BACAAJA, SEMARANG – Pola perekrutan terorisme makin ke sini makin rapi. Semua serba online, tanpa tatap muka. Pelaku dan korban bahkan nggak saling kenal.
Juru Bicara Densus 88 AKBP Mayndra Eka Wardhana menjelaslan, biasanya mainnya dimulai dari ruang publik digital.
Propaganda disebar lewat platform terbuka seperti Facebook, Instagram, sampai game online. Isinya halus, dibungkus mimpi dan narasi heroik.
Bacaaja: Hati-Hati! Jaringan Terorisme Sasar Anak-anak Lewat Game Online
Bacaaja: BNPT dan Ancaman Terorisme: Sudah Siapkah Kita di Era Serba Digital?
“Platform umum ini akan menyebarkan dulu visi-visi utopia yang mungkin bagi anak-anak bisa mewadahi fantasi mereka sehingga mereka tertarik,” jelas Mayndra dalam laman resmi kepolisian beberapa waktu lalu.
Kalau sudah ada yang terpancing, baru digiring pelan-pelan. Dari kolom komentar, lanjut ke grup, lalu masuk ruang yang lebih tertutup. Di situlah proses indoktrinasi dimulai serius.
“Anak-anak dibikin tertarik dulu, kemudian mengikuti grup, kemudian diarahkan kepada grup yang lebih privat. Di situlah proses-proses indoktrinasi berlangsung,” kata Mayndra.
Berdasarkan data, tahun 2025 kurang lebih ada 110 anak yang teridentifikasi terpapar terorisme.
Anak-anak yang terlanjur terpapar tak ditinggalkan sendirian. Penanganannya dilakukan bareng Kementerian PPPA, KPAI, Kemensos, dan lembaga terkait lainnya. Fokusnya pemulihan, bukan penghukuman.
Sementara itu, Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Trunoyudo Wisnu Andiko menyebut kerentanan anak datang dari banyak arah. Mulai dari bullying, keluarga yang retak, minim perhatian, sampai krisis identitas.
Ada pula sebab lain yang bikin mereka rentan. “Minimnya literasi digital dan pemahaman agama,” ujarnya.
Intinya, terorisme gaya baru tak lagi datang dengan teriakan. Ia masuk pelan-pelan, lewat layar, like, dan grup privat. Dan anak-anak jadi sasaran paling rawan. (bae)


