BACAAJA, JAKARTA — Kehadiran AI di dunia pendidikan memang bikin banyak hal jadi lebih praktis. Namun, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie mengingatkan agar teknologi tidak sampai mengambil alih peran manusia dalam proses belajar dan mengajar.
Menurut Stella, AI boleh dipakai untuk membantu pekerjaan teknis, tetapi keputusan dan penilaian tetap harus berada di tangan manusia. Kemampuan teknologi yang makin canggih justru perlu diimbangi dengan kemampuan berpikir mandiri, bukan membuat siswa semakin bergantung.
Pesan itu disampaikan Stella saat menghadiri 9th Annual Convention Perkumpulan Sekolah Satuan Pendidikan Kerjasama (SPK) Indonesia di SIS North East Jakarta. Ia menilai batas antara memanfaatkan teknologi dan mengalami ketergantungan kognitif harus tetap dijaga.
“AI punya kelebihan dalam hal teknis, seperti menyimpan informasi dan membuat program, tapi tidak bisa menggantikan manusia dalam hal penilaian dan keputusan,” kata Stella dalam keterangannya, Selasa (6/10/2026).
Kegiatan tersebut berlangsung pada 30 September hingga 2 Oktober 2026. Salah satu pembahasan utama dalam konvensi adalah bagaimana sekolah memanfaatkan AI tanpa membuat teknologi justru mengambil alih proses berpikir peserta didik.
Stella menilai kemampuan kognitif siswa harus tetap menjadi perhatian utama. Penggunaan AI seharusnya membantu mereka memahami persoalan, mencari ide, dan memperkaya proses belajar, bukan sekadar menghasilkan jawaban secara instan.
Pandangan serupa disampaikan Head of School SIS North East Jakarta, Anjali Virmani. Menurutnya, siswa perlu memahami posisi AI sebagai alat bantu yang bisa digunakan secara cerdas.
“AI adalah keniscayaan. Pesan utama kami kepada siswa adalah gunakan AI untuk membantu memperkaya ide, bukan untuk menggantikan proses berpikir mandiri,” ujar Anjali.
Dengan kata lain, siswa tetap harus menjadi pihak yang berpikir dan mengambil keputusan. AI cukup ditempatkan sebagai partner yang membantu proses tersebut, bukan menjadi mesin yang mengerjakan semuanya dari awal sampai akhir.
Pembahasan soal teknologi juga tidak berhenti pada AI. Konvensi SPK Indonesia turut menyoroti pentingnya menjaga identitas dan karakter bangsa di tengah penerapan kurikulum internasional.
Sekolah SPK merupakan satuan pendidikan di Indonesia yang menjalankan kurikulum internasional melalui kerja sama dengan Lembaga Pendidikan Asing (LPA). Meski membawa standar pendidikan global, sekolah tetap dinilai perlu memastikan peserta didik tidak tercerabut dari nilai-nilai lokal.
Ketua Panitia Konvensi IX SPK Indonesia, Rutdiana, mengatakan pendidikan karakter harus tetap mendapat porsi kuat. Menurutnya, siswa perlu memiliki identitas serta pemahaman terhadap nilai luhur bangsa.
“Anak-anak perlu memperoleh pendidikan karakter yang kuat untuk menunjukkan identitas dan nilai luhur bangsa,” kata Rutdiana.
Ia berharap hasil konvensi tidak berhenti menjadi diskusi di ruang pertemuan. Para pemimpin sekolah diharapkan membawa pulang gagasan yang bisa langsung diterapkan untuk memperbaiki proses pendidikan di sekolah masing-masing.
Ketua Perkumpulan SPK Indonesia, Fitriyanti Ie, juga menilai wawasan kebangsaan punya peran penting di tengah derasnya pengaruh budaya global. Hal tersebut berlaku bagi peserta didik Indonesia maupun siswa berkewarganegaraan asing yang menempuh pendidikan di sekolah SPK.
Menurut Fitriyanti, pemahaman terhadap budaya Indonesia bisa menjadi semacam filter ketika siswa berhadapan dengan beragam pengaruh dari luar. Identitas budaya pun diharapkan tetap melekat meski mereka mendapatkan pendidikan dengan standar internasional.
Di sisi lain, Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal Kemendikdasmen Gogot Suharwoto mengingatkan agar kebijakan pendidikan tidak dibuat hanya karena sedang mengikuti tren.
Menurut Gogot, setiap metode pembelajaran perlu diuji berdasarkan bukti dan data penelitian. Dengan begitu, sekolah tidak sekadar ikut-ikutan menggunakan teknologi atau metode baru tanpa mengetahui apakah benar-benar memberikan dampak positif bagi siswa.
“Kita harus menggunakan bukti sains dan data untuk menentukan metode pendidikan apa yang sungguh-sungguh memberikan hasil, bukan sebatas tren semata,” ujar Gogot.
Ia juga menekankan bahwa secanggih apa pun teknologi yang digunakan, guru tetap punya posisi penting di ruang kelas. Keberhasilan penerapan berbagai inovasi pendidikan pada akhirnya sangat bergantung pada bagaimana guru menggunakannya dalam proses belajar.
Konvensi tersebut dihadiri perwakilan dari sekitar 500 sekolah anggota SPK Indonesia. Forum itu menyimpulkan bahwa kemajuan teknologi dan standar pendidikan internasional tetap perlu berjalan beriringan dengan penguatan nalar kritis serta identitas kebangsaan siswa.
Bagi dunia pendidikan, tantangannya bukan lagi soal menerima atau menolak AI. Yang lebih penting adalah memastikan teknologi dipakai untuk membuat manusia semakin mampu berpikir, bukan malah membuat manusia berhenti berpikir. (*)

