BACAAJA, SEMARANG– Bahasa Inggris bukan cuma modal buat ngobrol sama bule atau bikin caption LinkedIn kelihatan keren. Kalau dipakai dengan benar, kemampuan ini bisa jadi senjata untuk menyuarakan gagasan, mengkritisi persoalan, bahkan memimpin perubahan. Inilah semangat yang dibawa English Speech Contest di Kota Semarang.
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng mendorong pelajar mengasah literasi sekaligus kemampuan berbicara lewat kompetisi bertema “Young Voices for Justice, Humanity, and Future Leadership”. Kegiatan yang melibatkan 150 pelajar itu diawali dengan workshop di Universitas Stikubank (Unisbank) Semarang, belum lama ini.
Baca juga: Pelajar Boleh Ikut Demonstrasi, Peradi SAI Semarang Ingatkan Perlunya Paham Aturan Main
Bagi Agustina, literasi bukan sekadar rajin membaca atau menumpuk informasi. Pelajar juga perlu mampu memilah informasi, berpikir kritis, lalu menyampaikan pendapat dengan alasan yang masuk akal.
“Literasi menjadi bekal bagi pelajar untuk memahami berbagai persoalan dan mengembangkan cara berpikir kritis. Melalui English Speech Contest, pelajar juga belajar menyampaikan gagasan secara terstruktur, percaya diri, dan bertanggung jawab,” ujarnya.
Tahapan Kontes
Lewat Dinas Arsip dan Perpustakaan, Pemkot Semarang mengemas kegiatan ini dalam beberapa tahap. Peserta harus mengirimkan video pidato berbahasa Inggris paling lambat Jumat (23/10), dengan menyertakan tagar #escaarpus2026.
Dari seluruh peserta, juri Fakultas Bahasa Unisbank akan memilih 10 finalis. Nama-nama yang lolos dijadwalkan diumumkan Minggu (25/10), sebelum tampil langsung di babak final di Balai Kota Semarang pada Selasa (27/10).
Di babak penentuan, peserta tak cukup hanya bermodal aksen keren. Penguasaan materi, kekuatan argumentasi, pelafalan, hingga kepercayaan diri saat berbicara di depan audiens ikut menjadi perhatian. Dari 10 finalis, enam peserta akan ditetapkan sebagai juara.
Baca juga: Pelajar Juara Lomba Resensi Buku Koleksi Perpusda Banjarnegara Terima Penghargaan
Workshop membekali peserta dengan teknik public speaking, penyusunan argumen, pelafalan, intonasi, ekspresi, dan bahasa tubuh. Mereka juga mendapat materi tentang hukum, etika, kepemimpinan, serta pengembangan karakter yang relevan dengan tema lomba.
Harapannya, pelajar Semarang tak hanya berani bicara dalam bahasa Inggris, tetapi juga punya isi ketika menyampaikan pendapat. Sebab, kefasihan berbicara bakal lebih berarti jika dibarengi wawasan dan kemampuan memahami persoalan.
Pada akhirnya, dunia tak kekurangan orang yang lancar bicara. Yang masih perlu diperbanyak adalah mereka yang mampu membedakan fakta dari asumsi, berani menyampaikan kebenaran, dan tak mendadak kehilangan suara saat berhadapan dengan persoalan nyata. Jangan sampai pidatonya sudah go international, tetapi kepedulian sosialnya masih tersangkut di ruang kelas. (tebe)

