Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
Reading: Pemerintah Keras Kepala Tak Mau Tetapin Status Bencana Nasional, Muhammadiyah Menggugat!
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
© 2025 Bacaaja.co
Info

Pemerintah Keras Kepala Tak Mau Tetapin Status Bencana Nasional, Muhammadiyah Menggugat!

R. Izra
Last updated: Desember 26, 2025 3:04 pm
By R. Izra
3 Min Read
Share
SHARE

BACAAJA, JAKARTA – Banjir bandang dan longsor yang melibas Sumatra bukan bencana biasa. Skala kerusakannya masif, korbannya ribuan, dan daerah sudah angkat tangan.

Tapi status bencana nasional? Sampai sekarang belum juga ditetapkan. Presiden Prabowo Subianto beserta jajaran pemerintahannya memang keras kepala.

Situasi ini bikin LBH dan Advokasi Publik (LBH AP) PP Muhammadiyah angkat suara.

Bacaaja: Dewan Adat Papua Tolak Kebun Sawit: Ogah Warisin Bencana ke Anak-Cucu

Bacaaja: Prabowo Pengin Papua Jadi Kebun Sawit, Gak Belajar dari Bencana Sumatera?

Mereka mendesak Presiden Prabowo Subianto segera menetapkan darurat nasional atas bencana yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

“Ini bukan lagi soal daerah. Ini darurat nasional,” tegas Sekretaris LBH AP PP Muhammadiyah, Ikhwan Fahrojih, dalam konferensi pers di Gedung Dakwah PP Muhammadiyah, Jakarta, Senin (15/12).

Respons Negara Lelet, Korban Terus Bertambah

LBH AP menilai pemerintah pusat terlalu lamban membaca situasi. Padahal, sejumlah pemerintah daerah sudah terang-terangan mengaku tidak sanggup menangani dampak bencana sendirian.

“Penolakan negara menetapkan darurat nasional justru bikin penanganan tersendat dan berpotensi menambah korban,” kata Ikhwan.

Data BNPB per Jumat (19/12) jadi alarm keras:

  • 1.068 orang meninggal

  • 190 orang hilang

  • Ratusan ribu rumah rusak

  • Banyak wilayah masih terisolasi karena akses jalan dan komunikasi putus

Di lapangan, Muhammadiyah lewat LazisMu dan MDMC menerima laporan langsung dari warga: bantuan terbatas, logistik seret, dan negara belum hadir sepenuhnya.

LBH AP juga menyoroti soal prioritas anggaran negara. Ikhwan menyebut, dalam kondisi darurat seperti ini, negara seharusnya berani menggeser fokus anggaran.

Termasuk, kata dia, Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Kalau perlu, anggaran MBG dialihkan sementara untuk warga terdampak di Sumatra. Ini soal nyawa manusia,” ujarnya blak-blakan.

Tak cuma itu, masalah klasik birokrasi juga kembali muncul. Bantuan kemanusiaan dari luar negeri disebut tertahan di Bea Cukai karena dikenai pajak tinggi.

“Bantuan kemanusiaan dipajaki. Ini ironi di tengah bencana,” tegas Ikhwan.

Bencana Alam Disertai Bencana Kebijakan

LBH AP menolak narasi bahwa ini semata-mata bencana alam. Menurut mereka, banjir bandang dan longsor di Sumatra adalah bencana ekologi—hasil dari kebijakan yang abai pada lingkungan.

Karena itu, Muhammadiyah mendesak:

  • Evaluasi total izin kawasan hutan

  • Moratorium penerbitan izin baru

  • Hentikan kebijakan yang merusak ekosistem

“Ini akibat ulah manusia dan kebijakan negara yang salah arah,” kata Ikhwan.

Ketika ribuan nyawa melayang dan wilayah lumpuh, status darurat nasional bukan sekadar simbol. Itu soal kecepatan, anggaran, dan keberpihakan negara.

Sumatra sudah berteriak. Pertanyaannya sekarang: negara mau dengar, atau tetap bilang situasi terkendali? (*)

You Might Also Like

Prabowo Naikkan Bonus Peraih Emas SEA Games

Tunjangan Rumah DPR Rp50 Juta: Katanya Efisien, Nyatanya Rakyat Masih Ngekos di Hati Sendiri

Raja Otomotif Jateng-DIY Luncurin Veloz Hybrid 300 Jutaan

Mbak Ita Masuk Sidang Vonis Pakai Lurik Merah, Semua Mata Tertuju

Tantangan Besar Target Pajak Rp2.358 Triliun di 2026: DPR Soroti Strategi dan Risiko Industri Rokok

TAGGED:bencana nasionalbencana sumateraheadlinelbh ap muhammadiyahlbh muhammadiyahmenggugatmuhammadiyah
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Pompa Nambah, Jalan Mulus, Banjir Dikejar: Curhat Infrastruktur Wali Kota Semarang
Next Article PAUD Jateng Lagi Naik Daun, Anak-anak Makin Rajin Masuk Sekolah

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Nurul, pria asal pesisir selatan Blitar, mencium sarang tawon vespa peliharaannya.

Kisah Nurul, Pawang Tawon Vespa dari Blitar: Dengungnya seperti Lagu Nostalgia

Langkah Keliru Indonesia Memasuki Perang Orang Lain

Tragedi Kaca Transparan

Ilustrasi tindak pidana suap dan korupsi. (narakita/grafis/tera)

Indonesia Juara Korupsi? IPK Anjlok: Lebih Buruk dari Timor Leste, Kalah Saing di ASEAN

Wali Kota Solo melantik pengurus DPC Gekrafs Surakarta periode 2026–2029, sekaligus peluncuran Project Solo Tourism Directory, Selasa (10/2/2026) malam di Taman Balekambang.

Respati Dorong Gekrafs Jadi Motor Ekonomi Kreatif Solo, Bukan Organisasi Seremonial

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Ekonomi

Trump Turunkan Tarif Bea Masuk Jadi 19 Persen untuk Indonesia, Siapa Untung Siapa Buntung?

Juli 17, 2025
Kabid Humas Polda Jateng Kombes Pol Artanto menjelaskan korban demo ricuh di Pati. (bae)
Daerah

22 Pendemo Pati yang Sempat Diciduk, Akhirnya Pulang Bawa Cerita

Agustus 15, 2025
Sepak Bola

Kluivert Masih Tunggu Tujuh Pemain

Mei 28, 2025
Ilustrasi kebun sawit.
Info

Izin 128.000 Hektare Hutan Papua untuk Sawit Diam-diam Terbit, Masyarakat Adat Murka

Desember 18, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Pemerintah Keras Kepala Tak Mau Tetapin Status Bencana Nasional, Muhammadiyah Menggugat!
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?