BACAAJA, JAKARTA — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sejak awal udah dipromosikan sebagai game changer-nya Prabowo Subianto–Gibran Rakabuming Raka.
Targetnya? Ngeri-ngeri sedap. 2025: 19,47 juta penerima. 2026: melonjak jadi 82,9 juta orang.
Ambisi setinggi langit. Tapi begitu ngomongin duit, ceritanya mulai bikin mikir.
Bacaaja: Kata Prabowo Hanya Kurang 0,01 Persen Lagi MBG Jadi Program yang Sempurna
Bacaaja: MBG ‘Ngerampok’ 70 Persen Anggaran Pendidikan, JPPI Siapkan Gugatan ke MK
Di 2025, MBG dikasih modal Rp71 triliun. Setahun kemudian? Plot twist. Anggarannya melonjak hampir lima kali lipat jadi Rp335 triliun.
Yes, kamu nggak salah baca. Tiga ratus tiga puluh lima triliun rupiah. MBG resmi masuk klub program negara paling mahal.
Masalahnya, duit segede itu nggak diiringi transparansi yang sepadan.
Setelah lebih dari 10 bulan jalan, mulai kelihatan retaknya. Rincian anggaran susah dilacak, regulasi disusun tertutup, sampai data Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang nggak gampang diakses publik.
Padahal, ini duit negara. Duit rakyat semua. Tapi publik justru susah ikut ngawasin.
MBG akhirnya kayak kotak misteri: isinya banyak, nilainya mahal, tapi nggak jelas detailnya.
Nguntungin Prabowo dan lingkar kekuasannya
Masalahnya nggak cuma teknis. Yang bikin alis makin naik, MBG disebut rawan jadi ladang patronase politik.
Indonesia Corruption Watch (ICW) melakukan penelusuran dan menemukan dugaan keterlibatan Politically Exposed Persons (PEPs) dalam pelaksanaan MBG. Dari hasil penelusuran itu, muncul pola yang bikin waswas.
Yayasan pengelola SPPG ternyata punya irisan dengan partai politik, tim pemenangan, pendukung Prabowo maupun Jokowi, unsur militer, sampai aparat penegak hukum.
Singkatnya: yang ngelola bukan orang sembarangan, tapi orang-orang dekat lingkar kekuasaan. Soal distribusi sumber daya jadi pertanyaan. Siapa dapat proyek, siapa dapat jatah, siapa makin loyal.
Menurut ICW MBG berpotensi berubah dari program sosial jadi alat konsolidasi politik. Anak-anak dijadikan wajah program, tapi keuntungan politiknya bisa jatuh ke elite.
Dan di titik ini, pertanyaannya simpel tapi nyelekit: MBG ini buat ngisi perut anak-anak, atau buat ngenyangin jaringan kekuasaan?
Tanpa transparansi dan pengawasan serius, program segede MBG bukan cuma rawan bocor. Yang rugi bukan cuma negara, tapi generasi yang sejak awal dijanjikan masa depan lebih sehat, bukan politik yang makin kenyang.
Prabowo sentil yang kritik MBG
Presiden Prabowo Subianto nyentil siapa pun yang melayangkan kritik terhadap MBG. Ia menyebut ada “orang-orang pintar” yang selama ini nyinyir dan meragukan program unggulannya.
“Banyak pakar bilang MBG bakal gagal, tapi kita buktikan, MBG berhasil,” kata Prabowo saat retret Kabinet Merah Putih jilid dua di Hambalang, Bogor, Selasa (6/1/2026).
Dalam kesempatan itu, diputar video anak-anak di daerah yang tunggu kebagian jatah program MBG. Menurut Prabowo, video tersebut jadi bukti kalau MBG bukan cuma wacana elite, tapi benar-benar dinantikan rakyat. (*)


