Bandung Mawardi, saudagar buku dan pengelola Bilik Literasi. Tinggal di Colomadu, Solo.
“Pangku” di dalam kamus terus-menerus mendapat pemaknaan tambahan. Tahun ini, “Pangku” ada di film bercerita perempuan, duka, dan pengkhianatan.
Kabar tentang film Pangku cepat tersiar di media sosial. Yang sudah menonton lekas memberi pujian. Mereka menemukan keistimewaan dari film garapan Reza Rahadian. Orang yang sedang longgar bisa menyimak ratusan tulisan di media sosial.
Banyak orang memuji ketimbang mengkritik. Pujian kian berlimpah setelah film itu diganjar empat penghargaan di Festival Film Indonesia (FFI) 2025. Kemenangan sudah di genggaman Reza Rahadian. Kita beralih ke nostalgia dan penelusuran ke masa lalu atas judul film itu.
Pada suatu masa, ibu-ibu naik bus membuat keputusan membeli satu tiket. Ia membawa anak yang masih kecil. Pengiritan ongkos dilakukan dengan cara memangku anak. Ibu itu terhitung duduk di satu kursi.
Ibu itu rela capai selama perjalanan. Selama di pangkuan anak biasanya berulah dengan berdiri di atas paha ibu atau main lompat. Pada saat lelah, anak itu tidur. Ibu mengelus atau memijatnya. Pemandangan yang penuh kasih. Apakah yang memangku anak selalu ibu?
“Pangku” mengingatkan pengasuhan. Kita harus membedakan dengan adegan yang ada dalam film. “Pangku” di situ mudah dilihat sebagai berahi. Peristiwa ibu memangku anak tidak hanya dalam bus. Di serambi rumah atau pekarangan, adegan itu membuktikan ibu yang ingin memberi ketenteraman pada anak sekalian mengajarkan beberapa hal melalui omongan dan senandung.
Pada saat ibu menghadiri hajatan sosial-kultural, si anak mendingan dipangku ketimbang membuat keributan atau bergerak semaunya. Apakah pemangku tetap ibu, bukan bapak? Kita kadang melihat bapak yang memangku anak.
Di desa, adegan bakal berubah makna. Kita tidak selalu mengartikan “pangku” dalam kepentingan pengasuhan anak. Pada saat terjadi kematian, orang-orang desa kerja bakti dalam menghormati jenazah. Adegan yang tulus adalah memandikan jenazah dengan air dicampur bunga dan daun. Jenazah dalam pangkuan beberapa orang. Kita boleh mengartikan “pangku” dalam kematian, selain pengasuhan dan berahi.
Judul “Pangku” merangsang kita ikut-ikutan memikirkan tokoh, peristiwa, dan makna. Iseng saja membuka lemari buku, beberapa kamus lekas dibawa ke teras. Berharap kamus-kamus dapat tersentuh sinar matahari. Kamus-kamus lawas itu terlalu lama di lemari. Ia pasti kangen angin dan matahari setelah lama dikurung dalam lemari.
Pembuat film “Pangku” pasti tidak perlu melacak arti Pangku dalam kamus-kamus lama. Mereka mudah mengetahui melalui KBBI edisi daring, bukan edisi cetak yang sangat tebal dan mahal.Aku justru memilih membaca pengertian-pengertian Pangku di kamus “usang” dan menghormati kamus-kamus lama.
Di buku Kitab Arti Logat Melajoe susunan D Iken dan E Harahap terbitan 1916, “Pangkoe” diartikan “riba”. Jangan berpikiran macam-macam sebelum melanjutkan membaca pengertian-pengertian selanjutnya. “Memangkoe” berarti “menaroeh pada ribaan”. Yang ingat omongan lawas mulai mengerti “pangkoe” dan “riba”. Dulu, orang kadang berkata: “Di haribaan ibu”. Perkataan itu menyatakan peristiwa di pangkuan ibu atau dipangku ibu.
Kita simak lagi penjelasan di kamus itu. “Pemangkoe” adalah “orang pendjaga” atau “ganti ajah”. Di urusan politik atau birokrasi, sering terdengar “pemangku kepentingan”. Jadi, birokrasi pun berkaitan dengan “pangku”. Ada pula penjelasan “mangkoeboemi” yang artinya “pemangkoe boemi.” Kita teringat gelar di lakon kekuasaan Jawa. Ada gelar “mangkubumi” dan “mangkunegara”.
Akhirnya kita terbujuk untuk membandingkan penjelasan di kamus lawas yang lain. Kita membuka kamus terbitan 1920 berjudul Baoesastra Melajoe-Djawa garapan R Sasrasoeganda. “Pangkoe” itu “pangkon”. “Memangkoe” bagi orang Jawa dapat disebut “ngembani”.
Selanjutnya, ada “mengkoeboemi” yang diartikan “patihing ratoe”. Kamus lawas ini mengingatkan sikap tubuh dan cara pengasuhan di Jawa. Kita pun mengartikannya dalam kekuasaan tradisonal di Jawa mengenai kedudukan dan sebutan. Dalam Baoesastra Djawi-Indonesia (1949) susunan WJS Poerwadarminta, di situ “pangkoe” yang berarti “ribaan” atau “haribaan”. Penjelasan itu tidak terlalu berbeda dari kamus sebelumnya.
Sekian kamus menjelaskan definisi “pangku” dalam runutan pemaknaan, dari tahun ke tahun. “Pangku” di dalam kamus terus-menerus mendapat pemaknaan tambahan. Tahun ini, “Pangku” ada di film bercerita perempuan, duka, dan pengkhianatan. Kita memberi penghormatan atas “Pangku” di halaman-halaman kamus.(*)
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.


