BACAAJA, KARANGANYAR- Upaya mempercepat penanggulangan tuberkulosis (TBC) di Jateng bakal digenjot dari fasilitas kesehatan tingkat dasar.
Sebanyak 884 puskesmas di Jateng akan dilengkapi alat diagnostik TBC. Dukungan tersebut diberikan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk memperkuat penemuan kasus secara aktif.
Sekda Jateng, Sumarno mengapresiasi dukungan tersebut. Menurutnya, ketersediaan alat pemeriksaan menjadi modal penting untuk mempercepat penemuan warga yang terinfeksi TBC.
Hal itu disampaikan Sumarno saat membuka Monitoring dan Evaluasi Active Case Finding (ACF) TBC Provinsi Jawa Tengah di Anaya Azana Villa & Resort Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Senin (28/9/2026).
Baca juga: Campak Mulai “Ngintip”, Jateng Gas Imunisasi
Sumarno mengatakan penanganan TBC nantinya juga diperkuat dengan melibatkan kader di tingkat desa. “Di masing-masing desa nanti juga ada kader berdasarkan kasus. Operasional dari Kementerian Kesehatan,” ujar Sumarno.
Menurutnya, kolaborasi tersebut dapat membantu mempercepat penemuan kasus. Namun, pekerjaan rumahnya bukan hanya mencari dan mengobati orang yang sudah terjangkit.
Orang-orang yang punya kontak erat dengan pasien TBC juga perlu ditelusuri. Kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri pun menjadi bagian penting agar penularan bisa ditekan. Artinya, ketika ada satu pasien ditemukan, pencarian tidak berhenti di satu nama. Orang-orang di sekitarnya juga perlu diperiksa.
Wakil Menteri Kesehatan, Benjamin Paulus Octavianus mengatakan, monitoring dan evaluasi dilakukan untuk melihat perkembangan program pemberantasan TBC sekaligus mengetahui bagian yang masih perlu diperbaiki.
“Kita memonitor selama beberapa bulan ini apa yang telah dikerjakan dan melihat perkembangannya. Kita melihat apa yang masih kurang dan kita saling mengisi,” kata Benjamin.
Aspek Pencegahan
Ia menjelaskan, penanggulangan TBC saat ini tidak hanya berfokus pada pengobatan. Aspek pencegahan juga diperkuat, salah satunya dengan memeriksa masyarakat yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC.
Pemeriksaan dapat dilakukan melalui Cek Kesehatan Gratis (CKG) dan pemeriksaan menggunakan X-ray. Dengan cara tersebut, kasus diharapkan bisa ditemukan lebih awal.
Masyarakat yang membutuhkan obat pencegahan dapat segera ditangani, sedangkan mereka yang sudah sakit bisa langsung mendapatkan pengobatan.
“Untuk pengobatan sudah bagus. Kita sekarang mengejar di pencegahan. Masyarakat yang kontak erat dilakukan CKG dengan X-ray,” jelasnya.
Benjamin menambahkan, khusus Jateng seluruh puskesmas akan mendapatkan alat diagnostik TBC. Total ada 884 puskesmas yang akan menerima peralatan tersebut mulai bulan depan.
Kehadiran alat ini diharapkan memperkuat program active case finding sekaligus mempercepat penemuan dan penanganan TBC hingga tingkat pelayanan kesehatan dasar.
Baca juga: Lawan TBC, Pemprov Gas Kolaborasi
Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Menteri Dalam Negeri, Akhmad Wiyagus serta jajaran Dinas Kesehatan dari sejumlah provinsi, di antaranya DIY, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Pada kesempatan yang sama juga dicanangkan Desa/Kelurahan Siaga TB di Jawa Tengah.
Jadi, perang melawan TBC kali ini bukan cuma soal mengobati yang sudah sakit. Dengan alat baru dan pelacakan kontak yang lebih aktif, targetnya sederhana: kasus ditemukan lebih cepat, sebelum masalahnya keburu jalan-jalan ke mana-mana. (tebe)

