Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Banjarnegara di Atas Lereng Rapuh: Saatnya Serius Mengelola Ekosistem Sebelum Longsor Kembali Menelan Korban
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Banjarnegara di Atas Lereng Rapuh: Saatnya Serius Mengelola Ekosistem Sebelum Longsor Kembali Menelan Korban

Ke depan, pengelolaan ekosistem eksisting perlu ditempatkan sebagai strategi utama pencegahan bencana. Penguatan vegetasi di lereng, perlindungan kawasan hulu, serta perbaikan sistem drainase dan pengelolaan aliran sungai harus dilakukan secara konsisten. Penataan ruang berbasis peta kerawanan longsor juga menjadi keharusan, agar aktivitas pembangunan tidak lagi dilakukan di wilayah yang berbahaya.

Nugroho P.
Last updated: Desember 29, 2025 11:56 am
By Nugroho P.
4 Min Read
Share
Sekar Antik Larasati
SHARE

BANJARNEGARA  sejak lama dikenal sebagai wilayah pegunungan yang indah. Namun, di balik keindahan tersebut tersimpan kerentanan ekologis yang sewaktu-waktu dapat berubah menjadi bencana. Peristiwa longsor di Dusun Situkung, Desa Pandanarum, pada November 2025 menjadi bukti bahwa persoalan longsor bukan semata peristiwa alam, melainkan juga cerminan cara manusia mengelola lingkungannya.

Wilayah Banjarnegara didominasi oleh kawasan berbukit dengan tingkat kemiringan yang cukup tajam. Banyak lereng memiliki sudut lebih dari 20 derajat, kondisi yang secara alami rawan terhadap pergerakan tanah. Kerentanan ini semakin besar karena jenis tanah yang berkembang di wilayah tersebut, seperti Latosol dan Inceptisol, yang mudah kehilangan kekuatan saat menyerap air berlebihan. Ditambah lagi, lapisan batuan vulkanik yang telah mengalami pelapukan membuat kestabilan lereng semakin lemah.

Curah hujan tinggi yang rutin terjadi pada musim penghujan menjadi faktor pemicu utama. Hujan deras yang berlangsung lama menyebabkan tanah menjadi jenuh air, meningkatkan tekanan di dalam lereng, hingga akhirnya tanah tidak mampu lagi menahan beban dan bergerak turun. Namun, faktor alam ini menjadi semakin berbahaya ketika penggunaan lahan tidak memperhatikan daya dukung lingkungan.

Alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian, pembukaan permukiman di lereng curam, serta pembangunan infrastruktur yang memotong kontur bukit telah mengganggu keseimbangan ekosistem. Kondisi tersebut mengurangi kemampuan tanah menyerap air dan mempercepat aliran permukaan, sehingga risiko longsor meningkat tajam. Tidak mengherankan jika sebagian besar wilayah Banjarnegara kini dikategorikan sebagai daerah dengan tingkat kerawanan longsor tinggi, dengan ratusan desa hidup dalam ancaman bencana yang berulang setiap tahun.

Dampak nyata dari kondisi ini terlihat jelas pada tragedi longsor di Situkung. Puluhan rumah tertimbun material tanah dan batu, lahan pertanian rusak, serta puluhan keluarga kehilangan tempat tinggal. Sebanyak 19 korban jiwa berhasil ditemukan, sementara 11 orang lainnya dinyatakan hilang setelah proses pencarian dihentikan. Selain itu, ribuan warga terpaksa mengungsi karena rumah mereka rusak atau berada di wilayah yang dinilai tidak aman.

Berbagai upaya darurat telah dilakukan oleh pemerintah bersama BNPB, BPBD, dan relawan, mulai dari evakuasi korban, penyediaan pengungsian dan layanan kesehatan, penyaluran bantuan logistik, hingga pembangunan hunian sementara. Rencana relokasi juga disiapkan bagi warga yang tinggal di zona dengan tingkat risiko sangat tinggi. Namun, langkah-langkah tersebut seharusnya tidak berhenti pada penanganan pascabencana semata.

Ke depan, pengelolaan ekosistem eksisting perlu ditempatkan sebagai strategi utama pencegahan bencana. Penguatan vegetasi di lereng, perlindungan kawasan hulu, serta perbaikan sistem drainase dan pengelolaan aliran sungai harus dilakukan secara konsisten. Penataan ruang berbasis peta kerawanan longsor juga menjadi keharusan, agar aktivitas pembangunan tidak lagi dilakukan di wilayah yang berbahaya.

Selain itu, pemasangan sistem peringatan dini dan peningkatan kapasitas masyarakat dalam mengenali tanda-tanda longsor sangat penting untuk mengurangi risiko korban jiwa. Kolaborasi antara pemerintah, aparat kebencanaan, dan masyarakat lokal menjadi kunci dalam menciptakan kesiapsiagaan yang berkelanjutan.

Pada akhirnya, bencana longsor di Banjarnegara mengajarkan bahwa kerusakan lingkungan dan lemahnya tata kelola alam akan selalu berujung pada kerugian manusia. Jika pengelolaan ekosistem tidak segera dibenahi, masyarakat akan terus hidup dalam bayang-bayang bencana yang dapat terulang kapan saja. (*)

Oleh : Sekar Antik Larasati, Magister Ilmu Lingkungan, Universitas Jenderal Soedirman

You Might Also Like

Grup WA Kelas Bukan Ruang Penghakiman

Berburu Lailatul Qadr

Pasar Spekulatif dan Batas Rasionalitas Ekonomi

Perempuan, Cantik Aja Nggak Cukup!

Viral, Bisik Indigo Warnai Kisah Longsor di Cibeunying Cilacap

TAGGED:banjarnegaralongsorlongsor banjarnegaraopiniSekar Antik Larasati
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Gadai Mobil Berujung Tipu, Pelaku Diciduk Polisi Banjarnegara
Next Article Ambulans Meluncur ke Sumatera, PDIP Bawa Tenaga Medis

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Waduk Wadaslintang Viral! Konten Peserta Festival STEKOM Tembus 500 Ribu Views

Ketua Pengarah Pelaksana Soekarno Run SOC 2026, Aria Bima, memaparkan prediksi perputaran uang dari event yang ia helat, Minggu (28/6/2026). (bae)

Soekarno Run Dongkrak Ekonomi Solo, Perputaran Uang Ditaksir Tembus Rp5 Miliar

DAPAT MOBIL--Pelari asal Boyolali, Fikri (berkacamata hitam) menerima hadiah mobil listrik secara simbolis di panggung Soekarno Run SOC 2026. (rng)

Doa Orang Tua Antar Fikri Pelari Boyolali Boyong Mobil Listrik di Soekarno Run 2026

PEMER MEDALI--Nava (dua dari kiri) dan koleganya pamer medali usia mengikuti Soekarno Run SOC 2026. (bae)

Kesaksian Wabup Purworejo hingga Pelari Pemula: Soekarno Run 2026 Bikin Ketagihan

OMZET MENINGKAT--Kedai Bunzen Coffee di kawasan Alun-Alun Utara Keraton Surakarta dipenuhi konsumen yang habis ikut Soekarno Run SOC 2026. (bae)

Berkah Soekarno Run 2026: UMKM Solo Ketiban Rezeki, Dagangan Laris Sejak Subuh

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Opini

Demokratisasi Akses Literasi Hukum Sejak Bangku Sekolah Dasar

April 11, 2026
Kabupaten Magelang meluncurkan program angkutan sekolah gratis yang bukan hanya menjawab persoalan transportasi, tapi juga menyentuh aspek keselamatan pelajar, akses pendidikan, dan keberlanjutan angkutan umum.
Opini

Inovasi Pro Rakyat: Kabupaten Magelang Wujudkan Angkutan Pelajar Gratis

September 18, 2025
Armada BPBD Temanggung antar-jemput siswa sekolah di Gemawang.
Info

Jalan Putus Dampak Longsor, BPBD Temanggung Antar-Jemput Siswa Sekolah

Januari 8, 2026
Opini

Belajar dari Venezuela: Melawan Politik Energi Asimetris

Januari 15, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Banjarnegara di Atas Lereng Rapuh: Saatnya Serius Mengelola Ekosistem Sebelum Longsor Kembali Menelan Korban
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?