BACAAJA, SEMARANG — Pemerintah lagi nyiapin langkah baru di sektor energi: mengganti Liquified Petroleum Gas (LPG) dengan Dimethyl Ether (DME) buat kebutuhan harian, termasuk masak. Tujuannya bukan cuma buat ngurangin impor LPG, tapi juga karena DME dianggap lebih ramah lingkungan.
Gas alternatif ini disebut gampang terurai di udara, nggak merusak ozon, dan berpotensi menekan gas rumah kaca sampai sekitar 20 persen. Rencananya, proses peralihan dari LPG ke DME bakal mulai tahun ini.
Tapi, ada PR besar yang nggak boleh dilewatkan: sosialisasi ke masyarakat.
Bacaaja: Dampak Banjir Pemalang, M Saleh: Pemulihan Pendidikan Nggak Boleh Nunggu Lama
Bacaaja: Survei IPI: Ganjar Masuk Tiga Besar Kandidat Capres 2029, Ada Nama Baru Masuk Radar
Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Mohammad Saleh, mengingatkan kalau perubahan ini bukan hal kecil. Soalnya, masyarakat sudah lama banget bergantung sama LPG.
“Sosialisasi kepada masyarakat sangat dibutuhkan karena terjadi perubahan kebiasaan. Seperti sebelumnya ketika LPG hadir menghapus penggunaan minyak tanah,” ujar Saleh.
Menurut politisi Golkar itu, informasi yang jelas bakal bikin masyarakat lebih tenang dan nggak panik saat kebijakan energi baru ini dijalankan.
“Ketika program pemerintah dijalankan, masyarakat sudah lebih siap menghadapi dan menerima kebijakan energi baru itu serta beradaptasi,” lanjutnya.

Kenapa harus ganti? Alasannya cukup simpel: Indonesia masih terlalu bergantung pada impor LPG.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya mengungkapkan konsumsi LPG nasional tembus sekitar 10 juta metrik ton per tahun. Masalahnya, produksi dalam negeri baru sekitar 1,6 juta metrik ton. Artinya? Indonesia masih harus impor sekitar 8,4 juta metrik ton — angka yang jelas bikin devisa negara terkuras.
Sebagai solusi, pemerintah mendorong hilirisasi batu bara lewat produksi DME, terutama dari batu bara kalori rendah.
Bisa langsung dipakai, tanpa ganti tabung dan kompor
Kabar baiknya, karakter DME mirip LPG, baik secara kimia maupun fisika. Jadi infrastrukturnya nggak perlu dibangun dari nol. Tabung gas, storage, sampai sistem distribusi yang ada sekarang masih bisa dipakai.
Bahkan, campuran 20 persen DME dan 80 persen LPG sudah bisa digunakan di kompor gas yang ada di rumah.
Meski begitu, ada sedikit perbedaan soal energi panas.
- DME: 7.749 Kcal/Kg
- LPG: 12.076 Kcal/Kg
Tapi karena massa jenis DME lebih tinggi, perbandingan kalorinya kira-kira 1 banding 1,6 dengan LPG.
Plus, nyala api DME disebut lebih biru dan stabil, nggak menghasilkan partikulat matter (PM) dan NOx, serta bebas sulfur.
Harga bisa jadi penentu pilihan
Selain sosialisasi, Saleh juga menekankan satu hal yang biasanya paling sensitif buat masyarakat: harga.
“Untuk menarik perhatian masyarakat agar mau berpindah dari LPG ke DME, maka harga DME diupayakan harus lebih murah dari LPG,” tegasnya.
Kalau lebih ramah lingkungan tapi lebih mahal, siap-siap aja bakal susah diterima publik.
Intinya, peralihan energi memang kelihatan keren di atas kertas. Tapi tanpa edukasi yang masif dan harga yang masuk akal, kebijakan ini bisa jadi tantangan baru.
Pertanyaannya sekarang: masyarakat bakal siap move on dari LPG, atau malah butuh waktu lebih lama buat adaptasi? (*)


