BACAAJA, JAKARTA – Nama Siti Mawarni beberapa hari terakhir bikin jagat maya ramai. Bukan karena sosok seleb baru atau drama percintaan viral, melainkan judul lagu ciptaan Amin Wahyudi Harahap, musisi asal Labuhanbatu, Sumatera Utara, yang mendadak berseliweran di Instagram, TikTok, Threads, sampai status WhatsApp.
Lagu ini cepat menanjak karena nadanya mudah menempel di kepala, tapi yang paling bikin orang berhenti scroll adalah isi liriknya. Di balik irama sederhana, tersimpan pesan sosial yang cukup tajam tentang keresahan masyarakat terhadap maraknya narkoba.
Popularitas lagu itu bahkan membuat nama Siti Mawarni sempat masuk pencarian teratas Google Trends. Banyak orang penasaran, siapa sebenarnya Siti Mawarni, dan kenapa namanya mendadak dibicarakan di mana-mana.
Setelah ditelusuri, publik baru sadar bahwa Siti Mawarni bukan orang sungguhan. Nama itu hanyalah karakter fiktif yang dipakai Amin untuk membangun cerita dalam lirik lagunya. Namun justru dari nama itulah rasa penasaran publik meledak.
Lagu tersebut tidak hadir sebagai hiburan kosong. Amin memakai musik sebagai medium untuk menyuarakan kegelisahan soal narkotika yang menurutnya terus menghantui wilayah Sumatera Utara dan banyak daerah lain.
Dengan gaya bahasa yang lugas, lirik lagu ini terasa seperti suara hati masyarakat. Tidak berputar-putar, tidak dibuat terlalu puitis, tapi langsung menampar kenyataan yang selama ini dianggap biasa.
Di tengah viralnya lagu itu, perhatian publik kemudian bergeser ke satu pertanyaan lain. Bagaimana tanggapan aparat, khususnya Polda Sumatera Utara, terhadap lagu yang membawa kritik sosial seperti ini?
Respons yang muncul ternyata cukup mengejutkan. Kabid Humas Polda Sumut Kombes Pol Ferry Walintukan menyampaikan bahwa pihaknya justru melihat lagu tersebut dari sisi positif, bukan sebagai sindiran negatif.
Menurut Ferry, kepolisian tidak merasa tersinggung oleh isi lirik yang ramai dibahas masyarakat. Sebaliknya, lagu itu dianggap sebagai bentuk perhatian warga terhadap persoalan narkoba yang memang harus terus diperangi.
Ia menyebut karya seperti ini bisa dibaca sebagai dukungan moral dari masyarakat. Artinya, publik masih peduli dan berharap upaya pemberantasan narkoba dilakukan lebih serius dan berkelanjutan.
Sikap terbuka itu mendapat respons baik dari banyak netizen. Di tengah iklim media sosial yang gampang panas, jawaban santai dan dewasa dari aparat dianggap menenangkan suasana.
Polda Sumut juga menegaskan komitmen untuk terus memburu jaringan narkotika. Menurut mereka, persoalan ini memang menjadi ancaman serius yang butuh kerja sama semua pihak, bukan hanya penegak hukum.
Karena itu, karya seni yang menyuarakan keresahan warga dinilai bisa menjadi cermin kondisi di lapangan. Dari lagu, polisi bisa membaca apa yang sedang dirasakan masyarakat di akar rumput.
Fenomena ini membuat Siti Mawarni berubah status. Ia bukan lagi sekadar lagu viral yang enak dipakai backsound video, tetapi ikut menjadi simbol keresahan sosial yang ramai diperbincangkan.
Musik kembali membuktikan kekuatannya sebagai alat komunikasi publik. Kadang kritik yang disampaikan lewat lagu justru lebih cepat sampai ke telinga banyak orang dibanding pidato panjang atau diskusi resmi.
Sementara itu, Amin Wahyudi Harahap menjelaskan bahwa nama Siti Mawarni sengaja dipilih karena bernuansa lokal dan dekat dengan budaya Melayu di daerah asalnya. Ia ingin nama itu terasa membumi dan mudah diingat.
Awalnya, ia sempat mempertimbangkan nama lain. Namun akhirnya dipilihlah Siti Mawarni karena dianggap lebih cocok dengan ritme lagu sekaligus lebih dekat dengan identitas daerah.
Amin juga mengaku mempertimbangkan sisi etika. Ia tidak ingin membawa nama tokoh besar dalam Islam ke dalam lagu yang bertema narkoba, sehingga memilih karakter fiktif sebagai jalan tengah.
Dari pengakuannya, lagu ini lahir dari keresahan pribadi sebagai warga sekaligus orang tua. Ia takut generasi muda, termasuk anak-anaknya, hidup di lingkungan yang terus dibayangi narkotika.
Keresahan itu rupanya relate dengan banyak orang. Karena itulah lagu ini cepat diterima publik. Pendengar merasa isi liriknya bukan sekadar kata-kata, tetapi suara yang selama ini sulit mereka sampaikan.
Kini Siti Mawarni jadi bukti bahwa karya sederhana bisa punya gaung besar jika jujur dan menyentuh masalah nyata. Dan ketika Polda Sumut memilih merespons positif, lagu ini terasa makin kuat sebagai jembatan antara suara rakyat dan pemangku kebijakan. (*)

