BACAAJA, JAKARTA – Kabar soal data pribadi warga Amerika Serikat dan Kanada yang beredar di dark web bikin geger. Jumlahnya bukan sedikit, ada klaim lebih dari 153 juta data Surat Izin Mengemudi (SIM) yang ditawarkan untuk dijual oleh sebuah situs bernama Nexus.
Kasus ini mencuat setelah pakar keamanan siber sekaligus jurnalis independen Brian Krebs menemukan penawaran tersebut. Yang bikin situasinya makin serius, sejumlah pemilik SIM yang datanya muncul di situs itu mengaku dokumen yang ditampilkan memang milik mereka.
FBI pun tak tinggal diam. Biro Investigasi Federal Amerika Serikat menyatakan tengah menindaklanjuti laporan tersebut, meski belum memastikan apakah seluruh 153 juta data SIM yang diklaim Nexus benar-benar berasal dari pencurian.
Laporan mengenai keberadaan data tersebut pertama kali diungkap Krebs melalui blog Krebs on Security. Reuters kemudian melaporkan temuan itu pada 2 September 2026.
Krebs menemukan Nexus setelah situs tersebut dipromosikan lewat sebuah forum kejahatan siber berbahasa Rusia. Dalam promosinya, pengelola situs bahkan menawarkan data SIM milik Krebs sendiri sebagai sampel gratis.
Tak berhenti di situ, Krebs mencoba mengecek apakah data yang ditawarkan benar-benar valid. Ia menghubungi sedikitnya sembilan orang yang SIM-nya tercantum dalam database Nexus.
Hasilnya cukup bikin merinding. Kesembilan orang tersebut mengonfirmasi bahwa dokumen yang dipajang di Nexus merupakan SIM asli mereka.
Selain data SIM, Nexus juga disebut menawarkan jutaan kartu identitas serta berbagai dokumen perjalanan. Situs itu bahkan dikabarkan memiliki ratusan ribu rekam medis yang ikut ditawarkan.
FBI kemudian menyatakan sedang menangani laporan terkait dugaan kebocoran tersebut. Namun, lembaga penegak hukum AS itu belum mau membuka detail lebih jauh karena penyelidikan masih berjalan.
FBI juga belum mengonfirmasi bahwa seluruh 153 juta SIM yang disebut-sebut tersedia di Nexus memang telah dicuri. Artinya, angka tersebut untuk sementara masih sebatas klaim dari pihak yang mengoperasikan situs tersebut.
Peneliti ancaman siber dari perusahaan keamanan Infoblox, Zach Edwards, menilai skala kasus ini sangat besar. Menurut dia, kejadian semacam ini belum pernah terlihat dalam ukuran sebesar itu jika dikaitkan dengan kebocoran data SIM.
Edwards juga menemukan data SIM miliknya sendiri dalam daftar yang ditawarkan Nexus. Ia memperingatkan, jika situs tersebut benar-benar terus mendapatkan data baru, dampaknya bisa jauh lebih serius.
Terlebih, data SIM bukan sekadar nomor identitas. Informasi di dalamnya bisa menjadi bahan bagi pelaku kejahatan untuk melakukan penipuan, pencurian identitas, hingga berbagai aksi kriminal lainnya.
Kekhawatiran makin besar karena database Nexus disebut tampak diperbarui secara real time. Kondisi itu memunculkan dugaan bahwa data yang dijual bukan cuma hasil kebocoran lama, tetapi mungkin masih terus mengalir dari sumber tertentu.
Meski begitu, asal muasal data tersebut sampai sekarang belum terungkap. Krebs menduga salah satu kemungkinan sumbernya adalah perusahaan penyedia layanan verifikasi identitas IDScan.net yang berbasis di Louisiana.
IDScan.net diketahui menyediakan layanan verifikasi identitas bagi sejumlah organisasi besar. Perusahaan tersebut mengatakan kepada Krebs bahwa mereka sedang menyelidiki persoalan tersebut.
Reuters juga telah meminta tanggapan IDScan.net terkait dugaan kebocoran itu. Namun, perusahaan tersebut belum memberikan jawaban atas sejumlah permintaan komentar.
Di tengah penyelidikan yang masih berlangsung, Nexus justru mendadak menghilang dari dark web. Situs yang sebelumnya menawarkan tumpukan data SIM tersebut dilaporkan sudah tidak bisa diakses tidak lama setelah laporan Krebs dipublikasikan.
Hilangnya situs tersebut belum otomatis menjawab pertanyaan besar soal sumber data. FBI dan pihak terkait masih harus mengurai dari mana informasi itu berasal, bagaimana data bisa terkumpul, serta apakah masih ada data baru yang berpotensi bocor.
Jika klaim 153 juta data tersebut terbukti benar, kasus ini bisa menjadi salah satu kebocoran data identitas terbesar yang pernah mencuat. Dampaknya pun berpotensi panjang karena informasi SIM dapat berkaitan langsung dengan identitas seseorang.
Untuk saat ini, penyelidikan FBI masih berjalan. Publik pun masih menunggu kepastian apakah angka 153 juta itu benar-benar mencerminkan jumlah data yang dicuri atau hanya klaim untuk menarik perhatian di pasar gelap digital. (*)

