BACAAJA, JAKARTA – Kalimat “Jangankan benar, salah pun kita bela!” yang diucapkan Wakil Ketua Umum AMPI Arief Rosyid sukses bikin jagat media sosial panas.
Banyak yang langsung nyamber, menilai pernyataan itu berbahaya dan anti-kritik. Tapi Arief akhirnya buka suara: kalimat itu bukan asal lempar, tapi sadar konteks.
Arief negesin, ia mengeluarkan kalimat itu dalam kesadaran penuh.
Bacaaja: Banyak Motor Warga Mogok setelah Isi Pertalite, Gara-gara Bahlil?
Bacaaja: Ssst…Ternyata Menteri Bahlil Pernah Busung Lapar
Mantan Ketua Umum PB HMI itu menjelaskan, pernyataan yang viral itu disampaikan dalam acara bedah bukunya berjudul ‘Yang Golkar Golkar Aja’ (YGGA).
Buku tersebut, kata dia, adalah refleksi personal soal pilihannya berkiprah di Partai Golkar—bukan ajakan membenarkan kesalahan secara membabi buta.
“Pernyataan itu saya sampaikan dengan kesadaran penuh,” ujar Arief, Senin (5/1).
Menurut Arief, kalimat kontroversial itu harus dibaca dalam konteks etika berorganisasi. Di ruang publik, kader punya kewajiban menjaga marwah ketua umum, dalam hal ini Bahlil Lahadalia. Tapi bukan berarti kritik dimatikan.
“Di publik kita bela kehormatannya, tapi di dalam organisasi kita ingatkan. Dan Bang Bahlil adalah senior yang terbuka terhadap masukan,” tegasnya.
Dengan kata lain: loyalitas ke luar, koreksi ke dalam. Bukan tutup mata, tapi beda arena, beda cara.
Arief, yang juga mantan Ketua Umum PB HMI periode 2013–2015, menyebut Bahlil sebagai figur yang membuka pintu politik bagi banyak aktivis. Dari gerakan mahasiswa ke panggung kekuasaan, jalurnya nggak selalu ramah.
“Bang Bahlil, suka tidak suka, sudah jadi pembuka jalan. Bukan cuma buat saya, tapi banyak aktivis lain untuk ikut berkontribusi,” katanya.
Arief pun menegaskan, pernyataannya bukan ajakan untuk membela kesalahan, tapi gambaran soliditas organisasi yang tetap menyisakan ruang kritik di dalam.
Di tengah budaya viral yang serba cepat, klarifikasi ini jadi pengingat: nggak semua quote berdiri sendirian—konteks tetap nomor satu.


