BACAAJA, SALATIGA– Kolaborasi antara pemerintah dan komunitas santri makin serius. Pemprov Jateng resmi menggandeng Santri Gayeng Nusantara (SGN) untuk kerja bareng di empat sektor: pendidikan, kesehatan, sosial, dan ekonomi.
Wakil Gubernur Jateng, Taj Yasin Maimoen bilang, kolaborasi ini nggak boleh setengah-setengah. Harus lebih masif dan diperluas ke berbagai daerah. “Kolaborasi harus kita buka dan dikembangkan, khususnya dengan Pemprov Jateng,” ujarnya saat acara halalbihalal di Pondok Pesantren Agro Nuur El-Falah, Salatiga, Sabtu (4/4/2026).
Baca juga: Ratusan Hafiz Terima Tali Asih dari Pemprov Jateng, Setiap Santri Dapat Rp1 Juta
Di sektor pendidikan, kerja sama sebenarnya sudah jalan. Program beasiswa santri dan pengasuh pesantren jadi salah satu contoh. Pemerintah nyiapin programnya, sementara SGN ikut bantu sosialisasi dan menjaring peserta.
Masuk ke sektor kesehatan, kolaborasi juga nggak kalah aktif. Ada program cek kesehatan gratis (CKG) sampai layanan Speling, alias dokter spesialis keliling yang langsung nyentuh masyarakat. Kalau di bidang sosial, SGN disebut selalu hadir saat bencana datang. Sementara di sektor ekonomi, kolaborasinya lebih variatif dan langsung terasa di lapangan.
Mengatasi Kemiskinan
Mulai dari peternakan kambing sistem bagi hasil di Pati, kemitraan penjualan gas elpiji di Brebes bareng Pertamina, hingga usaha ternak bebek dan pertanian bawang merah di Banyumas. Bahkan di Banjarnegara, ada juga yang fokus di pengolahan pakan lele. “SGN di 35 kabupaten/kota harus ikut bantu, termasuk dalam mengatasi kemiskinan,” tegas Taj Yasin.
Sementara itu, Ketua Umum SGN Jateng, Chamzah Hasan menyebut, organisasinya siap all out mendukung program pemerintah daerah. Menurutnya, ini momentum karena Jateng saat ini dipimpin tokoh dari kalangan santri, yakni Wakil Gubernur Taj Yasin yang juga dikenal sebagai Gus Yasin.
Baca juga: Nawal Ajak Santri Nempel Terus Sama Alquran
“Ini tanggung jawab kita bersama. Kita sukseskan pembangunan Jawa Tengah,” katanya. Dengan jumlah anggota yang disebut mencapai 500 ribu santri, SGN punya modal besar untuk ikut menggerakkan program-program di lapangan.
Kolaborasi sudah digaungkan, potensi sudah besar, jumlah santri juga bukan main. Tinggal satu yang sering jadi ujian klasik: gerakan masif di atas kertas… apakah bisa sama kencangnya saat sampai di lapangan? (tebe)


