DI Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Demak, menanam mangrove sudah jadi rutinitas. Tiap bulan, warga turun ke pesisir, nancapin bibit satu per satu di lumpur. Bukan acara seremonial, tapi kerja sunyi supaya kampung mereka nggak cepat habis dimakan abrasi.
Desa seluas 7,39 kilometer persegi tersebut memang terancam tenggelam. Isinya tinggal sisa-sisa. Dari tujuh dusun di dua sudah habis ditelan rob. Warga Dusun Bedono nggak mau kondisinya tambah parah.
Mangrove ditanam di sekitar permukiman, di titik-titik yang tiap tahun makin tergerus. Ada yang mati, ditanam lagi. Ada yang tumbang, disulam lagi. Di sini, berhenti berarti kalah cepat dari laut.
Baca juga: Soal Rob Sayung, Taj Yasin Sebut Pemerintah Akan Bangun Tanggul Laut
Aksi itu makin rapi sejak 2022. Enam warga Dusun Bedono sepakat bikin kelompok bernama Bumi Hijau. Belakangan namanya berkembang jadi Bumi Hijau Sekolah Pesisir karena jadi tempat belajar mahasiswa.
Kegiatan kelompok ini tampak sederhana tapi konsisten. Hampir tiap malam mereka ngisi tanah ke polybag. Ada yang datang habis kerja, ada yang nyempil sebelum istirahat. Nggak ada target proyek, yang penting bibit siap tanam.
Mereka punya misi nyelametin kampung dari abrasi. Kini upaya mereka bukan hanya untuk kampung, tapi demi lindungi pesisir Pantura.
Nanam Rutin
Fokus utama kelompok ini ya pembibitan dan penanaman mangrove. Setiap bulan, rata-rata mereka nanam sekitar ratusan bibit. “Tiap bulan sekali kami penanaman 500 bibit,” cerita Saiful Rohman, salah satu punggawa Kelompok Bumi Hijau, saat saya temui, Kamis (25/12/2025).
Mangrove yang banyak dipilih jenis bongko. “Akarnya gede-gede, lebih kuat kena ombak,” ujar Saiful. Adaptasinya cepat dan gampang dibibit. Di polybag tiga bulan sudah keluar daun.
Kadang mahasiswa dan organisasi lingkungan bantu menanam. Kelompok Bumi Hijau istilahnya juga jual bibit yang mau ditanam. Tapi biasanya kalau ditanam di kampung sini pasti dilebihin banyak. “Belum lama mahasiswa Undip beli 120 bibit, kami kasih 500 bibit (mangrove),” tutur Saiful.
Soal hasil, dia jujur. Sekitar 20 persen bibit yang ditanam biasanya mati. Tapi itu sudah dihitung dari awal. “Yang mati ya kita suplai lagi,” kata Saiful. Sejak 2022, total mangrove yang ditanam hampir 25 ribu. Luasannya belum satu blok utuh, masih nyebar di beberapa titik. Perkiraannya sekitar 1,5 hektare.
Baca juga: Pemprov Jateng Perbanyak Pompa di Pantura Sayung, Efektif Tangani Rob?
Saiful juga nggak lebay soal mangrove. “Mangrove itu dibilang mencegah ya nggak juga. Kena ombak gede ya bisa roboh,” ujarnya. Tapi setidaknya, mangrove bisa memperlambat abrasi biar nggak langsung nyamber kampung.
Abrasi di Bedono datang tiap tahun. Tahun lalu, daratan terkikis sampai 10-15 meter. Tahun ini berkurang, sekitar 5 meter. Selain mangrove, rumpon buatan warga juga bantu proses sedimentasi.
Kelompok Bumi Hijau Sekolah Pesisir juga rutin keliling tiap minggu. Ngecek mangrove yang mati, lihat pertumbuhan, lalu nyulam lagi. Kerjanya pelan, tapi terus. Ke depan, mimpi mereka masih panjang. Kelompok ini menargetkan bisa menggarap sekitar 3 hektare lahan untuk ditanami mangrove. Nggak instan, tapi pelan-pelan. (bae)


