BACAAJA, SEMARANG- Kebijakan work from home (WFH) untuk ASN memang terlihat menghemat energi di kantor. Tapi di balik itu, ada potensi beban listrik justru pindah ke rumah.
Dosen Rekayasa Infrastruktur dan Lingkungan Soegijapranata Catholic University (SCU) Semarang, Amrizarois Ismail bilang, penghematan itu tidak sepenuhnya murni. Ada pergeseran konsumsi yang perlu diperhatikan.
WFH itu bukan meliburkan, tapi memindahkan tempat kerja. Saat ASN tidak ke kantor, penggunaan listrik kantor memang turun. Gadget, lampu, hingga pendingin ruangan tidak dipakai selama jam kerja.
Baca juga: Jumat WFH, Dinas Dipangkas, ASN Jateng Diajak Lebih “Hemat Mode”
Tapi di rumah, kondisinya berbeda. Aktivitas kerja tetap berjalan, hanya lokasinya yang berubah. Laptop tetap menyala berjam-jam. Lampu, kipas angin, bahkan AC di rumah bisa hidup lebih lama dari biasanya.
“Artinya energi yang kita kurangi di kantor, sebagian pindah ke rumah,” ujarnya, Selasa (7/4/2026). Selain listrik, ada juga perubahan pola konsumsi harian. Di kantor, pengeluaran cenderung terbatas.
Produksi Sampah
Sementara di rumah, akses ke makanan lebih mudah. Kulkas selalu tersedia, stok makanan lebih banyak, dan konsumsi bisa meningkat. Dampaknya bukan cuma ke listrik, tapi juga ke produksi sampah. Sisa makanan dan kemasan bisa bertambah.
Padahal, sektor sampah juga berkontribusi terhadap emisi karbon. Jadi, ada efek lanjutan yang sering luput dari perhatian. Amrizarois menyebut kondisi ini sebagai pergeseran beban energi. Bukan benar-benar penghematan total. Jadi tidak efisien murni, lebih ke pemindahan energi dari kantor ke rumah.
Baca juga: Pemprov: Jumat Boleh WFH, Kecuali Eselon 1 dan 2
Kalau dibandingkan, WFH memang lebih efektif menekan konsumsi BBM. Karena mobilitas berkurang drastis. Tapi untuk listrik dan konsumsi rumah tangga, hasilnya cenderung imbang. Bahkan dalam beberapa kasus, bisa terasa lebih boros.
Jadi, kalau listrik kantor mati tapi meteran rumah makin ngebut, mungkin yang hemat cuma gedungnya, bukan energinya. (bae)


