BACAAJA, SEMARANG- Tahun 2026 baru seumur jagung, tapi Pemkot Semarang sudah tancap gas lewat kebijakan yang langsung nyentuh akar rumput. Bantuan operasional untuk pelayan umat atau tali asih (bisyarah) resmi diperluas. Bukan sekadar nambah nama, tapi juga melonjak 56,7 persen.
Pengumuman itu disampaikan saat Upacara Hari Amal Bhakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama RI di halaman Balai Kota Semarang, Sabtu (3/1/2026). Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng yang diwakili Wakil Wali Kota Iswar Aminuddin menyampaikan langsung kabar ini di hadapan peserta upacara.
Kalau pada 2025 penerima bisyarah tercatat 6.572 orang, kini di 2026 jumlahnya naik signifikan jadi 10.297 penerima. Yang kebagian bukan satu-dua profesi, tapi para penjaga ritme sosial kota: guru ngaji, pengelola rumah ibadah, perawat jenazah, hingga pelayan umat yang selama ini kerja senyap tapi efeknya panjang.
Baca juga: Ribuan Guru, Marbot, hingga Perawat Jenazah Kini Dapat Bisyarah dari Pemkot Semarang
“Penambahan ini bentuk kehadiran negara. Mereka yang menjaga nilai keagamaan, kerukunan sosial, dan harmoni di masyarakat harus mendapatkan perhatian yang layak dari pemerintah daerah,” kata Iswar.
Menurutnya, kebijakan ini sejalan dengan tema besar HAB ke-80 Kemenag: “Umat Rukun, Indonesia Maju.” Karena kota yang damai itu bukan cuma soal jalan mulus dan gedung tinggi, tapi juga soal orang-orang yang tiap hari merawat ketenangan sosial dari balik layar.
Terus Diperkuat
Iswar juga menegaskan, kolaborasi antara Pemkot Semarang dan Kementerian Agama bakal terus diperkuat. Targetnya jelas: kebijakan keagamaan jangan berhenti di atas kertas, tapi benar-benar sampai ke tangan mereka yang bekerja langsung di tengah masyarakat.
“Hubungan Pemkot dan Kemenag sudah terjalin baik. Ke depan akan terus kita dorong lewat inovasi pelayanan supaya manfaatnya makin dirasakan warga,” ujarnya.
Baca juga: Ratusan Hafiz Terima Tali Asih dari Pemprov Jateng, Setiap Santri Dapat Rp1 Juta
Lebih jauh, peringatan HAB ke-80 ini jadi momen refleksi untuk membangun ekosistem sosial-keagamaan yang inklusif, adil, dan berkelanjutan di Kota Semarang. “Inilah esensi Hari Amal Bhakti: menghargai pengabdian dan menjaga persaudaraan agar tetap kokoh,” pungkas Iswar.
Kadang yang paling rajin jaga ketenangan kota justru yang paling jarang disorot. Untungnya, di Semarang tahun ini, pengabdian nggak cuma dibalas doa, tapi juga anggaran. (tebe)


