BACAAJA, SEMARANG – Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Jawa Tengah (PDIP Jateng) lagi di fase reset besar-besaran.
Setelah Pemilu 2024 jadi pukulan telak—kalah di Pilpres dan Pilgub—perhatian publik kini beralih ke formasi baru DPD PDIP Jateng.
Struktur kepengurusan anyar ini langsung dapat sorotan dari pengamat politik Adi Prayitno.
Bacaaja: PDIP Masih Keukeuh: Biar Capek ke TPS, yang Penting Rakyat Ikut Milih
Bacaaja: Banteng Jateng Ganti Nahkoda, Berikut Susunan Pengurus DPD PDIP Jawa Tengah Terbaru
Menurut Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia (PPI) itu, PDIP Jateng sebenarnya masih punya modal kuat buat comeback, apalagi Jawa Tengah tetap dikenal sebagai kandang banteng.
Meski sempat tersandung di kontestasi eksekutif, dominasi PDIP di Pileg 2024 jadi bukti mesin partai belum benar-benar kehilangan tenaga.
“Semua balik lagi ke kerja keras politik menuju 2029,” kata Adi, yang juga merupakan dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Sabtu (28/12/2025).
Perlu diketahui, Dolfie OFP resmi ditetapkan sebagai Ketua DPD PDIP Jateng berdasarkan hasil Konferda yang digelar di Semarang, pada Sabtu (27/12/2025).
Konferda di Hotel Patrajasa Semarang itu dihadiri dan langsung dipimpin oleh Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.
Magnet darah muda dan trah Soekarno
Adi menilai kepengurusan baru PDIP Jateng kali ini punya paket komplit. Di satu sisi ada figur senior seperti Dolfie Othniel Frederic Palit yang sarat pengalaman dan paham betul ritme internal partai.
Di sisi lain, ada suntikan darah muda yang bikin struktur partai terasa lebih segar.
Nama-nama seperti Pinka Haprani dan Kaisar Said Putra disebut sebagai energy booster yang bisa ngedorong semangat baru di tubuh PDIP Jateng.
Tapi dari semua figur muda itu, Adi kasih garis bawah tebal ke Pinka Haprani.
Pinka sebelumnya, sempat digadang sebagai calon kuat Ketua DPD PDIP Jateng, meski akhirnya tak terpilih.
Namun hal ini tak begitu menjadi soal. Kata Adi, di posisi mana pun dalam struktur pengurus DPD, Pinka punya daya tarik politik yang kuat.
Bukan tanpa alasan. Pinka, yang merupakan putri Puan Maharani sekaligus cucu Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, dinilai punya magnet politik alami yang nggak bisa dianggap remeh.
“Di posisi mana pun, Pinka punya daya tarik politik kuat. Ia dianggap mewakili trah Soekarno, dan itu masih sangat berpengaruh di basis pemilih PDIP,” ujar Adi.
Efek nama besar Soekarno, kata Adi, masih relevan sampai hari ini. Bukan cuma soal garis keturunan, tapi juga soal simbol, sejarah, dan kedekatan emosional dengan konstituen PDIP.
Menurut Adi, komposisi PDIP Jateng sekarang menunjukkan keseimbangan yang pas. Kader senior tetap pegang kemudi, sementara kader muda diberi ruang buat tumbuh dan unjuk gigi.
“Senior jalan, anak muda ngegas. Kombinasi ini bikin PDIP Jateng punya peluang besar buat bangkit lagi,” katanya.
Adi menyimpulkan, kepengurusan baru PDIP Jawa Tengah terlihat menjanjikan dan penuh harapan.
Namun, satu hal tetap jadi kunci: semua akan ditentukan oleh waktu, soliditas internal, dan konsistensi kerja politik di lapangan.
Kalau tiga itu jalan bareng, efek comeback PDIP Jateng bukan cuma wacana. (*)

