Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
Reading: “Western Gaze”, “Eastern Gaze”, dan “Single Story” ala Chimamanda Ngozi Adichie
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
© 2025 Bacaaja.co
Opini

“Western Gaze”, “Eastern Gaze”, dan “Single Story” ala Chimamanda Ngozi Adichie

Redaktur Opini
Last updated: November 24, 2025 4:09 pm
By Redaktur Opini
4 Min Read
Share
SHARE

Iksaka Banu adalah penulis prosa, praktisi desain dan periklanan.

“…cerita tunggal yang terus diulang dalam melihat asal usul seseorang atau suatu bangsa, sering kali bisa melahirkan cara pandang klise yang menyesatkan.”

Band Blackened Death Metal ekstrem asal Austria, Belphegor, tampil di hari kedua Rock In Solo 2025, 23 November 2025. Namun, aksi pertama mereka ketika mendarat di Solo adalah … berfoto di depan gerumbul pohon pisang.

Kata mereka, selama ini hanya tahu buah pisang tetapi belum pernah melihat pohon pisang seperti yang kerap mereka lihat di foto-foto tentang negara tropis. Agaknya, bagi mereka berfoto di depan pohon pisang lebih menegaskan petualangan pergi jauh ke “Eastern World” dibandingkan berfoto di depan gedung-gedung bertingkat di Jakarta.

Seorang teman saya dari Belanda, kebalikannya, merasa terkejut ketika tiba di Jakarta dan disambut oleh jalan tol lebar, gedung-gedung menjulang tinggi, LRT (Lintas Raya Terpadu) dan MRT (Moda Raya Terpadu).

Dalam pikirannya, Jakarta atau Indonesia adalah sebuah daerah yang indah permai dengan pantai landai yang dipenuhi jajaran pohon nyiur melambai. Persis seperti lukisan-lukisan Mooi Indie yang dibekukan dalam album sejarah Hindia.

Ini mengingatkan saya kepada Chimamanda Ngozi Adichie, penulis dan ahli poskolonial asal Nigeria, yang suatu kali juga dihadapkan kepada pengalaman “The Western Gaze” alias kebiasaan cara pandang Barat yang menurut ia menggelikan.

Ketika berusia 19 tahun, gadis itu mendapat beasiswa untuk melanjutkan studi di Universitas Pennsylvania, Amerika Serikat. Teman sekamar Ngozi, seorang mahasiswi berkulit putih, takjub melihat wajah, bibir, dan rambut kriwil Ngozi, tetapi lebih takjub lagi setelah mengetahui bahwa Ngozi bisa bicara bahasa Inggris dengan sangat fasih.

“Ia tidak tahu bahwa bahasa nasional kedua di Nigeria adalah bahasa Inggris,” kata Ngozi. “Dan ia semakin frustrasi melihat saya bisa mendendangkan lagu Mariah Carey dengan lancar.”

Ngozi mengenang, “Ia mengira bahwa Nigeria, seperti yang juga menjadi gambaran umum dunia tentang kami, melulu hutan lebat dan kami tinggal di rumah-rumah gubuk mengenakan cawat seperti di film-film Hollywood.”

Nah, tapi tahukah Anda, bahwa kita orang Timur juga punya pandangan stereotype tentang Dunia Barat? Seorang rekan saya yang belum pernah ke luar negeri kebetulan mendapat kesempatan berkunjung untuk suatu acara kesenian di New York, Amerika Serikat.

Gegar budaya yang ia hadapi bukanlah gedung-gedung pencakar langit melainkan para “homeless” alias gembel yang tidur bergelimpangan di depan toko atau di taman. Juga bau pesing dan sampah yang berserakan.

Walau demikian, tentu saja ia memilih berfoto bak pesohor di tempat-tempat yang mewakili “peradaban Barat” seperti Broadway Theater, Wall Street, atau Fifth Avenue yang gilang gemilang.

Mengapa? Karena demikianlah “Dunia Barat” yang telanjur ia hikmati selama ini. Sulit mengubahnya. Persis seperti foto-foto atau kartu pos atau film yang ia saksikan sejak kecil.

“Itulah perlunya mempelajari sejarah yang tidak tunggal,” kata Ngozi. “Menghindarkan kita dari single story, cerita tunggal yang terus diulang dalam melihat asal usul seseorang atau suatu bangsa, sering kali bisa melahirkan cara pandang klise yang menyesatkan.”

 

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

You Might Also Like

Bisakah Kita Bertahan Lebih Lama Ketika Dunia Sudah Semakin Kacau?

Betapa Dekat dan Akrab Warga Bekasi dengan Banjir

Ketika Alam Membalas Tuntas

Lelaki Miskin, Kenapa Lagi?

Rumus Mujarab Menertawakan Kemiskinan dan Lepas dari Jerat Kegilaan

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Ilustrasi TKI. Derita Warga Temanggung, 20 Tahun Kerja di Malaysia Gak Digaji
Next Article Wakil Ketua DPRD Jateng M Saleh bersama sejumlah perangkat desa. Wakil Ketua DPRD Jateng Gelar Turnamen Sepak Bola Perangkat Desa

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Kepala Disbudpar Kota Semarang

Lebaran Monyet di Gua Kreo: Kera Berpesta di Sesaji Rewanda, Wisatawan Ikutan Seru-seruan

Niacinamide Bukan Selalu Jawaban, Ini Tiga Kondisi Stop Dulu

Banjir Brebes Gak Cuma Soal Hujan, Menteri PU: Beresi Muara Dulu

PSIS vs Persipal, Laga Hidup Mati di Jatidiri

Cabai Nempel di Lidah, Cerita Lama Jadi Kebiasaan Baru

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Opini

Semasa Kecil di Sawah

November 25, 2025
Opini

Valuasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan: Jalan Tengah Pembangunan Banjarnegara Maju 2025

September 9, 2025
Opini

Perihal Pajak dan Kekhawatiran Seorang Lelaki Beristri

Februari 19, 2026
Opini

Emas, Imajinasi Global, dan Realitas Nilai Tukar

Februari 16, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: “Western Gaze”, “Eastern Gaze”, dan “Single Story” ala Chimamanda Ngozi Adichie
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?