BACAAJA, TEHERAN – Negeri para Mullah sedang tidak baik-baik saja. Iran sedang bergolak.
Gelombang protes akibat krisis ekonomi di Iran makin panas dan berujung tragedi.
Demonstrasi yang awalnya menyoroti kondisi ekonomi yang makin cekik leher kini berubah jadi demo berdarah, dengan tujuh orang dilaporkan tewas di sejumlah wilayah.
Bacaaja: Setelah Nepal, Madagaskar Membara: Demo Krisis Listrik Berujung Tragedi
Bacaaja: Demonstran Agustus Meninggal di Rutan Madaeng, KontraS: Alarm Gagalnya Negara
Media Iran International melaporkan, tiga demonstran tewas di Kota Azna, sementara empat korban jiwa lainnya jatuh akibat bentrokan di daerah berbeda.
Situasi di lapangan disebut kacau, dengan aparat keamanan dan massa aksi saling berhadapan.
Aksi protes ini mulai pecah sejak Minggu (28/12), dipicu anjloknya nilai tukar mata uang Iran, rial, yang menyentuh rekor terendah sepanjang sejarah: 1,42 juta rial per dolar AS.
Kondisi ini bikin banyak warga, terutama pedagang, kelimpungan karena harga-harga melonjak dan bisnis makin susah jalan.
Di tengah situasi itu, pemerintah Iran dinilai diam dan tak sigap, memicu kemarahan publik yang akhirnya tumpah ke jalanan.
Krisis ekonomi Iran sendiri sudah berlangsung lama akibat sanksi internasional dari negara-negara Barat. Tekanan makin berat setelah PBB kembali memberlakukan sanksi terkait program nuklir Teheran.
Tuntutan ganti rezim
Menariknya, demo yang awalnya fokus ke soal perut kini berubah arah. Para demonstran mulai menyerukan tuntutan pergantian rezim dan meneriakkan slogan anti-pemerintah hingga pro-monarki.
Menurut Iran International, ini jadi momen langka karena slogan pro-monarki kembali mendominasi demo, sesuatu yang nyaris tak terdengar dalam hampir lima dekade terakhir.
Sejumlah video yang beredar memperlihatkan massa membakar seminari Syiah di wilayah barat Iran.
Patung Qassem Soleimani, mantan komandan pasukan elite Quds IRGC, juga dibakar di Kota Lali—tepat saat peringatan kematiannya akibat serangan AS pada 2020.
Gedung ikut dibakar
Aksi demo terus berlanjut hingga malam tahun baru, Kamis (31/12). Massa ramai-ramai meneriakkan slogan yang menyasar langsung Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Di sisi lain, aparat keamanan dilaporkan terlibat bentrokan langsung dengan demonstran dan melepaskan tembakan. Sejumlah mobil dibakar, dan kantor pemimpin salat Jumat di Kota Junqan ikut jadi sasaran amuk massa.
Di tengah tekanan publik, pemerintah Iran mulai melakukan perombakan. Pada Senin (29/12), posisi gubernur bank sentral diganti dengan mantan Menteri Ekonomi dan Keuangan, Abdolnasser Hemmati.
Tak lama berselang, Presiden Iran Masoud Pezeshkian juga menunjuk mantan gubernur bank sentral Mohammad-Reza Farzin sebagai ajudan ekonomi khusus.
Namun hingga kini, langkah-langkah itu belum cukup meredam amarah publik. Situasi Iran masih panas, dan dunia internasional terus memantau apakah gelombang protes ini akan mereda atau justru makin membesar. (*)


