Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Biaya Mahal Bukan Alasan, Pilkada Lewat DPRD Tanda Elite Mulai Takut Rakyat Kritis
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Politik

Biaya Mahal Bukan Alasan, Pilkada Lewat DPRD Tanda Elite Mulai Takut Rakyat Kritis

R. Izra
Last updated: Januari 6, 2026 8:43 am
By R. Izra
3 Min Read
Share
SHARE

BACAAJA, JAKARTA – Wacana kepala daerah dipilih lewat DPRD terus menuai kritik. Kali ini, sorotan datang dari pengamat politik Adi Prayitno.

Menurut Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia (PPI), ide tersebut bukan sekadar soal efisiensi anggaran, tapi mencerminkan ketakutan elite politik terhadap rakyat yang makin kritis.

Adi menilai, elite kini mulai kehilangan kendali. Rakyat tak lagi pasif, tapi punya “senjata” baru: menghukum politisi lewat bilik suara.

Bacaaja: Partai Orba Ngotot Pilkada Balik ke DPRD, Ini Parpol yang Merapat Masuk Barisan
Bacaaja: Pilkada lewat DPRD Bentuk Kemunduran Demokrasi, Pengamat: Politik Transaksional

“Ada kesan elite mulai takut ke rakyat. Rakyat sekarang kritis dan susah dikendalikan. Mereka bisa menghukum elite dengan cara tidak memilih di pilkada karena kinerjanya buruk. Ini yang ditakuti, makanya ingin lewat DPRD saja,” kata Adi, Senin (29/12/2025).

Pangkas hak rakyat

Menurut Adi, jika pilkada benar-benar dialihkan ke DPRD, yang paling rugi 100 persen adalah rakyat. Sebab, rakyat kehilangan hak paling fundamental dalam demokrasi: memilih pemimpinnya sendiri.

“Jantung demokrasi itu memilih pemimpin secara langsung, bukan diwakilkan ke DPRD,” tegasnya.

Ia juga menyoroti ironi besar di balik wacana ini. Di saat kinerja DPRD kerap jadi sasaran kritik publik, justru lembaga itulah yang akan diberi kewenangan menentukan kepala daerah.

“Ini paradoks. Kinerja DPRD sering disorot, tapi malah diberi kekuasaan lebih besar. Ini sama saja menggunting hak rakyat,” ujarnya.

Biaya politik mahal bukan alasan

Adi juga membantah alasan klasik elite: ongkos politik mahal. Menurutnya, mahalnya biaya pilkada bukan kesalahan rakyat, melainkan buah dari sistem politik yang rusak.

“Jawabannya bukan pilkada lewat DPRD. Jawabannya perbaiki sistem kompetisinya,” kata Adi.

Ia menegaskan, sumber masalah ada pada praktik politik uang dan mekanisme pencalonan di partai politik, karena mayoritas calon kepala daerah berasal dari parpol.

Meski kritik berdatangan, sejumlah partai tetap satu barisan mendukung pilkada lewat DPRD. Di antaranya Gerindra, Golkar, PKB, dan Nasdem.

Sekjen Gerindra Sugiono menyebut biaya kampanye pilkada langsung sudah terlalu mahal dan jadi penghalang bagi orang-orang berkualitas untuk maju.

“Biaya kampanye itu prohibitif, mahal. Ini yang harus dievaluasi,” kata Sugiono.

Menurutnya, sistem pilkada lewat DPRD bisa membuat proses lebih efisien, baik dari sisi mekanisme maupun anggaran.

Elite vs Rakyat

Di tengah dorongan elite untuk “efisiensi”, kritik publik makin keras. Banyak pihak menilai wacana ini bukan solusi, melainkan langkah mundur demokrasi.

Pertarungannya kini jelas: elite ingin aman dari hukuman rakyat, rakyat ingin tetap memegang hak memilih.

Dan pertanyaannya tinggal satu: demokrasi mau diselamatkan, atau justru dipersempit? (*)

You Might Also Like

Jangan Sampai Nyangkut, Pemprov Jateng Buka Posko THR

Anak Buah Cak Imin Bilang MBG Gak Butuh Ahli Gizi: Pembuat Kebijakan Itu Saya!

Demak Kebanjiran (Lagi), Pemprov: “Gak Bisa Tambal Sulam Terus”

Jalur Bumiayu Mulai Pulih, KAI Daop 4 Semarang tetap Buka Peluang Refund Tiket

Pemprov Dorong Penggunaan Bioplastik

TAGGED:adi prayitnodprdelite takut rakyatheadlinepengamat politikpilkadapilkada lewat dprd
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Baru Dilantik, Lima Kepala Daerah Tumbang di Tahun Sama
Next Article Slank kembali galak dengan realitas sosial dengan merilis lagu 'Republik Fufufafa'. Slank Kembali Setelan Pabrik, Bikin Lagu Galak ‘Republik Fufufafa’

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Asyik Joget Dangdut, Motor Dibawa Kabur

Sekda Minta Satpol PP Lebih Humanis

Suami di Kebumen Ngamuk: Istri dan Mertua Tewas Dianiaya

Panitia PSMTI Funwalk & Run Jaring Peserta ke Sejumlah Kota

ANTISIPASI VIRUS--Selebaran berisi edukasi pencegahan Hantavirus yang dibuat Polda Jateng. (ist)

Hantavirus Lagi Rame, Semarang Masih Aman tapi . . . .

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Ilustrasi anak-anak korban keracunan massal mendapat perawatan medis di fasilitas pelayanan kesehatan.
Opini

Dari Makan Bergizi Gratis ke Makan Beracun Gratis: Menu Baru dari Dapur Kekuasaan

September 20, 2025
Ilustrasi aksi demonstrasi.
Politik

Demo di DPR: Peserta Puluhan Orang, Pasukan Pengamanan yang Disiapkan 1.250 Personel

Agustus 25, 2025
Badan Legislasi DPR bareng Menteri Hukum dan PPUU DPD ngadain rapat buat evaluasi Prolegnas RUU Prioritas 2025. Dari 42 RUU, sudah banyak yang jalan, termasuk RUU seru soal industri, pekerja platform, dan perampasan aset. Foto: dok/ist.
Unik

Baleg DPR Gas Pol Evaluasi Prolegnas 2025, RUU Perampasan Aset Masuk Prioritas

September 10, 2025
Info

Pemprov Siagakan Mobil Speling di Sirampog

Februari 18, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Biaya Mahal Bukan Alasan, Pilkada Lewat DPRD Tanda Elite Mulai Takut Rakyat Kritis
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?