BACAAJA, SEMARANG– Anak seharusnya mendapat rasa aman dari orang-orang di sekitarnya. Namun, kondisi di lapangan justru menunjukkan hal sebaliknya. Orang yang seharusnya menjadi tempat berlindung anak tak jarang justru menjadi pelaku kekerasan seksual.
Kepala Bidang Perlindungan Hak Perempuan dan Anak (PHPA) DP3AKB Provinsi Jawa Tengah, Ilma Patriani mengatakan, pelaku kekerasan seksual terhadap anak sejauh ini banyak berasal dari lingkungan terdekat korban.
“Rata-rata adalah orang terdekat, orang-orang yang seharusnya mengayomi, melindungi, tetapi pada kenyataannya justru dialah yang menjadi pelakunya,” kata Ilma dalam Podcast Ruang Baca yang dilansir dari kanal YouTube Bacaajadotco.
Menurut Ilma, kondisi tersebut menjadi persoalan serius karena kedekatan antara korban dan pelaku membuat anak berada dalam situasi yang sulit. Sosok yang dipercaya keluarga maupun anak justru dapat menyalahgunakan kepercayaan tersebut.
Karena itu, ia meminta orang tua dan lingkungan sekitar tidak hanya mengajarkan anak untuk mengenali orang asing, tetapi juga membangun pemahaman mengenai batasan tubuh, sentuhan yang boleh dan tidak boleh, serta keberanian untuk menyampaikan ketika mengalami perlakuan yang membuat tidak nyaman.
Baca juga: Mereka yang Diam-Diam Mendukung Pelaku Kekerasan Seksual
Edukasi tersebut, kata Ilma, perlu diberikan sejak dini melalui pemahaman mengenai kesehatan reproduksi. Sebab, masih ditemukan anak yang tidak menyadari bahwa perlakuan tertentu yang dialaminya merupakan bentuk pelecehan seksual.
“Beberapa yang kami temui, anak-anak ini enggak paham ternyata itu merupakan bentuk pelecehan seksual yang dia alami,” ujarnya. Menurutnya, ketidakpahaman anak dapat membuat korban terlambat menyadari dan menceritakan pengalaman yang dialaminya. Kondisi tersebut semakin sulit ketika anak tidak memiliki ruang aman untuk berbicara.
Karena itu, keberanian untuk menyampaikan atau speak up perlu dibangun sejak anak-anak. Ilma mendorong anak agar tidak hanya mampu melindungi dirinya sendiri, tetapi juga berani merespons ketika melihat temannya mengalami perlakuan yang tidak semestinya.
“Ketika dia melihat temannya dilecehkan, teman yang lain sudah langsung merespons, melaporkan ke guru BK atau kemudian mengatakan jangan atau lari,” jelasnya.
Ruang Digital
Selain terjadi secara langsung, ancaman terhadap anak kini juga berkembang ke ruang digital. Ilma menyebut kekerasan berbasis gender online atau KBGO menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian bersama.
Anak, menurutnya, tidak hanya berpotensi menjadi korban kekerasan secara langsung, tetapi juga dapat menjadi korban melalui dunia maya. “Fenomena kekerasan di ranah daring ini sedang menjadi PR untuk kita semua,” katanya.
Untuk mengantisipasi persoalan tersebut, Ilma menilai perlindungan anak harus dilakukan secara menyeluruh dengan melibatkan keluarga, sekolah, pemerintah, komunitas anak hingga masyarakat.
Ia juga menekankan pentingnya membangun sistem perlindungan yang membuat anak memiliki tempat aman untuk bercerita ketika menghadapi persoalan.
Menurutnya, Forum Anak Jawa Tengah dan Forum Genre dapat menjadi bagian dari sistem tersebut karena anak terkadang lebih nyaman berkomunikasi dengan teman sebayanya.
Baca juga: Mahasiswi Unsoed Korban Kekerasan Seksual Oknum Profesor Masih Trauma
“Kadang anak-anak kita lebih nyaman ketika berkomunikasi ataupun curhat dengan teman-teman sebaya,” tutur Ilma. Ia berharap masyarakat tidak menunggu sampai kekerasan terjadi untuk mulai memberikan perlindungan. Edukasi, pendampingan dan komunikasi terbuka antara orang tua dengan anak harus dibangun sejak awal.
Sebab, menurut Ilma, perlindungan anak bukan hanya menjadi tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama. “Semua anak harus kita lindungi tanpa terkecuali karena semua anak adalah anak kita,” pungkasnya.
Sebab, kalau tempat yang seharusnya menjadi zona aman justru berubah menjadi sumber ancaman, yang perlu diperbaiki bukan keberanian anak untuk bicara saja, tetapi juga keberanian orang dewasa untuk benar-benar mendengar dan melindungi. (dul)

