BACAAJA, SEMARANG- Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Mohammad Saleh menegaskan kalau seni dan budaya bukan pajangan museum. Di Sanggar Rompok Seni Brotosejati, Kelurahan Pakintelan, Gunungpati, ia menyebut seni budaya sebagai fondasi penting dalam membentuk karakter generasi muda sekaligus identitas bangsa.
Menurut Saleh, seni itu punya cara unik buat “menasihati” tanpa harus menggurui. Contohnya cerita wayang. Di balik lakon dan tokohnya, terselip pelajaran soal keberanian, kesetiaan, sampai pengorbanan, nilai yang relevan banget di tengah hidup yang makin ribet.
“Wayang itu bukan cuma cerita, tapi pelajaran hidup. Dari situ anak muda bisa belajar bersikap lebih bijak menghadapi kompleksitas zaman,” kata Saleh.
Baca juga: Wakil Ketua DPRD M Saleh Dorong Jateng Gaspol Fasilitasi Ekosistem Industri Hijau
Acara bertajuk Membangun Karakter Bangsa dengan Seni Budaya ini juga menghadirkan anggota Komisi E DPRD Jateng, Dipa Yustia Pasa, dengan Widodo sebagai moderator. Hadir pula anggota DPRD Kota Semarang Anang Budi Utomo, perwakilan Pemprov Jateng, Kesbangpol, komunitas seni, hingga warga umum yang masih percaya seni punya masa depan.
Butuh Kolaborasi
Saleh menekankan, menjaga seni dan budaya bukan kerja satu pihak. Perlu kolaborasi lintas sektor, eksekutif, legislatif, swasta, sanggar seni, sampai pelaku budaya supaya generasi muda nggak cuma jadi penonton, tapi ikut main di panggung kebudayaan. “Kalau mau budaya kita nggak kalah sama zaman, ya harus barengan. Semua punya peran, nggak bisa solo,” ujarnya.
Acara makin hidup dengan berbagai pertunjukan seni dari komunitas seni Semarang. Saleh pun mengaku bangga melihat banyak anak muda masih mau menari, tampil, dan berkesenian di tengah gempuran budaya instan. “Selama masih ada anak-anak muda yang mau berkesenian, kita masih punya harapan. Artinya budaya kita belum habis,” ungkap lelaki yang juga Ketua DPD Golkar Jateng ini.

Baca juga: M Saleh Minta Pemprov Jateng Gaspol Kembangkan Ekonomi Kreatif
Selain dialog dan pertunjukan, kegiatan ini juga jadi ajang Saleh menyerap aspirasi langsung dari para seniman. Ia menilai sinergi antara DPRD Jateng dan pelaku seni penting agar kebijakan budaya tidak berhenti di atas kertas. “Kalau nilai budaya dijaga dan diwariskan, generasi berikutnya nggak cuma dapat konten, tapi juga karakter,” tandasnya.
Jadi mungkin masalah karakter bangsa bukan karena kurang seminar, tapi karena kita kebanyakan skip seni. Kalau wayang, tari, dan tradisi diberi panggung yang layak, siapa tahu bangsa ini nggak perlu lagi diingatkan, cukup bercermin dari budayanya sendiri. (tebe)


