BACAAJA, SEMARANG- Pemkot Semarang lagi ngebut beresin PR terbesar tiap musim hujan: banjir yang suka nongol tanpa diundang. Usai ngelihat efek banjir 23 Oktober-5 November kemarin, BPBD langsung tancap gas bikin strategi biar Kaligawe dan sekitarnya nggak “tenggelam mood”-nya tiap turun hujan.
Kepala BPBD Kota Semarang, Endro Pudyo Martantono, bilang fokus pertama yang lagi dikebut adalah memperkuat sodetan Unissula supaya aliran air lancar, nggak numpuk, dan nggak bikin warga Kaligawe jadi langganan drama banjir.
Dalam 1-3 bulan ke depan, BPBD ngegas lima jurus cepat yakni, percepat penguatan sodetan Unissula, rapihin drainase plus tambah pompa gede dan pompa cadangan, perkuat early warning system via sirine, SMS blast, dan kanal resmi Pemkot, stok logistik darurat, dari sembako sampai selimut serta tata cepat wilayah rawan, termasuk nertibin galian liar dan bangunan penghambat aliran sungai.
Empat Langkah
Sementara buat dua minggu ke depan, ada empat langkah kilat, pembersihan sedimentasi, perbaikan jalan dan saluran, bikin posko cepat tanggap per kecamatan, sampai mengaktifkan tim monitoring cuaca yang standby 24 jam non-stop.
Endro juga ngaku Pemkot butuh sokongan pemerintah pusat buat ngebut recovery: mulai dari tambahan pompa, genset, program OMC, pembangunan tanggul laut, sampai dana tak terduga dan dana rehabilitasi.
Banjir akhir Oktober kemarin nyapu 20 kelurahan dan bikin 63.400 jiwa terdampak serta empat warga meninggal. Penyebabnya lengkap, hujan ekstrem, drainase mampet, pasang tinggi, sampai sungai yang alirannya kehambat. “Ya harapannya, kejadian kayak gini bisa makin jarang lewat kolaborasi semua level pemerintahan,” tutup Endro.
Kalau semua sodetan, pompa, dan sistem peringatan dini ini bener-bener jalan, mungkin banjir di Semarang bisa diajak move on. Tapi… kalau masih ada yang buang sampah sembarangan, ya siap-siap banjirnya balik lagi buat reuni tahunan. (tebe)


