BACAAJA, SEMARANG- Situasi dunia yang makin panas ikut membawa dampak ke dalam negeri. Konflik global, perang tak langsung, sampai tarik-menarik kepentingan negara besar membuat isu terorisme kembali dipakai sebagai alat.
Pengamat terorisme, Syamsul Ma’arif menilai, dalam kondisi geopolitik yang tidak stabil, terorisme tak lagi berdiri sendiri. Ia sering dimanfaatkan sebagai bagian dari strategi besar untuk mengganggu ketahanan sebuah negara.
Baca juga: Orang Tua Hati-hati, Anak Sedang Dalam Fase Ini Jadi Sasaran Empuk Jaringan Terorisme
“Dalam situasi proxy war dan geopolitik dunia yang sangat fluktuatif, wacana terorisme sangat potensial digunakan untuk merekrut dan memfasilitasi tindakan inkonstitusional untuk melemahkan sebuah negara,” kata Syamsul, Rabu (7/1/2026).
Menurut Guru Besar UIN Walisongo itu, pola ini tidak selalu muncul dalam bentuk serangan fisik. Justru banyak bergerak di ruang abu-abu, lewat propaganda, ideologi, dan pembentukan cara berpikir.
Sasaran Terorisme
Sasaran utamanya adalah kelompok rentan, terutama anak-anak dan generasi muda. Mereka dianggap mudah dipengaruhi dan bisa digerakkan tanpa sadar sedang masuk dalam skema yang lebih besar.
Narasi yang dipakai pun beragam. Ada yang dibungkus isu perlawanan, identitas, sampai pembenaran kekerasan dengan alasan tertentu. Di era digital, narasi itu menyebar cepat lewat media sosial, gim, dan komunitas daring.
Syamsul menegaskan, terorisme model baru ini berbahaya karena bekerja perlahan. Bukan menghancurkan dari luar, tapi menggerogoti dari dalam dengan membentuk pola pikir yang menormalisasi kekerasan dan kebencian.
Baca juga: Hati-Hati! Jaringan Terorisme Sasar Anak-anak Lewat Game Online
Karena itu, ia menilai pencegahan tidak cukup hanya lewat penindakan hukum. Negara perlu memperkuat ketahanan ideologi, literasi digital, dan peran keluarga serta lingkungan.
Jika tidak diantisipasi sejak dini, isu terorisme bisa terus dipakai sebagai alat politik global. Dampaknya bukan hanya soal keamanan, tapi juga masa depan generasi muda dan stabilitas bangsa. (bae)

