekal untuk menjadi pribadi yang lebih baik,” ujarnya.
Baca juga: Kado Natal di Lapas Semarang, Ada Bagi-bagi Diskon Hukuman
Melalui momentum Isra Mi’raj ini, Lapas Kelas I Semarang menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan pembinaan yang tidak hanya menertibkan, tapi juga memanusiakan, demi mendukung proses reintegrasi sosial warga binaan ke masyarakat.
Di balik jeruji, lantunan adzan tetap menggema, hafalan tetap diuji, dan pesan moral tetap berjalan. Kadang, bukan tempatnya yang membatasi perubahan, tapi niat manusianya. Dan di Masjid At-Taubah, niat itu sedang dilatih, satu lomba demi satu lomba. (tebe)


