Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Banjir Bandang Sumatera Bisa Terulang, Ini Alarm Keras
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Info

Banjir Bandang Sumatera Bisa Terulang, Ini Alarm Keras

Akar persoalan justru mengarah ke tata kelola perizinan yang tak selaras dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan, terutama di kawasan sub daerah aliran sungai. Ketika izin terus keluar tanpa hitung-hitungan ekologis, risiko bencana tinggal menunggu waktu.

Nugroho P.
Last updated: Desember 30, 2025 10:52 am
By Nugroho P.
4 Min Read
Share
Ilustrasi bencana banjir bandang yang menghanyutkan kayu-kayu gelondongan.
Ilustrasi bencana banjir bandang yang menghanyutkan kayu-kayu gelondongan.
SHARE

BACAAJA, JAKARTA – Banjir bandang yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat bukan sekadar bencana musiman. Polanya berulang, dampaknya makin luas, dan sinyal bahayanya kian terang. Banyak pihak menilai, ini bukan lagi soal hujan deras semata.

Akar persoalan justru mengarah ke tata kelola perizinan yang tak selaras dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan, terutama di kawasan sub daerah aliran sungai. Ketika izin terus keluar tanpa hitung-hitungan ekologis, risiko bencana tinggal menunggu waktu.

Guru Besar IPB University, Chusnul Arif, menilai kondisi tersebut mencerminkan kebijakan yang belum sepenuhnya berpihak pada keberlanjutan. Pengawasan di lapangan lemah, audit ekologis kurang jalan, sementara AMDAL sering berhenti di atas kertas.

Masalah makin kompleks karena pembangunan ekonomi masih bertumpu pada pola ekstraktif. Hutan dibuka, lahan dikapling, sungai kehilangan fungsi alaminya. Alam akhirnya menanggung beban yang kelewat batas.

Di sisi lain, ruang publik ikut menyempit. Tanah dan air yang seharusnya menjadi penyangga kehidupan justru dikuasai kepentingan usaha. Masyarakat di hilir pun jadi pihak paling rentan ketika bencana datang.

Chusnul Arif mengingatkan, terlalu mudah menyalahkan faktor alam seperti siklon tropis. Padahal, ada problem sistemik dalam tata kelola yang terus diabaikan. Hujan ekstrem hanya pemicu, bukan biang utama.

Penanganan pascabencana pun dinilai masih reaktif. Bergerak cepat saat banjir datang, tapi minim upaya pencegahan jangka panjang. Begitu air surut, isu perlahan tenggelam.

Janji pencabutan izin dan evaluasi kebijakan sering muncul setelah bencana. Namun, publik bertanya-tanya, apakah itu langkah nyata atau sekadar wacana sesaat.

Koordinasi antar lembaga juga kerap tersendat. Birokrasi yang kaku membuat penyaluran bantuan tak selalu mulus. Di lapangan, korban butuh kecepatan, bukan tarik-ulur kewenangan.

Guru Besar Kehutanan USU, Muhammad Basyuni, menyoroti minimnya edukasi kebencanaan. Kasus warga yang terjebak banjir bandang di dalam mobil menunjukkan rendahnya pemahaman risiko, terutama di wilayah rawan.

Tumpukan kayu gelondongan yang terbawa arus banjir jadi bukti nyata rusaknya fungsi hutan. Sungai yang seharusnya membawa air jernih justru menyeret pasir, batu, hingga batang kayu besar.

Menurut Basyuni, kayu-kayu itu bukan muncul tiba-tiba. Bisa berasal dari pembalakan liar, penebangan legal yang tak terkendali, hingga praktik pencucian kayu yang terorganisir.

Hutan dalam DAS sejatinya punya peran vital. Kanopi pohon menahan air hujan, akar menyerap dan menyimpan air, lalu melepaskannya perlahan. Saat fungsi ini rusak, banjir bandang jadi ancaman nyata.

Jika kawasan hulu tak segera dipulihkan, bencana serupa sangat mungkin terulang. Bahkan, dampaknya bisa lebih parah saat cuaca ekstrem kembali terjadi.

Sebagai jalan keluar, Chusnul Arif mendorong perubahan paradigma. Tata kelola berkelanjutan harus jadi pegangan utama, bukan sekadar jargon.

Moratorium aktivitas ekstraktif di hulu DAS, penetapan DAS sebagai basis perencanaan pembangunan, serta reboisasi besar-besaran dinilai mendesak untuk dilakukan.

Tak kalah penting, penegakan hukum harus tegas. Tanggung jawab perusahaan perlu ditelusuri lewat investigasi spasial, lalu dibarengi kewajiban pemulihan ekologis.

Pada akhirnya, bencana banjir di Sumatera adalah peringatan keras. Selama pembangunan masih mengabaikan keseimbangan alam, banjir bandang bukan soal “jika”, tapi tinggal menunggu “kapan” terulang lagi. (*)

You Might Also Like

Cek Layanan KA, Wagub Sambangi Stasiun Tawang

PSIS Semarang Memastikan Diri Degradasi

KNPI dan Kesbangpol Semarang Hadirkan Forum Debat Kekinian, Mahasiswa Bicara Tanpa Batas

Respons Agustina Wilujeng setelah Terseret dalam Dakwaan Korupsi Chromebook

Tak Tahan Pegang Duit Panas, Istri Tersangka Korupsi BUMD Cilacap Balikin Rp6,5 Miliar

TAGGED:banjirbanjir bandangbanjir sumatera
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Lagi Punya Utang, Sedekah Dulu atau Lunasi Dulu? Begini kata Islam
Next Article Superflu Lagi ‘Ganas’ di New York, UGD Sampai Kewalahan

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

KEINDAHAN ALAM PAPUA - Keindahan sungai biru di Papua. (Indonesia.gi.id)

Polemik ‘Pesta Babi’ Bikin Narasi ‘Papua Bukan Tanah Kosong’ Viral Lagi

TEKEN KERJA SAMA--Prosesi penandatanganan oleh Kadaop 4 Semarang dan Kadaop lain dalam rangka pengamanan aset, Selasa (12/5/2206). (ist)

Nggak Mau Lahan KAI Diserobot, Daop 4 Semarang Minta Bantuan BPN

LCC BERMASALAH - Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI di Kalbar yang berujung polemik.

Berani Protes Juri LCC 4 Pilar MPR RI Kalbar, Siswi SMAN 1 Pontianak Ditawari Beasiswa ke Tiongkok

Sepuluh Pemprov Kumpul di Semarang, Bahas Sampah sampai Tembok Laut Raksasa

Orang Jawa Itu Manusia Kerja Sekaligus Manusia Doa

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Info

Tanggul Jebol, 254 Warga Pekalongan Masih “Nginap” di Pengungsian

Maret 30, 2026
ilustrasi Ibadah Haji.
Info

Peringatan Calon Haji!! Belum Wukuf Sudah Tumbang, Jamaah Diminta Rem Dulu Tenaganya

Mei 7, 2026
Daerah

Banjir Kepung Pekalongan, Wagub Soroti Penanganan Berlapis

Januari 19, 2026
Daerah

Update Terbaru Kabar Longsor Majenang di Balik Jalan Terjal Pencarian Hari Ini

November 15, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Banjir Bandang Sumatera Bisa Terulang, Ini Alarm Keras
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?