BACAAJA, BANJARNEGARA – Operasi pencarian korban longsor di Desa Situkung, Kecamatan Pandanarum, Banjarnegara, kembali dilanjutkan . Tim SAR gabungan harus berjibaku di area yang kondisi tanahnya masih gampang amblas, sementara gerakan tanah terus muncul dari sisi tebing yang rapuh.
Di bagian atas lokasi longsor, sebuah kubangan air besar jadi ancaman tambahan. Air yang tertahan itu sewaktu-waktu bisa jebol dan memicu longsor susulan, sehingga tim harus ekstra hati-hati saat bergerak maupun menempatkan alat.
Kepala Basarnas Semarang, Budiono, mengakui bahwa sektor A adalah titik paling berisiko. Kubangan air raksasa membuat area itu seperti bom waktu. Tim terus berusaha mengalirkan air agar volumenya turun dan tidak membebani tanah yang sudah terlalu jenuh.
Untuk mengatasi ancaman tersebut, Basarnas mengerahkan dua unit alkon guna menyedot dan menyemprot air. Harapannya beban tanah bisa berkurang sehingga tim di lapangan lebih aman saat melanjutkan pencarian.
Di sisi lain, persiapan penggunaan alat berat juga terus dilakukan. Budiono menyebut bahwa tujuh unit excavator sudah disiapkan dari BPBD, PU, dan instansi lain. Targetnya, alat berat dapat beroperasi penuh begitu kondisi memungkinkan.
Penggunaan excavator diharapkan bisa membuka akses baru sekaligus menggali titik-titik yang diduga menjadi lokasi tertimbunnya korban. Tim SAR juga terus melakukan pemetaan di lapangan agar pengerjaan alat berat lebih efektif.
Jumlah warga yang dicari juga mengalami penyesuaian. Dari laporan awal sebanyak 27 orang hilang, satu warga ternyata ditemukan selamat di pengungsian. Kini jumlah warga yang masih dicari menjadi 26 orang.
Kondisi pemukiman warga juga terdampak berat. BPBD Banjarnegara mencatat ada 48 rumah yang mengalami kerusakan parah serta tidak lagi bisa dihuni karena tergerus material longsor.
Untuk menampung warga terdampak, pengungsian dibuka di lima lokasi berbeda. Fasilitas tersebut tersebar di kantor KB Kecamatan Pandanarum, GOR Desa Beji, Gedung IPHI Desa Pringamba, Wisma Muhammadiyah Beji, dan rumah keluarga warga yang bersedia menampung.
Di pengungsian, kebutuhan dasar masih terus disalurkan. BPBD merilis daftar kebutuhan mendesak mulai dari popok balita, perlengkapan mandi, pakaian dalam, susu, makanan anak, hingga hygiene kit dan cairan antiseptik.
Perlengkapan rumah tangga sederhana seperti alat tidur, sikat WC, sarung tangan latex tebal, hand sanitizer, hingga regulator kompor gas juga masuk daftar kebutuhan prioritas karena banyak warga mengungsi dalam kondisi nyaris tanpa barang.
Daftar nama 26 warga yang masih dicari juga dirilis untuk memudahkan identifikasi dan pelaporan. Daftar 26 Warga yang Masih Dicari:
-. Saminem
-. Kaswanto
-. Aminah
-. Wanto
-. Kasno
-. Dangseng
-. Faiz
-. Suwi
-. Ny. Tiaryo
-. Watri
-. Marsiah
-. Warjono
-. Soliah
-. Sugiono
-. Maryuni (istri Kaswanto)
-. Susanti
-. Tunem
-. Jonathan
-. Raya
-. Mistri
-. Intan
-. Lipah
-. Sartini
-. Tuwi
-. Tarni Suparyo
-. Esiah
Pencarian korban terus dilakukan dengan menyisir titik-titik yang diperkirakan menjadi pusat tertimbunan material. Kondisi cuaca yang berubah-ubah membuat tim harus menyesuaikan strategi pencarian setiap beberapa jam sekali.
Di lapangan, tim SAR gabungan masih mengandalkan perpaduan alat berat dan pencarian manual. Gerakan tanah yang terus terjadi membuat sebagian area hanya aman diakses oleh personel tertentu dengan alat keselamatan lengkap.
Sementara itu, proses evakuasi korban meninggal juga dilakukan dengan hati-hati. Hingga laporan terakhir, dua korban meninggal telah teridentifikasi, yaitu Luwih dan Darti.
Komunikasi antara posko utama dan tim lapangan dibuat lebih padat sebagai upaya monitoring ancaman longsor susulan. Sensor gerakan tanah terus memantau perubahan struktur di titik rawan.
Warga yang tinggal di sekitar lokasi longsor juga diminta menjaga jarak aman. Aparat memasang garis pembatas dan menyediakan jalur evakuasi cepat apabila ada tanda-tanda pergeseran material.
Di area pengungsian, relawan membantu mendata warga, memfasilitasi kebutuhan medis ringan, serta mengatur distribusi logistik. Beberapa warga mengalami batuk pilek karena cuaca lembap dan dingin.
Meski kondisi masih jauh dari aman, semangat tim SAR tetap tinggi. Mereka bekerja bergantian agar pencarian tetap berjalan tanpa henti, terutama pada area yang diperkirakan menyimpan korban.
BPBD Banjarnegara bersama pemerintah daerah terus memperbaharui informasi dan memastikan seluruh warga terdampak terdata dan mendapatkan bantuan.
Sejumlah instansi relawan juga ikut mendukung, baik dari sisi logistik, peralatan, maupun tenaga lapangan. Kehadiran mereka membantu mempercepat berbagai keperluan teknis di posko.
Sementara itu, sebagian keluarga korban memilih menetap di area pengungsian untuk memonitor perkembangan pencarian. Mereka berharap kabar pasti mengenai anggota keluarga yang hilang.
Kondisi tanah yang labil membuat jadwal pengerjaan alat berat tidak bisa berjalan penuh. Operator alat harus menunggu momen tertentu saat tanah tidak terlalu bergerak.
Tim geologi juga dikerahkan untuk menganalisis struktur tanah dan memberikan rekomendasi teknis agar operasi berlangsung aman. Rekomendasi ini menjadi dasar penempatan excavator dan jalur pergerakan tim.
Meski penuh risiko, operasi pencarian tetap menjadi prioritas utama. Pihak berwenang menegaskan tidak akan menghentikan pencarian sampai seluruh korban ditemukan.
Pemerintah daerah juga mulai memikirkan langkah pemulihan jangka panjang. Penanganan psikososial, perbaikan rumah warga, dan relokasi menjadi bagian dari rencana lanjutan.
Di tengah situasi sulit, gotong royong antarwarga kembali terlihat. Mereka membantu mengantar logistik, menyiapkan dapur umum, hingga mendukung keluarga korban yang masih menunggu kabar.
Harapan terbesar kini tertuju pada stabilnya kondisi tanah agar pencarian bisa lebih maksimal. Semua pihak berharap cuaca bersahabat dan tidak menambah risiko longsor baru. (*)

