Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Kata Mas Tri Sastra Nggak Bikin Kaya, tapi Kenapa Masih Banyak yang Bertahan?
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Lakon Lokal

Kata Mas Tri Sastra Nggak Bikin Kaya, tapi Kenapa Masih Banyak yang Bertahan?

R. Izra
Last updated: Januari 4, 2026 12:32 pm
By R. Izra
2 Min Read
Share
SHARE

BACAAJA, SEMARANG — Kalau tujuannya cepat kaya, jadi sastrawan jelas bukan pilihan yang masuk akal. Hal itu juga tidak dibantah oleh sastrawan Triyanto Triwikromo.

Menurutnya, sastra sejak awal memang tidak pernah menjanjikan kesejahteraan finansial.

Dalam obrolan di program Lakon Lokal bacaajadotco, Triyanto dengan lugas mengatakan bahwa hanya segelintir penulis yang benar-benar bisa hidup dari penjualan buku.

Bacaaja: Om Shinjo, Badut Semarang yang Hidup dari Tawa Anak
Bacaaja: Slank Kembali Setelan Pabrik, Bikin Lagu Galak Republik Fufufafa

Itu pun biasanya mereka yang karyanya dicetak berulang kali dan punya pasar luas.

“Kalau cuma mengandalkan royalti buku, ya berat,” kurang lebih begitu sikapnya.

Realitas itu membuat banyak sastrawan akhirnya mencari jalan lain. Ada yang mengajar, bekerja di media, menulis skenario, atau masuk ke industri kreatif.

Bagi Mas Tri, pilihan itu bukan bentuk kekalahan, tapi cara bertahan hidup yang masuk akal.

Ia menegaskan, sastra memang tidak berdiri sebagai mesin uang. Tapi bukan berarti tidak punya nilai.

Nilai sastra, kata Triyanto, justru terletak pada perannya membangun cara berpikir, membentuk kesadaran, dan menjaga kepekaan manusia.

Karena itu, ia tidak sepakat jika sastra diukur semata-mata dengan angka penjualan. Sastra bekerja di wilayah yang lebih sunyi: mempengaruhi cara orang melihat dunia, meski pelan dan tidak selalu terasa langsung.

Di era digital seperti sekarang, situasinya memang semakin kompleks. Teknologi membuka banyak peluang, tapi juga memunculkan godaan untuk mengorbankan kedalaman demi kecepatan.

Sastra yang terlalu tunduk pada logika pasar, menurut Triyanto, berisiko kehilangan ruhnya.

Meski begitu, ia juga tidak romantis berlebihan. Trianto sadar, sastrawan tetap manusia yang harus makan. Karena itu, menurutnya, penting bagi penulis untuk lentur punya banyak peran, tanpa harus menggadaikan prinsip kepenulisannya.

Pada akhirnya, sastra dan ekonomi memang tidak pernah benar-benar akur. Tapi justru di ketegangan itulah, banyak sastrawan memilih bertahan.

Bukan karena sastra menjanjikan kekayaan, melainkan karena menulis memberi sesuatu yang tidak bisa digantikan uang: makna. (dul)

You Might Also Like

Drama Lanjutan PBNU: Muncul Edaran Gus Yahya Nggak Lagi Ketum per 26 November 2025

Fajar 2026 Bikin Omzet UMKM Naik Berkali Lipat

Widodo Buka Jalan Talenta Lokal Masuk PSIS

Viral Trek Lari TLJ Ngelupas, Netizen: Bisa Dijadiin “Selimut”

Puan Buka Suara Soal Kasus FH UI: “No Excuse!”

TAGGED:headlinelakon lokalsastrawansastrawan semarangtriyanto triwikromo
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Ilustrasi pelaku teror yang berafiliasi pada jaringan teroris. Orang Tua Hati-hati, Anak Sedang Dalam Fase Ini Jadi Sasaran Empuk Jaringan Terorisme
Next Article Tersangka pengeroyokan pesilat Pagar Nusa diamankan Polres Demak. 7 Pengeroyok Pesilat Pagar Nusa Akhirnya Ketangkap, Kata Polisi Ada yang Keliru

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Industri Kreatif Bisa Jadi “Mesin Kerja” Anak Muda

DARI PERENCANAAN KE AKSI - PLN Icon Plus menyiapkan strategi dengan memperkuat kemampuan tim dalam membaca pasar, memahami kebutuhan pelanggan, hingga mengubah peluang menjadi rencana bisnis.

Dari Insight ke Aksi, PLN Icon Plus Dorong Pertumbuhan Bisnis PV Rooftop lewat PV Academy

Puan Ajak Parlemen Remaja Kenal Politik dari Dekat, Bukan Cuma dari Medsos

Mahasiswa Diminta Tak Cuma Jadi Komentator

Ilustrasi keracunan MBG. (wahyu/grafis)

Nah Lho! Kepala SPPG Karanganyar Muntah-muntah Cicipi Menu MBG untuk Ibu Hamil

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

SAKSI SIDANG--Kepala Desa Sidoluhur, Sudardi duduk di kursi roda saat bersaksi di sidang korupsi Bupati Pati, Sudewo, di Semarang, Senin (10/8/2026). (bae)
Hukum

Sakit dan Pakai Kursi Roda, Kades dari Pati Tetap Bersaksi di Sidang Sudewo

Agustus 10, 2026
TPID Jateng gelar operasi pasar untuk kendalikan harga cabai yang makin pedas.
Ekonomi

BBM Naik, Pemprov Siapkan Operasi Pasar

Juni 12, 2026
Olahraga

Hari Pertama Langsung Gaspol, Jateng Borong Empat Emas di Popnas

November 4, 2025
Daerah

Pemkot Semarang Masih Butuh 63 Dapur SPPG buat Program MBG

September 9, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Kata Mas Tri Sastra Nggak Bikin Kaya, tapi Kenapa Masih Banyak yang Bertahan?
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?